rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Dilema Berbeda Pilihan dengan Lingkungan

Dilema Berbeda Pilihan dengan Lingkungan

Oleh: Fransisca Olivia Murni

Bakat adalah kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang mereka sukai. Pada era globalisasi, banyak generasi muda kurang percaya diri dalam menunjukkan bakat terpendam, padahal ada kalanya bakat yang dimiliki berpotensi untuk dikembangkan dan diasah.

Jika rasa kurang percaya diri tersebut dibiarkan, mengakibatkan potensi yang dimiliki tidak akan berkembang. Hal ini akan bermuara kepada melakukan hal-hal yang justru tidak sesuai dengan potensinya.

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi anak muda cenderung kurang percaya diri untuk menunjukkan potensi yang dimiliki.

Diantaranya, kurangnya dukungan dari orang tua atau berbeda dengan keinginan orang tua, sarana dan prasarana yang kurang memadai, stigma negatif dari atau pandangan dari lingkungan yang tidak mendukung, ketidakmampuan dalam pendanaan mengembangkan diri.

Diantara persoalan di atas, salah satu contoh nyata ada dalam lingkungan kecil yang sering penulis amati. Seorang anak yang memiliki kemapuan dan merasa bakat atau potensinya untuk menekuni dunia kepenulisan. Orang tua menginginkan anaknya untuk menekuni akademik dan mengembangkan kemampuan di bidang sains. Mereka menginginkan anaknya mengikuti Olimpiade Sains.

Dalam pikiran banyak orang tua, menekuni bidang sain, lalu menang dalam berbagai lomba sain jauh lebih memiliki arti dan gezah dibandingkan menang dalam perlombaan menulis lantaran menulis dipandang sebagai aktivitas yang bisa dilakukan semua orang.

Sudah dilakukan sejak awal sekolah. Kebanggaan orang tua tersebut lantaran mereka memandang bahwa menang di Olympiade Sains adalah sesuatu yang besar.

Ketika si anak menolak keinginan orang tua tersebut, kemudian menyampaikan apa yang diinginkan, tak jarang terjadi masalah antara orang tua dan anak. Pada posisi ini, si anak seringĀ  terpaksa harus mengalah, mereka menekuni bidang Sains dalam keterpaksanaan, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Pandangan seperti ini menjadi persoalan bagi generasi muda atau si anak, padahal tidak semua anak bisa mengikuti keinginan orang tua, apalagi pada bidang yang tidak bisa mereka nikmati.

Menurut penulis, tidak semua anak yang bisa menerima atau mengikuti bidang Sains. Ada yang justru kelemahannya di sini, memandang sebagai bidang yang rumit, tidak menyenangkan. Berbeda dengan aktivitas menulis yang mereka sukai.

Bagi mereka yang suka menulis, mereka tentu dunia mereka pula yang nikmat. Menulis hanya menuangkan ide pikiran, disampaikan melalui tulisan yang dituangkan di kertas, laptop dan perangkat lain.

Kondisi tersebut akan memperburuk kondisi mereka jika di lingkungannya tidak disukai orang tua, ada yang mengejek atau memandang rendah bakat yang mereka miliki.

Saat ini, kemampuan menulis yang dimiliki seseorang berpeluang besar untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan banyaknya pekerjaan yang bisa dilakukan dengan menggunakan bakat menulis.

Seorang novelis akan bisa menghasilkan pendapatan besar dan tidak terhingga jika novelnya laris manis dipasaran. Tak kalah jika dibandingkan profesi lain.

Seorang novelis cukup menuangkan ide, pikiran dan isi hatinya untuk mendapatkan penghasilan yang besar. Aktivitas menulis bisa dilakukan tanpa waktu khusus karena bisa kapan saja.

Tak butuh tempat khusus karena bisa dilakukan di mana saja. Tulisannya bisa untuk memperbaiki atau mengubah dunia. Minimal memperbaiki diri dan lingkungannya.

Karya seorang penulis sastra, misalnya, akan bisa berusia panjang. Novel Siti Nurbaya, karya Marah Rusli, diterbitkan Balai Pustaka, tahun 1922, sampai saat ini masih menjadi bahasan bagi banyak orang, khususnya dunia pendidikan.

Seorang penulis atau sastrawan akan lebih dipandang karena wawasan serta bahasa yang dimilikinya sangat baik dan lebih bagus serta bisa memahami berbagai karakter orang. Bisa lebih mengerti dalam berkomunikasi dan bertutur kata yang baik.

Bakat menulis juga digunakan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan serta isi hati yang tidak dapat disampaikan.

Kembali kepada pandangan banyak orang yang menganggap menulis adalah aktivitas sepele, tetapi tidak sembarangan orang memiliki keahlian, walau hanya menuangkan ide, lalu menuliskan pikiran yang dimiliki melalui bahasa dan gaya bahasa sendiri.

Kalau pun ada teknik dan teori, namun menuangkannya tidak semudah memahami teknik tersebut.

Menghadapi desakan orang tua di atas, jika penulis berada pada si anak tersebut, maka penulis akan terus bergerak dan menjalani aktivitas sesuai apa yang penulis miliki. Akan terus melangkah walau orang tua melarang. Akan terus bergerak walau ejekan dilontarkan oleh lingkungan.

Penulis akan tersebut mewujudkan impian dan membuktikan kepada lingkungan bahwa langkah yang dilangkahkan tidaklah keliru, aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang tepat dan membanggakan keluarga serta lingkungan.

Penulis yakin, jika bakat yang dimiliki seseorang terus diasah dan dikembangkan, akan melahirkan prestasi luar biasa, terutama bagi lingkungan sendiri. Disaat ini, gadjet yang dimiliki akan memudahkan akses untuk menjangkau lingkungan yang lebih luas.

Tak hanya terpaku di rumah dan sekolah. Sangat banyak informasi dan aktivitas untuk mengikuti pelatihan atau pelatihan beragam aktivitas. Kita tinggal pilih saja. Mulai dari yang berbayar, tak sedikit pula yang gratisan.

Makanya penulis berpikir, seharusnya tak ada lagi kata minder atau kurang percaya diri untuk mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki.

Saatnya untuk mempersiapkan diri, menentukan pilihan, berdiri di atas potensi yang dimiliki dengan memanfaatkan kesempatan yang ada agar mampu mencapai impian yang diinginkan. Muaranya untuk masa depan yang lebih gemilang.

Manfaatkan setiap kesempatan. Jangan lewatkan kesempatan yang ada karena kesempatan tidak datang dua kali!. (**) Penulis adalah pelajar SMAN 1 Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *