22/04/2024

rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Drs. Yoesbar Djaelani. Komposer Musik asal Indonesia yang Dihargai di Malaysia

Drs. Yoesbar Djaelani. Komposer Musik asal Indonesia yang Dihargai di Malaysia

Drs.Yoesbar Djaelani

Namanya mungkin tidak begitu familiar di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Daerah asal yang menjadikan Drs. Yoesbar Djaelani menjadikan sosok yang begitu dihargai di sejumlah universitas di Malaysia. Malahan, pria kelahiran Kota Payakumbuh itu, pernah membuatkan hymne khusus untuk Perdana Menteri Malaysia yang dijabat Mahathir Muhammad.
Jon Kenedi—Padangpanjang

Humanis dan ceria,  mungkin itulah sekelumit gambaran dari sosok Drs. Yoesbar Djaelani yang saat ini menjadi Dosen Terbang Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang ketika berbincang-bincang dengan wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar, Selasa (05/09/2023).

ISI Padangpanjang bukanlah tempat baru bagi dirinya, sejak tahun 1990 dirinya telah menjadi tenaga pengajar di lembaga pendidikan seni yang kala itu masih bernama Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang hingga tahun 2004.

Pria kelahiran 03 Februari 1953 itu, mengawali kariernya sebagai konduktor musik saat masih berstatus sebagai mahasiswa di Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogjakarta di tahun 1975, yang saat ini sudah menjadi ISI Yogjakarta. Dengan komposer idola Herbert Von Karajan dari Jerman.

“Setelah menamatkan pendidikan di SMA Malang, saya melanjutkan ke AMI Yogjakarta dan mengambil jurusan musik. Disanalah, bakat konduktur atau yang biasa juga disebut komposer, mulai terasah dan mendapatkan banyak pujian dari Ketua dan Wakil Ketua AMI saat itu,” cerita Pak Yus, panggilan Yoesbar Djaelani.

Kala itu, lanjutnya, Suhastjarja M. Mus yang menjabat Ketua AMI Yogjakarta bersama Prof. Dr. Victor Ganap, M.Ed menunjuk dirinya sebagai konduktor orkestra menyambut kunjungan Mr. Broduscha dari Wina (Austria-red) yang akan datang ke AMI Yogjakarta.

“Karena masih mahasiswa, saya tidak tahu yang mana Mr. Broduscha itu, kabarnya juga seorang konduktur kenamaan di Eropa. Sewaktu kami sedang latihan persiapan, ternyata Mr. Broduscha itu sudah menyaksikan dan saya terkejut ketika diberikan aplaus terhadap persiapan kami,” kenang Pak Yus.

Dari kunjungan Mr. Broduscha tersebut, semakin meyakinkan seorang Yoesbar Djaelani mendalami ilmu konduktor musik, sembari tetap melanjutkan pendidikannya hingga menamatkan Strata 1. Meskipun demikian dirinya tetap tidak mau wisuda, karena tidak ingin kehilangan informasi tentang konduktor.

Jadi Pengajar di ASKI

Setelah tamat dari AMI Yogjakarta dan malang melintang dalam dunia orkestra di berbagai pertunjukan di sejumlah daerah di Indonesia, dirinya pulang ke Payakumbuh dan mencoba peruntungan di Sumatera Barat.

Berawal dari pertemuan dengan Dosen Jurusan Musik ASKI Padangpangpanjang (alm) Dirwan Wakidi di Kantor Pos Kota Bukittinggi di tahun 1990, yang kemudian menawari untuk menjadi tenaga pengajar di ASKI Padangpanjang dan dikenalkan ke (alm) Prof. Mardjani Martamin yang menjabat Ketua ASKI Padangpanjang dan Wakil Ketua Prof. Mahdi Bahar.

“Sejak tahun 1990 saya resmi menjadi pegawai ASKI Padangpanjang dan menggawi Orkestra ASKI Padangpanjang yang banyak mendapatkan jadwal pertunjukan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Sehingga, pertengahan tahun 90-an, saya ditawari menjadi tenaga pengajar melalui kerjasama ASKI dan Institut Teknologi Mara yang sekarang bernama University Teknologi Mara Malaysia,” sebut Pak Yus sambil mengenang perjalannya dalam membesarkan Orkestra ASKI Padangpanjang.

Dari kerjasama itulah, dirinya menjadi tenaga pengajar di Institut Teknologi Mara bersama Azizar, S.Kar hingga berlanjut ke tahun 2004. Hingga dirinya harus dikeluarkan sebagai tenaga pengajar di ASKI Padangpanjang dan menetap di Malaysia.

Setelah diberhentikan dari ASKI Padangpanjang, Yoesbar Djaelani menetap di Malaysia dan mengajar di ITM selama 11 tahun dan Univercity Malaysia Serawak selama 13 tahun. Termasuk juga menjadi menjadi Konsultan Konservatori Musik Prodigy di Kucing Malaysia tahun 2022 sampai 2023.

“Jika dibandingkan dengan di Indonesia, memang pengakuan orang luar terhadap seniman sangat luar biasa. Saya sejak diberhentikan dari ASKI Padangpanjang, malang melintang dari universitas ke universitas lainnya dan saya diterima dengan sangat baik,” ulasnya.

Diantara pengalaman mengharukan yang diterima Yoesbar Djaelani di negeri Jiran, dirinya pernah mengonduktori orkestra pengiring sejumlah artis terkenal Malaysia seperti Siti Nurhaliza, Era Vazira, Anwar Zen, Jayjay dan Yusni Hamid.

“Pernah juga dalam kunjungan komposer nasional Adi MS bersama Twilite Orchestra ke salah universitas di Malaysia, saat bertemu dengan saya. Ternyata Adi MS tidak mau menjadi kondukturnya dan meminta saya untuk memimpin, sementara dia hanya menggawangi soundsystem,” sebut Yoesbar Djaelani haru.

Yang lebih membanggakan lagi, terusnya, seorang  Yoesbar Djaelani didaulat untuk membuatkan lagu hymne berjudul Wira Negara untuk Perdana Menteri Malaysia yang saat itu dijabat Mahattir Muhammad, saat penganugerahan gelar Doktor Honorius Causa (HC) di University Teknologi Mara Malaysia.

Hasilkan Puluhan Karya

Selama mengabdikan diri di dunia seni, Yoesbar Djaelani telah menghasilkan puluhan karya musik maupun karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan di sejumlah lembaga, baik di di Indonesia maupun Malaysia.

Diantaranya, Hilangnya Setangkai Daun yang berhasil memenangkan Sayembara Komposisi Musik Dewan Kesenian Jakarta Tahun 1976, pemenang Lomba Cipta Mars Ikopin Tahun 1982 dan Bahtera Merdeka Khidmat bersama UiTM Simfoni Orkestra untuk Konvokesyen UiTM.

“Sebagai seniman, tentunya yang menjadi patokan adalah karya yang dihasilkan. Bagi saya, berkarya merupakan sebuah kewajiban yang harus saya penuhi,” sebutnya penuh semangat.

Selama berkarier dalam dunia seni, tentunya sangat banyak sekali pahit manis kehidupan, bagaimana membangun karier dari mahasiswa hingga mendapat pengakuan dari Kerajaan Malaysia.

“Pesan saya, bagi seniman-seniman muda yang sedang meniti karier maupun yang dalam tahap pendidikan seni adalah terdapat perpaduan filosofi, etika dan logika serta soft skilll, disamping estetika. Konduktor harus menginterpretasi dan mengekpresikan  sebuah lagu  bukan hanya sekedar menghayun tangan saja,” tutupnya mengakhiri pembicaraan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.