Utama  

Makam Tua Angku Gunung Nago jadi Sorotan, UNAND Diminta Teliti Sejarah Si Nago

Padang, Rakyat Sumbar— Keberadaan makam tua yang dikenal masyarakat sebagai makam Angku Gunung Nago atau Si Nago di kawasan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mendorong desakan agar sejarah dan identitas tokoh tersebut diteliti secara akademis.

Makam yang selama ini dirawat masyarakat secara turun-temurun itu disebut memiliki cerita panjang yang berkaitan dengan sejarah, tradisi keagamaan, serta kehidupan sosial masyarakat Gunung Nago. Namun, hingga kini belum terdapat dokumentasi sejarah yang secara jelas mengungkap identitas, masa hidup, maupun kiprah tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut.

Masyarakat setempat mengenang Si Nago sebagai sosok yang memiliki kesaktian. Namun, cerita tersebut masih berada dalam ranah tutur lisan dan kepercayaan masyarakat, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memisahkan fakta sejarah dari legenda.

Cerita yang berkembang menyebut Angku Gunung Nago berasal dari Nagari Solok Salayo dan kemudian melakukan perjalanan hingga menetap di kawasan Lambung Bukik. Kawasan yang kini dikenal sebagai Gunuang Nago juga disebut dalam cerita masyarakat pernah memiliki nama Sianik, yang dikaitkan dengan tumbuhan yang tumbuh di kawasan tersebut.

Ramlan Tuanku Guru, Direktur Tiang Putih Institut, menilai keberadaan makam tersebut penting untuk diteliti agar sejarah tokoh yang selama ini hanya diwariskan secara lisan tidak hilang.

«”Siapa beliau, apa jasa-jasa beliau, dari mana asalnya, kapan datang — semua ini perlu digali. Agar diketahui bukan hanya warga sini, tapi seluruh generasi mendatang. Jangan biarkan cerita ini hilang.”»

Menurut Ramlan, penelitian tidak semata-mata diarahkan untuk membuktikan cerita mengenai kesaktian Si Nago. Penelitian diperlukan untuk mengetahui sejarah sebenarnya, termasuk asal-usul tokoh, perjalanan hidup, serta hubungan antara Si Nago dengan kawasan Gunung Nago.

Ia mendorong Universitas Andalas bersama pemerintah melakukan penelitian terhadap makam dan sejarah kawasan tersebut.

Kesaksian Warga

Keberadaan makam tersebut juga diperkuat oleh kesaksian warga yang telah berusia lanjut.

Januardi Iwan, 85 tahun, mengatakan dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan makam tersebut dibuat. Namun, berdasarkan ingatannya, makam itu telah ada sejak ia masih kecil.

«”Tahun berapa dibuatnya saya tidak tahu. Yang jelas, sejak nenek moyang kami, makam ini sudah ada dan sudah diziarahi. Sejak saya kecil, bentuknya pun sudah seperti ini.”»

Januardi juga mengingat adanya tradisi masyarakat yang datang berziarah menjelang musim panen padi.

Menurut penuturannya, masyarakat bahkan datang dari daerah lain, termasuk Payakumbuh. Mereka berjalan beriringan menuju kawasan makam dengan membawa sedekah berupa beras, padi dan kebutuhan lainnya.

Dalam tradisi tersebut, nama Mak Nur disebut sebagai salah seorang yang menjadi perantara kegiatan masyarakat.

Sementara itu, Emak Tini, 65 tahun, warga yang sehari-hari berladang di sekitar kawasan Gunung Nago, mengatakan makam tersebut telah dikenalnya sejak kecil.

«”Sejak saya kecil, makam ini sudah ada di sini. Orang tua kami sudah mengajarkan untuk menghormati dan menjaganya. Dulu, sekarang, sampai nanti — tempat ini sudah ada dari zaman dulu, dijaga turun-temurun.”»

Emak Tini mengakui masyarakat belum mengetahui secara pasti identitas orang yang dimakamkan di lokasi tersebut.

«”Kami belum tahu siapa persisnya yang dimakamkan, tapi kami tahu ini tempat yang mulia dan keramat bagi kami semua.”»

Antara Sejarah dan Legenda

Cerita mengenai kesaktian Angku Gunung Nago selama ini berkembang melalui cerita turun-temurun.

Namun, belum terdapat bukti tertulis maupun penelitian arkeologis yang terdokumentasi yang dapat membuktikan klaim tersebut.

Karena itu, kisah kesaktian Si Nago masih perlu ditempatkan sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Penelitian akademis dinilai penting untuk mengetahui apakah terdapat bukti lain yang dapat menjelaskan identitas tokoh tersebut, seperti batu nisan, ranji keluarga, tambo, catatan surau, arsip keagamaan maupun dokumen sejarah dari Solok Salayo dan Lambung Bukik.

Sejarah Kawasan Gunung Nago

Kawasan Gunung Nago sendiri memiliki sejarah sosial yang lebih luas.

Sungai dan bendungan irigasi di kawasan tersebut pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Selain mendukung aktivitas pertanian, kawasan sungai juga dikenal sebagai tempat rekreasi masyarakat.

Sebelum mengalami berbagai perubahan akibat perkembangan kawasan dan bencana, pemandian Gunung Nago ramai dikunjungi keluarga dan mahasiswa. Kawasan tersebut juga menjadi salah satu lokasi masyarakat melakukan tradisi Balimau menjelang Ramadan.

Keberadaan makam tua menjadi salah satu bagian dari memori sejarah kawasan tersebut.

Masyarakat menilai ancaman terhadap warisan tersebut bukan hanya kerusakan fisik makam, tetapi juga hilangnya cerita dari generasi tua yang selama ini menjadi sumber sejarah lisan.

Perlu Dokumentasi dan Penelitian

Untuk mengungkap sejarah Angku Gunung Nago, sejumlah aspek dinilai perlu ditelusuri, mulai dari asal-usul tokoh, hubungan dengan Solok Salayo, silsilah keluarga, sejarah surau dan tarekat, hingga kondisi makam dan nisan.

Penelitian juga dapat melibatkan kajian sejarah, antropologi, arkeologi dan tradisi lisan.

Dengan demikian, cerita mengenai Angku Gunung Nago dapat ditempatkan secara lebih jelas: mana yang merupakan fakta sejarah, mana kesaksian masyarakat, dan mana yang berkembang sebagai legenda.

Bagi masyarakat Lambung Bukik, makam tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif yang selama ini dijaga turun-temurun.

Kini, masyarakat berharap penelitian dapat dilakukan sebelum generasi yang mengetahui cerita tentang makam tersebut semakin berkurang.

Sebab makamnya masih ada, tetapi sejarah orang yang dimakamkan di dalamnya perlahan mulai menjadi pertanyaan. (fwi)