Sabit berayun. Padi menguning pun rebah. Tawa riang para perempuan pecah di tengah sawah yang asri. Hari panen akhirnya datang di balik cuaca tak begitu terik.
Laporan: Handi Yanuar-Padang.
“Hasilnya satu ton gabah, dari 1/4 hektare lahan. Alhamdulillah,” kata Rianti Astuti, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Timbulun Indah Lestari, Selasa, (2/9/2025).
Seperempat hektare sawah itu akhirnya menjawab doa-doa mereka. Berkah itu datang, dari lahan yang selama ini dipandang sebelah mata.
Angka satu ton itu tentu tidak biasa. Buat KWT beranggotakan22 perempuan dari berbagai latar belakang; mulai dari Lansia, buruh tani, fakir miskin, hingga janda; hasil tersebut adalah bukti sebuah tekad yang lahir dari kolaborasi dengan Pertamina.
KWT Timbulun Indah Lestari, Bungus Timur, Kota Padang, Sumbar, merupakan binaan Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung, wilayah operasional Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina menerapkan konsep Integrated Farming System atau Sistem Pertanian Terpadu.
“Panen perdana kami berhasil berkat dukungan dan kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga Sumbagut,” ujar Rianti.
Program itu diberi nama Make Capable atau Pemberdayaan Masyarakat Bukit dalam Mendukung Capaian Swasembada Pangan dan Energi.
Make Capable bukan sekadar program bantuan. Program ini untuk menjawab tantangan: sampah organik, ketergantungan pupuk kimia dan produktivitas. Jawabannya adalah sebuah inovasi bernama Sabako.
Rianti dan kelompoknya menyatakan ini pengalaman pertama. “Kami berhasil panen perdana berkat teknik Sabako dari Pertamina, yang baru pertama kali dilakukan di sini. Jerami menjadi berkah,” katanya.
Tanpa Kimia
Sabako adalah singkatan dari Sawah Inkubasi Dekomposer. Teknik ini mengubah cara bertani konvensional menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
Jika biasanya petani membutuhkan pupuk kimia yang harganya mencapai Rp4 juta untuk lima karung, tetapi Sabako tidak.
Tanpa pupuk kimia, biaya produksi terpangkas drastis, sementara tanah yang dulu kurus karena kimia kembali bugar.
“Semoga semakin banyak kolaborasi Pertamina untuk kesejahteraan petani,” ucap Yoice Yuliani, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang.
Pascapanen, petani pun bisa memanfaatkan limbah jerami menjadi mulsa dan pupuk organik, sehingga ramah lingkungan sekaligus memperbaiki kesuburan tanah.
“Praktik ramah lingkungan ini tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan daerah,” ulas Yoice.
Pengamat Pertanian Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Barat, Adipo Rahman mengatakan cara kerjanya sederhana tetapi ilmiah. Ia pun menjelaskan empat tahapannya.
Pertama, pengumpulan bahan organik berupa jerami yang dicampur kotoran ternak.
Kedua, inkubasi dengan dekomposer, yaitu fermentasi jerami dengan pengurai untuk menjadi pupuk organik matang.
Ketiga, tumpukan jerami fermentasi dijadikan media tanam di sawah sebagai sumber nutrisi terlokalisasi.
Keempat, dibuat sistem kanal antar bedengan untuk mengaturpasokan air. Sisa panen tidak terbuang. Jerami bisa diolah kembali menjadi mulsa dan pupuk organik.
“Manfaatnya irit bibit, hanya butuh 5 kilogram, mengurangi pembakaran jerami, meningkatkan kesuburan tanah secara alami, dan berpotensi menaikkan produktivitas hingga 40 persen,” jelas Adipo, Jumat (12/9/2025).
Lebih Sekadar Panen
Selain ramah lingkungan, Sabako juga mengurangi emisi Gas Rumah Kaca karena meniadakan pembakaran jerami, serta mengembalikan keseimbangan predator dan hama tanpa pestisida kimia.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan program ini pendekatan pertanian terpadu berbasis pengelolaan sampah organik.
“Panen ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi berbagai pihak,” ungkap Fahrougi.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menilai program TJSL Pertamina selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya ketahanan dan swasembada pangan serta peningkatan SDM.
“Ketika ada BUMN seperti Pertamina melakukan Asta Cita Presiden melalui TJSL berkolaborasi dengan KWT, tentu ini hal positif,” kata Rahmat di Padang, Sabtu (18/10/2025).
Pertamina berharap Bungus Timur menjadi contoh pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Program ini juga sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya energi bersih, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Keikutsertaan perempuan rentan dalam KWT memberi makna sosial. Mereka tidak hanya mendapat keterampilan dan tambahan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan solidaritas komunitas.
Manager CSR & SMEPP Management Pertamina Patra Niaga Eko Kristiawan mengatakan pelatihan yang diberikan mencakup pengomposan, penerapan pupuk kompos, budidaya organik, hingga pengelolaan lahan berkelanjutan.
“Program ini diharapkan mewujudkan petani yang sejahtera dan mandiri,” tutur Eko, Rabu (22/10/2025).
Ekonomi Tumbuh
Ekonom Senior Endang Kurnia Saputra, mengatakan dukungan Pertamina sangat strategis. Sektor pertanian masih menyerap tenaga kerja terbesar di Sumbar, sekitar 972.400 orang pada2023 dan diprediksi menembus 1 juta orang pada 2025.
Pada Triwulan II-2025, sektor pertanian Sumbar tumbuh 4,06persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi provinsi yang 3,94 persen secara year on year.
Ia menambahkan, Pertamina bisa memilih pendekatan terfokus pada satu kabupaten/kota atau pendekatan menyebar dengan menggandeng dinas pertanian. Kuncinya adalah sinergi.
“Jika Pertamina turut membantu, angka pertumbuhan sektor pertanian bisa meningkat lebih besar dari 4,06 persen,” kata pria yang akrab disapa Adang itu, Jumat (3/10/2025).
Mewujudkan ketahanan pangan tidak harus punya lahan besar. Lahan sempit yang diolah bersama bisa menjadi produktif. Di petak sawah Bungus Timur, Rianti dan 21 perempuan lainnya telah membuktikannya. (*)





