Kami Patriot Olahraga (?)

8133
Firdaus Abie

Oleh: Firdaus Abie

Saya “mendapatkan” lima kali “drama” pemilihan Ketua Umum KONI Provinsi Sumatera Barat.
Pertama, tahun 2000. Ketika itu, pasca PON XV di Surabaya, seluruh pemangku kebijakan olahraga di Sumbar menuntut agar dilakukan (ketika itu masih bernama) Musyawarah Olahraga Daerah Luar Biasa (Musyordalub) KONI Sumbar.
Dasar tuntutannya, pertama; prestasi Sumbar saat PON di Surabaya, sangat buruk. Berada di urutan dua terbawah. Posisi ke 26 dari 27 provinsi. Kedua; jika Musda dilakukan lebih awal dengan durasi masa bakti empat tahun, maka Musda berikutnya dilaksanakan setiap selepas PON. Artinya, setiap satu periode kepengurusan, menjadi “kewajiban” untuk mengurus dan membenahi olahraga Sumbar minimal untuk satu kali Pekan Olahraga Wilayah (Porwil), Kejuaraan Nasional Pra PON, dan PON. Kepengurusan masa itu dan masa sebelumnya dimulai kurang dua tahun jelang PON, sebagai puncak supremasi olahraga daerah di kancah Nasional.
Kedua, tahun 2009. Ketika itu, dua kandidat; Indomar Asri (sang petahana) berhadapan dengan Syahrial Bakhtiar. Suasana Musyorda terasa sangat panas. Ketika pemilihan, Indomar Asri menang dua suara. Di saat suasana kubu Indomar Asri merayakan kemenangan, tiba-tiba salah seorang peserta, dari Pengda (ketika itu masih bernama Pengda. Sekarang bernama Pengprov) Pertina menyampaikan pengakuan mengejutkan.
Pengakuannya, ia menerima uang dari kubu Indomar Asri. Uang itu ditujukan agar dirinya memberikan suara kepada Indomar Asri. Ia terima uang tersebut, lalu ia memilih Indomar Asri.
Byaarrrrr….!
Sontak semua kaget. Suasana gaduh dan ricuh. Pendukung Indomar Asri menuntut. Kubu lain menyerang pula. Setelah suasana dapat dikendalikan, Pimpinan Sidang Syaiful SH, memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan tanggapan.
Beragam pandangan muncul. Ada yang meminta, pemilihan diulang. Ada yang mengusulkan, Indomar Asri didiskualifikasi. Lama perdebatan terjadi. Ketika pandangan semakin mengerucut kepada kesepatan; dilakukan pemilihan ulang.
Saya yang ketika itu Ketua Siwo PWI Sumbar, pemilik hak suara pada Musyorda KONI Sumbar, menyampaikan; jika hanya sekadar pemilihan ulang tanpa sanksi, tidak ada gunanya. Saya mengusulkan, minimal harus ada kesepakatan terlebih dahulu dalam bentuk (misalnya) pengurangan suara. Jumlahnya disepakati sebelum pemilihan. Usulan saya didukung Ketua Forki Sumbar H Leonardy Harmainy. Terjadi lagi diskusi dan perdebatan. Akhirnya, pimpinan sidang mengetuk palu; setuju ada pengurangan suara.
Indomar Asri meminta kesempatan bicara. Ia kemudian menyatakan, mengundurkan dari dari proses pemilihan agar insan olahraga di Sumbar tidak terpecah belah.
Ketiga, tahun 2013. Ketika itu ada beberapa calon, hingga menjelang pemilihan mengerucut kepada tiga nama. Syahrial Bakhtiar, sang patahana. Azhar Latif, Ketua Pengprov PRSI Sumbar. Hendra Irwan Rahim, Ketua Pengrov Forki Sumbar, akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari pencalonan.
Syahrial Bakhtiar memperoleh 55 suara, Azhar Latif empat suara. Ada empat peserta yang abstain dan enam Pengprov memilih keluar ruangan sebelum pemilihan. Ke enam Pengprov tersebut, Persatuan Golf Indonesia (PGI), Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI), Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Persatuan Bola Volly Seluruh Indonesia (PBVSI) dan Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI).
Periode kedua tidak diselesaikan Syahrial Bakhtiar sampai selesai. Ketika ia menjadi Wakil Rektor III Universitas Negeri Padang, jabatan yang diembannya dinilai sebagai jabatan rangkap. Bertentangan dengan Pasal 40 UU No 3 Tahun 2005 tentang Sistem Ke¬olah¬ragaan Nasional, Pasal 56 ayat 1-4 PP No 16 tentang Penyelenggaraan Olahraga, SE Mendagri No 800/2398/SJ tanggal 26 Juni 2011, SE KPK No B-903/01-15/04/2011 tanggal 4 April 2011 serta hasil yudisial review MK No 27/PPU-V/2007 jadi acuan surat dari Mendagri itu.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyikapi edaran Mendagri kepada Ketum KONI Sumbar, tertanggal 30 Maret 2016. Gubernur meminta agar Ketua Umum KONI Sumbar segera menyikapi surat dari Mendagri tersebut. Tak berselang lama, akhirnya Syaiful SH ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas.
Keempat, tahun 2016. Setelah Syaiful SH menjadi pelaksana tugas menggantikan Syahrial Bakhtiar, proses pemilihan Ketua Umum KONI Prov Sumbar dilaksanakan, Desember 2016. Syaiful SH mengumpulkan 39 suara, terjadi kericuhan karena masing-masing kubu saling bertahan dengan pandangan mereka, hal ini terkait pada persoalan boleh atau tidaknya seorang PNS menjadi pengurus KONI. Acuannya Undang-undang No.3/2005 tentang Keolahragaan Nasional.
Kelima, Tahun 2021. Pascaditetapkannya Agus Suardi alias Abien menjadi Ketua Umum KONI Sumbar, periode 2021-2025 secara aklamasi, persoalannya bukan berarti selesai. Ada Pengprov yang akan mengajukan protes terhadap hasil yang sudah disepakati.
Pasca terpilih akalamasinya Abien, “jagat” dunia maya (terutama sejumlah orang yang terkait langsung atau tak langsung dengan olahraga di Sumbar) dihiasi berbagai kicauan yang diduga dari orang-orang berseberangan kubu. Kendati tidak menusuk secara langsung, tidak sebut identitas, namun komunikasi searah yang dilakukan, seakan mengarah kepada pihak sebelahnya. Saling sindir dan serang secara masih berlangsung, hingga kini. Tadah sedikit masih lebih panas daripada gelasnya.
Stephen P. Robbins, Ph.D dalam buku The Truth About Managing People, setiap peralihan apa pun dalam sebuah organisasi besar, selalu menciptakan kondisi yang mendorong dan menyokong rumor di atas kabar angin.
Kendati secara spesifik Stephen P. Robbins lebih mengkaji dari sudut organisasi perusahaan atau dunia kerja, namun sejalan dengan kondisi kekinian yang sedang berlangsung di KONI Prov Sumbar. Ada-ada saja rumor (gunjingan; KKBI) yang berkembang, dikembangkan atau sengaja dituliskan di media sosial. Rumor muncul sebagai respon terhadap situasi yang penting bagi seseorang, dimana terdapat ambiguitas dan di bawah kondisi yang memunculkan kegelisahan.
Dibagian lain, jika sebenar-benarnya orang olahraga, ketika tali mick telah digulung, saatnya rapatkan barisan, satukan langkah dan tindakan untuk menatap ke depan. Apalagi PON di Papua, tahun 2021, sudah di depan mata.
Bagi yang jagoannya belum berkesempatan menjadi Ketua Umum KONI Sumbar, atau sudah pernah berada di barisan yang memperoleh amanah, atau belum berkesempatan sama sekali, berikanlah kesempatan kepada Abien dan kawan-kawan lain untuk mengelola olahraga Sumbar untuk empat tahun ke depan.
Kuatir? Ya, tentu banyak yang kuatir, lantaran Abien nyaris hanya punya waktu kurang dari enam bulan untuk membawa duta-duta olahraga terbaik Sumbar ke kancah Nasional. Terhadap hal ini, tugas terberat yang akan dilakukan adalah konsolidasi organisasi. Memperkuat kembali visi dan impian yang sudah dicetuskan kepengurusan terdahulu.
Jika dilihat ke belakang, rentang waktu yang kini dimiliki. Abien tak jauh berbeda dibandingkan saat Syaiful SH menjabat pelaksana tugas Ketua Umum KONI Sumbar, menggantikan Syahrial Bakhtiar, tahun 2016. Syaiful dkk berhasil membawa pulang 14 emas, 10 perak, 20 perunggu. Bedanya, Syaiful dan Abien datang dari pintu berbeda. Sebelum menjadi pelaksana tugas, Syaiful menjabat Waketum I KONI Prov Sumbar. Abien justru dari “luar” karena ketika maju pada pemilihan, ia merupakan Ketua Umum KONI Kota Padang.
Pada akhir 2016, Syaiful SH terpilih menjadi Ketua Umum KONI Sumbar, sehingga jika ditalungkuik ditilantangan, sesungguhnya PON 2021 adalah ujian pencapaian kinerja kepengurusan periode 2017-2021. Semula PON direncanakan 2020, namun ditunda karena Covid-19. Masa kepengurusan sudah diperpanjang pula. Rencananya berakhir selesai PON di Papua, namun KONI Pusat mewajibkan untuk melaksanakan Musyordalub.
Tugas berat, memang. Tapi seharusnya tidak serta merta menjadi sangat berat, sebab kendati Abien baru memimpin, namun dalam konteks keorganisasian, blueprint-nya serta teknis pelaksanaan mempersiapkan atlet sudah dirancang, dipersiapkan dan dijalankan pengurus sebelumnya bersama pengurus cabang olahraga. Hasil yang nanti dicapai di PON Papua adalah cerminan dari proses yang sudah dilakukan sejak kepengurusan KONI Sumbar, periode 2016-2021, kecuali jika ada perubahan sangat krusial yang mengubah kebijakan terdahulu.
Bagi pihak yang mendukung Abien, jangan jumawa. Pencapaian hari ini tidak akan berarti banyak, tidak akan dipandang hebat oleh publik jika pada laga sesungguhnya di Papua, tidak memperoleh hasil gemilang. Target 16 emas bukanlah pekerjaan mudah. Empat tahun lalu sudah dicoba, tapi gagal, walau bisa menambah capaian dibandingkan PON terdahulu. Lebih baik menyatukan perbedaan dari pada merentangkan perbedaan pandangan. Kawan dimaksimalkan, “lawan” diajak bersama.
Kenapa saya menulis “lawan” menggunakan dua tanda petik (“), karena sesungguhnya sesama patriot olahraga tak ada lawan. Lihatlah di arena, setelah babak belur dihajar tinju, atau kena tendangan di tubuh dan wajah, akan dilanjutkan dengan saling rangkul dan saling puji terhadap kelebihan masing-masing serta mengevaluasi kekurangan sendiri.
Abien dalam posisi sulit. Selain konsolidasi terhadap anggota KONI terutama yang berseberangan saat pemilihan, ia tak hanya dihadapkan pada taget PON yang tidak ringan, tapi juga harus menyelesaikan urusan lain secara simsalabim. Dua hari setelah terpilih, Abien harus menyelesaikan kewajiban tunggakan yang harus dibayarkan, listrik kantua KONI Sumbar dan gedung beladiri yang manunggak dari kantong pribadinya. Menyelesaikan dua bulan gaji pegawai sekretariat yang belum dibayar, termasuk membayar bantuan untuk atlet.
Baru permulaan! Abien akan menghadapi jalan panjang, berliku dan berbatu, tapi “jam pasirnya” terus tercurah. Durasi waktu tersedia tak seberapa. Kendati demikian, sekali pun Abien dan kepengurusannya dalam posisi sulit, namun muara akhirnya adalah wajah olahraga Sumbar di kancah Nasional. Tentu arang yang tercoreng di kening, di Surabaya, 21 tahun silam, tak ingin terulang kembali.
Saatnya insan olahraga di Sumbar bersatu kembali. Bak kata bijak tetua rang Minang dulu; biduak lalu, kiambang batawik. Proses pemilihan ketua umum sudah selesai, mari lanjutkan pekerjaan dan jalani dengan komitmen sesuai dengan Mars Patriot Olahraga, karya Melky Goeslaw, ayah dari Melly Goeslaw. Pertama kali dikumandangkan saat KONI Pusat dipimpin Wismoyo Arismunandar.

Kami… (7X)
Kami Patriot
Kami Patriot
Kami Ini Patriot Olahraga
Mengabdi Berkarya untuk Nusa Bangsa
Dalam Meraih Cita-cita

Kami Patriot
Kami Patriot
Kami Ini Patriot Olahraga
Gigih Dalam Berjuang di Medan Laga
Berbakti Untuk Indonesia
Kesetiaan Adalah Kebanggaanku
Disiplin Satu-satunya Nafasku
Demi Jayanya Sang Merah Putih

Kehormatan Adalah Segalanya
Gemertak Tulang Mendidih Darahku
Semangat Berapi Membakar Batinku
Tuhan Adalah Kekuatanku
Setiap Kuhadapi Lawanku
Kami Patriot
Kami Patriot
Kami Ini Patriot Olahraga
Biar Mata Dunia Memandang Indonesia
Kita Dahsyat dan Perkasa (2X)
Kami Patriot!

Nah, perhatikan liriknya. Pada pengantar lagu, kata kami diulang hingga tujuh kali. Kami merupakan keterangan untuk orang pertama jamak. Artinya, ada “saya” dan kita bersama menjadi satu dalam sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ingat, kata Kami diulang hingga tujuh kali.
Lalu perhatikan pula setiap bait berikutnya. Selalu diawali dengan kalimat; Kami Patriot. Diulangnya, Kami Patriot. Kata patriot bermakna pencinta atau pembela Tanah Air. Kemudian dipertegas dengan kalimat; Kami Ini Patriot Olahraga.
Terang sekali, maknanya Kami adalah pencinta dan pembela Tanah Air melalui olahraga. Disetiap bait, ada kalimat tersebut yang mampu membangkitkan gelora di dada untuk sebuah perjuangan. Diakhir lagu kembali ditegaskan dengan kalimat; Kami Patriot!
Kalau memang patriot, bersatulah! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here