21/05/2024

rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Dirgahayu ke 237 Bukittinggi Hebat

Dirgahayu ke 237 Bukittinggi Hebat

Pada Rabu 22 Desember 2021 ini, Kota Bukittinggi sudah menginjak usia yang ke-237. Kalau dari segi usia Kota Bukittinggi tergolong sudah tua. Pahit getir menerpa silih berganti mewarnai perjalanan zaman menjadikan kota yang berjulukan Kota Wisata ini kian hebat. Penetapan hari jadi Kota Bukittinggi pada 22 Desember 1784 didasarkan pada perubahan nama pasar sebagai pusat keramaian kota yang semula bernama “Bukik Kubangan Kabau” (karena dahulunya tempat ini memang sering dijadikan sebagai tempat mengembalakan kerbau), menjadi “bukik nan tatinggi”, yang kemudian lebih populer disebut Bukittinggi.

Peringatan Hari Jadi Kota Bukittinggi Ke-237 Tahun ini menjadi istimewa bagi masyarakat Kota Bukittinggi khususnya bagi pasangan Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi Erman Safar dan Marfendi. Ini merupakan kali pertama mereka dalam Rapat Paripurna Istimewa setelah menjabat sebagai Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi periode 2021-2024 sejak 26 Februari 2021. Pimpinan daerah kota Bukittinggi sejak berdiri hingga saat ini, baik sebagai pejabat sementara (Pjs) atau sebagai pejabat (Pj) maupun sebagai Walikota sudah 26 orang sejak masa Bermawi Sutan Rajo Ameh dan sekarang Erman Safar.

Luas kota Bukittinggi 25,24 Km2 dengan jumlah penduduk 119.183 jiwa yang tersebar pada tiga wilayah kecamatan yakni; Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS) 49.910 jiwa, Kecamatan Guguk Panjang (GP) 43.338 jiwa dan Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB) 25.404 jiwa. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah sebenarnya mengharuskan wilayah Kota Bukittinggi perlu diperluas, namun perluasan sebagaimana diharapkan seperti melalui PP nomor 84/1999 sulit untuk diwujudkan. Karena belum adanya kesepakatan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Agam dengan Pemerintah Kota Bukittinggi. Hingga saat ini tidak jelas lagi ujung pangkal keberadaan PP Nomor 84/1999.

Kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi Erman Safar dan Marfendi ini, memang belum bisa dilihat secara kasat mata. Artinya pembangunan secara fisik memang belum banyak dilaksanakan, begitu juga kegiatan non fisik belum banyak dilaksanakan namun sudah mulai dilakukan. Kita bisa maklum karena kepemimpinan keduanya masih belum seumur jagung atau sekitar 11 bulan, namun harus menghadapi banyak persoalan-persoalan sehingga memerlukan pemecahan masalah yang harus dilakukan secara bertahap dan sistematis. Persoalan terbesar itu, kedua pemimpin kota ini harus memulai pekerjaan dimasa pandemi Covid-19 masih melanda dan kebijakan keuangan pusat yang harus memangkas anggaran untuk daerah.

Dengan berbagai persoalan tersebut, walaupun Walikota dan Wakil Walikota baru memimpin namun telah melakukan pembenahan secara bertahap dengan memberdayakan segala potensi yang ada. Tidak ada istilah menyerah untuk mengatasi semua persoalan tersebut, dengan niat yang tulus dan ikhlas hanya mengharapkan ridho dari Allah SWT, pemerintah kota bekerjasama yang baik dengan pihak DPRD, terutama dalam pelaksanaan roda pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di kota yang disebut juga kota perdagangan dan jasa ini. Kendati perlahan namun pasti, satu persatu persoalan sudah mulai di urai dan bahkan sudah ada yang dapat diatasi.

Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi Erman Safar dan Marfendi ini mengusung visi “Menciptakan Bukittinggi Hebat Berlandaskan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. Visi tersebut disertai dengan tujuh misi yang akan diimplementasikan, yakni: peningkatan ekonomi kerakyatan; pendidikan; kesehatan dan lingkungan; sektor kepariwisataan, seni budaya dan olahraga; tata kelola pemerintahan; sektor sosial kemasyarakatan; dan bidang pertanian. Untuk mewujudkan misi tersebut, telah dituangkan dalam RPJMD 2021-2026. Termasuk untuk menjalankan 7 misi Hebat ini bisa mulai dilakukan pada 2022.

Menjalankan roda pemerintahan dan melayani semua harapan masyarakat tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak mudah melaksanakan pembangunan karena harus diimbangi dengan ketentuan anggaran yang semakin lama semakin banyak aturan yang berubah dan harus diikuti. Kebijakan pengelolaan keuangan daerah yang memerlukan pemahaman mendalam dan sikap kehati-hatian, kekurangan kemampuan SDM aparatur dalam menjalankan tugas serta adanya masalah musibah kebakaran pasar bawah dan belum tuntasnya penyelesaian status Pasar Atas yang harus didudukan persoalannya membuat pikiran dan perencanaan daerah Pemko terpaksa menjadi lamban. Belum lagi kritikan yang dialamatkan kepada Pemerintah Kota terhadap kebijakan pembangunan melalui media sosial.

Harus diakui bahwa kepemimpinan Erman Safar dan Marfendi 11 bulan ini, baru hanya bisa menjalankan sisa pekerjaan yang ditetapkan oleh pemimpin sebelumnya. Untuk memenuhi janji yang disampaikan masa kampanye tentu baru bisa dilakukan setelah ditetapkannya RPJMD periode mereka berdua dan penyusunan APBD Tahun 2022. Pendapatan Daerah dalam APBD tahun 2022 yang akan mereka mulai berjumlah Rp629 Miliar dengan perkiraan belanja daerah sebesar Rp. 783 Miliar. Memang diakui dalam kurun waktu dua tahun terakhir pendapatan daerah mengalami penurunan. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang harus diantisipasi bagi pemerintahan dibawah kepemimpinan Erman Safar dan Marfendi.

Pada sisi lain, walaupun pasangan dengan simbol ”Hebat” ini baru 11 bulan memimpin Kota Bukittinggi telah menerima puluhan penghargaan tingkat nasional dan regional. Mulai penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) sampai dengan penghargaan Kota Perlindungan Anak. Kota Bukittinggi, ditengah pujian dan cibiran yang mengiringnya terus berbenah, berbagai perbaikan dan pembangunan sedang dikerjakan. Seiring dengan itu, berbagai penghargaan juga telah diterima oleh kota wisata yang kini sudah berusia 237 tahun.

Semua penuh tantangan dan tantangan itulah yang akan diseberangi oleh pemerintah daerah bersama masyarakat kota Bukittinggi. Sudah tentu tidak mudah untuk mewujudkan sebuah kota bagus dan indah sebagaimana membalikan telapak tangan. Siapapun yang menjadi Walikota di Bukittinggi tidak bisa bekerja baik tanpa didukung masyarakat. Disisi lain Walikota dan Wakil Walikota harus mendengarkan masukan masyarakat dan berlapang dada menerima kritikan. Selamat Hari Jadi Kota Bukittinggi Hebat ke-237. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.