19/08/2022
Beranda » Laut Bungus Hijau, Ini Kata Peneliti LIPI dan KKP

Laut Bungus Hijau, Ini Kata Peneliti LIPI dan KKP

Jangan Konsumsi Ikan Area Terpapar

Padang, Rakyat Sumbar — Laut di kawasan perairan Pantai Bungus, Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) tiba-tiba mengalami perubahan warna air laut ke warna hijau, fenomena ini mengejutkan masyarakat nelayan setempat. Peristiwa ini menurut informasi warga, awalnya diketahui warga Minggu malam (22/12) akan tetapi baru dipastikan semua berwarna hijau Senin (23/12).

Masyarakat setempat tidak mengetahui pasti penyebab terjadinya air laut menjadi hijau, seperti dituturkan Syafrial, 54, dirinya baru mengatahui pagi hari terkait perubahan warna air tersebut.

“Kami pun bertanya-tanya dan belum tahu penyebabnya apa,” katanya saat dikonfirmasi wartawan.

Fenomena alam laut di Pantai Bungus, kawasan pemadangan alam nan indah dengan hamparan bukit dan laut menghiasi daerah itu, hingga saat ini masih dalam perbincangan di tataran peneliti termasuk para peneliti yang tergabung dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir-Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (LRSDKP-BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.

Menurut Peneliti Plankton Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta, Arief Rachman kepada Harian Rakyat Sumbar, Senin (23/12) berdasarkan analisis visual, dari video dan potret yang diterima, sekilas memang ini blooming fitoplankton atau mikroalga, atau bisa disebut Marak Alga. Katanya lagi, umumnya blooming seperti ini durasinya pendek di Indonesia.

Walau demikian, ia menyarankan agar pemerintah setempat (Sumbar) dalam hal ini Dinas Lingkungan Padang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Padang untuk memantau dan mengambil sampel air di pantai dan di tengah yang terdampak. Ia pun berharap dari peristiwa itu tidak diiringi dengan kematian ikan secara massal dan tidak mengonsumsi ikan hasil tangkapan di area air laut yang berubah warna itu.

“Semoga tidak diikuti ikan mati massal dan untuk sementara diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan dan terutama kerang-kerangan yang diambil dari lokasi kejadian marak alga itu, Mas,” katanya.

Saat dikaitkan dampak dari air laut menghijau terhadap terumbu karang dan ekosistem di sekitar Perairan Bungus Teluk Kabung. Arief Rachman tidak ingin berasumsi banyak.

“Dampak ke terumbu karang mungkin tidak terlalu besar. Kecuali kalau durasinya lama,” katanya.

Sambungnya, umumnya peritiwa blooming seperti ini durasinya pendek di Indonesia.

“Kalau durasinya lama tentu akan berdampak, karena ini menutup permukaan dan menghalangi cahaya matahari ke dalam air. Jadi, terumbu karang juga bisa terdampak,”  tutur peneliti di lembaga pemerintah non kementerian RI yang dikoordinasikan oleh Kementerian Negara Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KMNRT).

Hal senada dikatakan peneliti Bidang Oseanografi LRSDKP-BRSDMKP-KKP, Ulung Jantama Wisha, saat wawancara terpisah.

Blooming fitoplankton sepertinya,” katanya.

Menurutnya, ini bisa saja karena ledakan populasi alga hijau yang kemungkinan disebabkan oleh peningkatan konsentrasi zat hara. Terjadinya proses zat hara, dapat dilihat dari cuaca yang saat ini cukup ekstrem. Masukan zaat hara dari darat akan meningkat dan masuk ke laut melalui muara.

“Zat hara itu dapat berupa N-nitrate and P-phosphate, nah sumber dari senyawa N dan P itu bisa dari limbah rumah tangga seperti detergen, sisa sampah dll,” jelasnya.

Air laut di perairan pantai Bungus, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang, Sumbar tiba berubah hijau. Senin (23/12/2019). Dok. Indrawadi Mantari.

Ketika terjadi intensitas hujan tinggi dan intens, maka dapat dipastikan peningkatan konsentrasi zat hara juga terjadi, yang akhirnya berpotensi menyebabkan blooming untuk jenis organisme fitoplankton (Phytoplankton) tertentu, sesuai dengan tingkat rasio N:P-nya. Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen.

Selain itu, ia menerangkan proses blooming ini bisa jadi juga terjadi karena ikan predator populasinya menurun. Sehingga saat terjadi peningkatan nutrien (zat hara), maka populasi fitoplankton berpotensi meningkat secara signifikan dan terjadi blooming. Saat ditanya ketika blooming alga ini terjadi, bagaimana dampak pada ekosistem dalam laut di area tersebut, apakah ikan akan mencari daerah lain? Ia menerangkan, ketika terjadi blooming di danau dan laut berbeda.

“Kalau blooming itu berarti ekosistem sedang dalam kondisi tidak seimbang, bisa terjadi kondisi anoxia (rendah oksigen) maupun hypoxia (oksigen terlalu banyak). Jadi, kalau ikan, pasti mencari daerah yg sesuai dengan habitatnya,” terangnya menegaskan.

Sementara ketika terjadi di danau, Ulung Jantama Wisha menyampaikan, langsung terdampak. Karena danau itu perairan tertutup.

“Jadi saat ada blooming langsung berdampak ke biota di dalamnya. Beda dengan laut dampaknya tidak langsung seperti itu,” katanya.

Ia menyarankan agar dilakukan uji labor terhadap air laut yang terjadi perubahan warna tersebut untuk memastikan jenis plakton mana yang blooming.

“Perlu dilakukan analisis jenis plankton yang blooming, jadi bisa diprediksi apakah berbahaya untuk biota maupun manusia nantinya,” terang Ulung Jantama Wisha.

Dugaan marak alga di perairan dan pantai Bungus Teluk Kabung karena proses zaat hara, disampaikan Ulung Jantama Wisha, sebelumnya. Sependapat dengan  Meriussoni Zai, M.Si, dari Yayasan Cahaya Maritim (Camar) sekaligus pegiat lingkungan dan perairan di Sumbar. Katanya, peristiwa menghijaunya air laut di sepanjang perairan pantai Bungus Teluk Kabung itu, hal yang wajar karena banyak zat organik masuk ke laut. Ini bisa disebut proses zat hara.

“Masuknya zat organik ke laut biasanya dari limbah rumah tangga dan unsur lainnya dan di sana ada aliran sungai yang bersinggungan langsung dengan laut (muara),” kata Zai.

Bila dilihat dari fenomena itu, ekosistem ikan tidak akan berkurang akan tetapi mencari ruang lain atau beralih ke daerah perairan lain.

“Ekosistem di sana seperti ikan, masih tetap bertahan tetapi dengan mencari oksigen air yang cukup dengan area yang berarus dan terbuka,” katanya.

DKP Sumbar dan Padang seharusnya tidak terkejut dengan hal-hal seperti ini, jelasnya. Di Sumbar ini nampaknya, banyak hal yang wajar terjadi karena jelas penyebabnya. Zai menyarankan, seharusnya daerah Bungus Teluk Kabung dikhususkan untuk transaksi transportasi laut dan aktivitas perikanan dan kelautan lainnya.

Sebab, itu telah tertuang dalam Perda Sumbar No 2 tahun 2018 tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Sumbar 2018-2038. Kalau tidak salah sebutnya, pada BAB IV, rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Paragraf 2, pasal 12 bagian kedua, sub zona KPU-PL-PP.

“Khususkan untuk pelabuhan saja, untuk wisata selam, tidak bagus. Termasuk budidaya. Sudah jelas ada Perdanya kok,” ungkap Zai.

“Coba cek di zonasi RZWP3K, bungus itu termasuk dalam zona apa? Kalau masuk zona budidaya atau wisata, berarti mereka salah, zonasinya diatas meja saja, bukan di fakta di lapangan,” katanya.

Fenomena di pantai dan perairan Bungus Teluk Kabung, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar saat ini sedang melakukan penelitian penyebab dari perubahan warna air laut tersebut. Menurut, Kepala DKP Sumbar, Yosmeri, dugaan sementara karena blooming alga.

“Kita sedang meneliti, dan dugaan awal blooming terus meningkatnya Klorofil (salah satu parameter indikator tingkat kesuburan di suatu perairan-red),” kata Yosmeri.

Yosmeri belum dapat menyimpulkan secara langsung, yang jelas terangnya, terjadinya blooming alga ledakan populasi plankton yang cukup besar sehingga membuat penampakan perairan menjadi hijau.

“Kami bersama loka riset sedan melakukan penelitian lanjut,” tukuknya. (hrf)

1 thought on “Laut Bungus Hijau, Ini Kata Peneliti LIPI dan KKP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.