rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Konflik Komunikasi Dosen dengan Mahasiswa; Dilema Penyelesaian Tugas Akhir di Perguruan Tinggi

Konflik Komunikasi Dosen dengan Mahasiswa; Dilema Penyelesaian Tugas Akhir di Perguruan Tinggi

Skripsi merupakan salah satu tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa diperguruan tinggi untuk menjadi sarjana. Walaupun skripsi merupakan syarat penting yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk menjadi sarjana, tetapi menyelesaikannya tidak semudah yang dibayangkan.

Oleh: Dewirahmadanirwati
Mahasiswi S3 IKB FBS UNP

Berbagai macam karakter ditampilkan oleh dosen dan mahasiswa saat proses bimbingan menulis skripsi. Banyak tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa agar mereka dapat menyelesaikan tugas akhir sesuai dengan waktu yang ditetapkan,  diantaranya cara berkomunikasi dalam proses bimbingan skripsi, dan penguasaan materi sesuai dengan dengan topik yang dibahas.

Kunci sukses untuk menyelesaikannya adalah santun dalam berkomunikasi antara mahasiswa terhadap dosen, agar proses bimbingan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Karena  penentu keberhasilan dalam berkomunikasi adalah santun berbahasa.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang santun, Apa yang dimaksud dengan santun? Santun dalam kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna halus dan baik, artinya indikator kata yang dipilih dikatakan santun jika tidak menyinggung perasaan pihak-pihak saat proses komunikasi terjadi.

Akan tetapi, subjektifitas seseorang sebenarnya dibentuk tidak hanya oleh sifat-sifat dasar individu saja, tetapi internalisasi norma agama, budaya, dan tradisi yang diyakini oleh individu yang bersangkutan.

Pepatah mengatakan lidah tidak bertulang”, semua kata yang diucapkan seseorang, baik mahasiswa atau pun dosen saat proses bimbingan dan menguji skripsi mahasiswa, kadang kala dapat memberi motivasi kepada mahasiswa, dan juga dapat  membunuh karakter mahasiswa.

Ada kalanya saat memperoleh kritikan yang tajam dari seorang dosen, membuat mahasiswa memutuskan untuk tidak mau menulis dan melanjutkan studinya lagi. Ini semua bisa muncul dalam bentuk bahasa verbal maupun tulis yang menjadi penyebab utama kegagalan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir mereka.

Jika kita tinjau secara filsafat yang berkaitan dengan etika dan moral, ini tentu merupakan suatu dilema yang sampai saat ini masih diperdebatkan dalam dunia pendidikan tinggi.

Filsafat memiliki peran penting dalam membentuk etika berkomunikasi dengan memberikan dasar pemikiran, prinsip-prinsip, dan kerangka kerja yang membantu individu dan masyarakat dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara moral dan bermartabat.

Ada beberapa cara bagaimana filsafat berkontribusi dalam membentuk etika berkomunikasi, yaitu pemahaman nilai dan prinsip etika, pemikiran etis, kepemimpinan moral, kritisisme dan diskusi etis, dan pertimbangan etika moral, ini mungkin sangat membantu bagi dosen dan mahasiswa dalam berkomunikasi secara lebih persuasive, agar mahasiswa yang dibimbing merasa nyaman dan termotivasi untuk menulis atau menyelesaikan tugas akhir mereka.

Secara etika komunikasi yang baik dan benar mencakup konsep kejujuran, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Sedangkan jika kita tinjau secara pemikiran etis, maka saat berkomunikasi dosen dan mahasiswa harus memikirkan akibat-akibat etis dari kata-kata dan tindakan dalam berkomunikasi, sedangkan secara kritisisme dan diskusi etis, dosen dan mahasiswa harus saling menghormati privasi masing-masing dalam berkomunikasi.

Hal yang semakin membuat dilema saat ini tentang penyelesaian tugas akhir di Perguruan Tinggi, adalah banyak bermunculan kasus-kasus konflik antara dosen dengan mahasiswa di sosial media seperti tiktok dan instagram yang bertentangan dengan moral pada saat proses bimbingan untuk penyelesaian tugas akhir mereka.

Hal ini tentunya berdampak terhadap dunia Pendidikan Tinggi saat ini. Yang menjadi pertanyaan bagi penulis apakah faktor dilema ini yang membuat pemerintah mengeluarkan peraturan nomor 53 Tahun 2023 yang mengganti skripsi sebagai syarat tugas akhir di Perguruan  Tinggi dengan proyek lainnya? Atau seberapa pentingkah skripsi berkontribusi terhadap pengembangan karier mahasiswa di dunia kerja?

Sebagai penulis, Saya sangat berharap saran dari pembaca agar nantinya saran tersebut dapat menjadi pedoman bagi dosen dan mahasiswa dalam proses bimbingan tugas akhir mereka.

Untuk dapat menyelesaikan tugas akhir di Perguruan Tinggi, sebaiknya dengan menggunakan pendekatan persuasif, dan memperhatikan etika dan moral. Hal ini bertujuan dapat memberikan  motivasi kepada mahasiswa agar menjadi sarjana yang kreatif, inovatif dan berdaya saing di dunia kerja. (*)

 

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *