27/11/2022
Beranda » Lebaran di Masa Pandemi

Lebaran di Masa Pandemi

Oleh: Anggi Aulia Desmarinda

Idul Fitri sudah di depan mata,  tanda-tanda Covid-19 sirna belum juga terlihat. Ramadan dan Lebaran kali ini terasa beda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berbagai tradisi perayaan  Idul Fitri yang biasanya diberi kebebasan, kali ini dibatasi. Menteri Agama mengeluarkan Surat Edaran Menteri Agama Nomor: SE.6 Tahun 2020 Tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di Tengah Pandemi Wabah Covid-19, mengacu kepada keputusan presiden. Sejumlah tempat meniadakan salat Id.

Umat muslim mana yang tidak berduka,   tidak bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar di hari yang Fitri. Apalagi kebiasaan ini adalah salah satu tradisi turun temurun yang sudah mendarah daging. Menurut Pengamat Sejarah JJ Rizal,  lebaran merupakan peristiwa sejarah dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun di masyarakat.  Saat pandemi seperti ini diperlukan pendekatan khusus agar mereka bisa memahami situasinya.

Pendekatan  berupa pendekatan dari sisi struktural kebudayaan di setiap wilayah. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengertian kepada masyarakat untuk tetap di rumah dan bersilahturahmi dari rumah saja. (www.nasional.sindonews.com)

Tidak mudah menghentikan kebiasaan yang  sudah menjadi tradisi wajib saat lebaran karena  bagi umat Muslim, Idul Fitri adalah hari yang sangat istimewa. Ada dua peristiwa yang terkandung di dalamnya. Secara spiritual, Idul Fitri diartikan sebagai momentum kemenangan  setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah puasa dengan menahan haus, lapar dan segala hal yang membatalkan puasa. Umat Islam berupaya mengendalikan diri baik fisik maupun hati untuk terhindar dari dosa, sehingga Idul Fitri  wujud kemenangan melawan hal-hal tersebut dan kembali menjadi “suci”  bak bayi baru lahir, tak dosa.

Di sisi lain, dengan telah berpuasa menahan haus dan lapar juga memberikan implikasi sosial. Hal ini mengajarkan orang-orang kaya untuk mengerti akan derita yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang tidak mampu jika tidak makan dan minum. Begitupun sebaliknya, bagi muslim yang kurang beruntung dari segi ekonomi meningkatkan kesabaran dan ketabahannya di tengah kemiskinan yang melilitnya dan mengharapkan pertolongan Allah SWT. Menjelang  Idul Fitri, umat Islam diperintahkan  menunaikan zakat fitrah agar semua orang merasakan kegembiraan Hari Raya.

Tradisi Minangkabau

Di Minangkabau, ada satu tradisi turun temurun di Hari Raya Idul Fitri, yaitu Manjalang Mintuo. Manjalang Mintuo ini dapat diartikan dengan mendatangi/berkunjung ke rumah mertua oleh menantu perempuan.

Manjalang mintuo, selain merupakan bentuk penghormatan dan bakti kepada orang tua, juga dijadikan ajang mempererat silaturahmi antara menantu dan mertua serta keluarga besar sang suami. Manjalang mintuo tidak hanya datang ke rumah untuk berkunjung dan saling bermaafan, namun biasanya juga “Baboban” (membawa buah tangan). Boban yang dimaksudkan di sini biasanya berupa makanan khas Minangkabau. Di Payakumbuh, boban tersebut dibawa dalam sebuah rantang yang berisi Randang, pisang, kemudian cemilan khas berupa Lamang, pindik dan lain sebagainya.

Dalam Islam, menjalin silaturahmi adalah salah satu cara mewujudkan ukhwah Islamiyah. Dalam sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan H.R Bukhari Muslim disebutkan bahwa “Siapa yang suka untuk diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (www.iberita.id, Hikmah Menyambung Silaturahmi). Apalagi, sesuai sistem kekerabatan Minangkau yang menganut matrilineal, seorang anak laki-laki yang sudah menikah biasanya tinggal di rumah istri. Tentu, tradisi silaturahmi Manjalang Mintuo ini sangat penting untuk dilestarikan.

Lebaran tahun lalu, penulis juga turut melestarikan tradisi ini. Beruntung saat Pandemi  Covid-19 ini, penulis tinggal bersama mertua, jadi tentu tidak perlu repot-repot memikirkan untuk Manjalang Mintuo. Heheheh. Namun, bagaimana dengan minantu-minantu perempuan lainnya di Minangkabau? Bagaimana silaturahmi ini dapat dilakukan di tengah physical distancing dan social distancing ini.

Menurut penulis, tradisi Manjalang Mintuo di Minangkabau ini masih terus bisa dijalankan di tengah Pandemi.  Bentuknya saja yang  berbeda. Biasanya para menantu ini akan datang berkunjung dan berkumpul di rumah mertua, namun kali ini hanya dengan memanfaatkan media komunikasi saja. Para anak dan menantu tentu masih bisa berkomunikasi baik via telephone maupun whatshap dengan orang tua dan mertuanya.

Dewasa ini juga banyak aplikasi-aplikasi digital yang menawarkan fasilitas video call yang bisa kita gunakan untuk bertatap muka secara online. Jika memang, alat komunikasi kita belum terlalu canggih, cukup via telfon. Saya rasa, setiap orang sudah memiliki alat ini untuk berkomunikasi, karena jika kita kembali ke “ruh” dan tujuan awal dari Manjalang Mintuo ini adalah silaturahmi, yaitu dengan berkomunikasi. Hal ini tentu sudah terwujud walaupun tidak bertemu langsung.

Kemudian, mengenai boban atau rantang makanan yang dibawa oleh minantu ini, menurut penulis sang minantu bisa tetap memberikan kepada mertua tercinta dengan menggunakan layanan kurir. Jika masih dalam jangkauan, tentu bisa menggunakan ojek online atau taksi online. Jika tidak, jasa-jasa pengiriman barang lainnya juga bisa menjadi alternatif, seperti JNE, JT Ekspres, Lion Parcel dan jasa pengiriman lainnya. Jasa-jasa pengiriman tersebut, rasanya juga sudah mempunyai standar kebijakan agar paket berupa makanan yang dikirimkan tetap aman selama dalam perjalanan.

Penulis sendiri juga sempat menggunakan jasa pengiriman kue lebaran beberapa waktu yang lalu ke Lampung. Alhamdulillah aman sampai tujuan. Selain itu, tetap mesti diperhatikan dan dipilih makanan khas yang tidak cepat basi. Namun, jika khawatir makanan tersebut akan rusak, bisa diganti dengan parcel lebaran atau uang tunai. Itu menurut penulis.

Selain itu, pandemic covid-19 ini sebenarnya juga mengajarkan kita akan pentingnya silaturahmi. Manjalang Mintuo, baik anak maupun menantu hendaknya jangan dilakukan 1 kali setahun disaat lebaran saja namun sebaiknya juga diagendakan dihari-hari lainnya. Misalkan 1 kali dalam sebulan, 1 kali dalam 3 atau 6 bulan. Sehingga, disaat terjadi wabah seperti ini, rasa “rindu” itu tidak terlalu memuncak menembus akal fikiran untuk nekat “pulang” atau Manjalang Mintuo di tengah phisycal distancing dan social distancing yang diterapkan pemerintah. Semoga lebaran tahun ini tidak merubah arti silaturahmi yang sesungguhnya. Terus berharap wabah segera berlalu. Allah Maha Pengasih Penyayang. (*)

*Penulis adalah peserta Pelatihan Menulis di Bengkel Literasi Rakyat Sumbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.