Desmiliar, Ibunda Audy Joinaldy tentang Hari Anak Sedunia 2020: “Jangan Terlalu Memikirkan Diri Sendiri…”

250
Kebersamaan Desmilia bersama sang anak Audy Joinaldy.

Desmiliar (61 tahun), seorang ibu rumah tangga, bercerita tentang anak-anaknya, pada Peringatan Hari Anak Sedunia, tahun 2020.

“Alhamdulillah, Allah memberikan berkah luar biasa pada anak-anak saya,” katanya, dikediamannya di Jalan Ahmad Yani, No 9 Padang, sembari menyebutkan, semua capaian yang diperoleh anak-anaknya saat ini adalah salah satu rezeki yang tak ternilai.

Ia kemudian mengenang masa lalu bersama keluarga kecilnya. Bersama sang suami, ia membesarkan tiga buah hatinya. Ketika itu, sang suami sedang merintis usaha sendiri, sedangkan Desmiliar seorang wanita karier. Bekerja di perusahaan otomotif besar di Jakarta.

“Sedih rasanya karena tak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak saat mereka  butuh,” katanya.

Katanya, di antara kesedihan tersebut adalah ketidakmampuan dirinya bersama suami mengabulkan permintaan anak, jika mereka meminta di pertengahan atau akhir bulan, “di antara anak saya, ada yang sangat suka gulai otak, tapi saya harus menunggu untuk bisa membelikannya di awal bulan ketika saya sudah gajian,” katanya.

Mensiasati ketidakberdayaan mereka, Desmiliar terus berjuang untuk anak-anaknya. Ia kemudian mengundurkan diri, lalu memutuskan untuk merawat, membimbing, mendidik dan mengasuh anak-anaknya secara langsung. Sang suami setuju, lalu semakin fokus dengan usaha serta pengembangan usahanya.

“Ketika itu, susah  sekali rasanya memasukkan anak sulung saya ke TK Al-Azhar karena sulitnya keuangan keluarga kami,” katanya mengenang.

Desmiliar kemudian mengucapkan syukur, ketika masuk SD, SMP, SMA di yayasan yang sama, Sekolah Islam Al-Azhar, tak ada kendala lagi bagi anaknya. Nilainya sangat bagus. Setelah itu, anaknya diterima melalui jalur PMDK di Institut Pertanian Bogor (IPB), kemudian melanjutkan kuliah di Wageningen University, Belanda.

Ketika menyelesaikan pendidikan di IPB Bogor, ayahnya didaulat untuk menyampaikan pesan dan kesan orang tua. Sang ayah menyampaikan dengan bangga dan bersemangat, kendati dirinya pernah kuliah di IPB Bogor dan tidak tamat, namun anaknya telah “membayar lunas” karena memperoleh predikat Cumlaude.

Saat kuliah di negeri orang,  ada dua  kenangan yang tak akan pernah dilupakan Desmiliar. Pertama, anaknya dipercaya menjadi Presiden Pelajar Indonesia di Belanda. Katanya, kepercayaan ini sempat membuatnya tidak percaya, sebab masa kepengurusan wadah berhimpun pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda jauh lebih panjang dibandingkan dari masa kuliah S.2.

“Sepulang pendidikan di Belanda, ia mengembalikan separoh uang yang kami berikan untuk bekalnya di Belanda,” kata Desmilia, matanya berkaca-kaca. Sekali-kali disekanya. Ia masih merasakan suasana haru seperti halnya saat peristiwa itu terjadi.

Putra kedua dan ketiga, kata Desmilia, juga menjelma menjadi sosok membanggakan keluarga. Santun. Bijaksana. Berprestasi. Putra kedua, mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa karena prestasinya di kepolisian.

“Mungkin termotivasi pada kakak tertuanya,” kata Desmiliar sembari menyebutkan, motivasi yang dimiliki anak sulungnya juga dapat mempengaruhi orang banyak.

Ia bercerita. Selesai putra sulungnya kuliah, Ia diterima di perusahaan pakan ternak Thailand. Bekerja selama delapan tahun di perusahaan tersebut, dirinya mendapatkan posisi hebat. Belakangan ada yang menawarkan untuk bergabung ke sebuah perusahaan baru, mengolah bulu ayam menjadi bahan pakan ternak.

“Ia ternyata mampu meyakinkan dan membawa sembilan orang kawannya di perusahaan pertama untuk bergabung di perusahaan baru tersebut. Entah bagaimana caranya, sembilan orang yang sudah berada pada posisi enak dan nyaman mau saja pindah karena diajak dan diyakininya,” Desmiliar membeberkan. Perusahaan tersebut tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar.

Belakangan, setahun silam, anak sulungnya mengabarkan, dirinya didatangi seorang walikota di Sumbar, “beliau mengajak saya untuk berpasangan dengannya untuk Pilgub,” kata sang anak menyampaikan kepada Desmiliar, suaminya dan adik-adiknya.
“Keputusannya?” tanya Desmiliar, ketika itu.

Sang anak menyebutkan, kendati dirinya orang Solok, namun ia lahir, besar dan menjalani kehidupan di rantau. Belum pernah berbuat untuk kampung halaman. Tak mungkin untuk menerima pinangan tersebut.

Tapi, sang ayah melihat dari sudut lain. Sosok walikota yang datang kepadanya bukanlah sembarangan orang. Beliau orang politik, pernah di legislatif, menjabat walikota dan sosok ulama yang disegani. Tak mungkin Ia asal mencari pasangan. Tak mungkin Ia datang dan meminta jika tidak ada potensi lain yang tampak pada diri anaknya.

“Jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Ini saatnya  mengabdi untuk Sumbar. Berbuat untuk kampung halaman yang selama ini belum tersilaui,” kata sang ayah, Joinerri Kahar —akrab disapai Joi—,   yang kini Ketua Koperasi Saudagar Minang Raya.

Anak sulung pasangan Joinerri Kahar – Desmilia, bernama Audy Joinaldy. Ia kini berpasangan dengan Mahyeldi pada Pilgub Sumbar, tahun 2020. Desmiliar merupakan anak kelima dari Aisyah. Ayah dari Aisyah bernama Marah Adin, salah seorang tokoh deklarator Fakultas Pertanian Unand. Pernah menjadi Kepala Dinas Pertanian Sumatera Tengah, menjadi Ketua Panitia Pembentukan Kota Solok, Sumbar. Nama kakek buyut Audy ini digoreskan sebagai nama jalan di Solok dan Kota Payakumbuh. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here