rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Bujuk Rayu Iklan Paylater

Bujuk Rayu Iklan Paylater

Ilustrasi iklan paylater.

Munculnya berbagai platform belanja online beberapa tahun terakhir telah mengubah kebiasaan belanja kita.

Membeli barang menjadi mudah kapan saja dan di mana saja. Hanya tinggal melihat – lihat produk yang disukai kita bisa langsung checkout.

Kemudahan ini semakin terfasilitasi sejak beberapa marketplace menawarkan Buy Now Paylater alias beli sekarang bayarnya nanti.

Paylater adalah istilah yang merujuk pada transaksi pembiayaan barang atau jasa.

Paylater memungkinkan pengguna untuk menunda atau mencicil pembayaran melalui suatu platform. Platform yang menyediakan ini pun beragam.

Mulai dari Shopee dengan SPaylater, GoPay dengan Gopay PayLater, OVO dengan OVO PayLater, dan masih banyak lagi.

Cara mendaftarnya pun sangat mudah, tinggal menyiapkan akun yang telah memiliki riwayat transaksi pembelian, data diri, dan foto bersama KTP.

Hanya dalam hitungan jam paylaternya sudah jadi. Lebih praktis dengan limit yang kadang jauh lebih besar ketimbang kartu kredit.

Marketplace kini tak lagi puas menjual barang dan jasa saja, tetapi ingin mengatur bagaimana konsumen membayar di platform mereka.

Atas keinginan ini muncullah paylater. Kredit mudah yang hanya bisa digunakan di marketplace.

Keberadaan paylater pun menguntungkan konsumen dan marketplace.

Dengan adanya paylater, konsumen bisa belanja apapun tanpa harus khawatir kantong jebol.

Marketplace pun untung karena volume penjualannya terus meningkat.

Berhubung startup paylater ingin tumbuh cepat, akhirnya dibuat platform kredit yang besar dan aplikasi kredit yang memudahkan pengguna untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

Sukses Menjaring Banyak Konsumen

Paylater juga  sukses menjaring banyak konsumen karena trik marketing yang dibuat seheboh mungkin.

Iklannya dapat ditemukan di mana-mana, tagline nya pun sangat menarik dan promonya melimpah ruah.

Penggunaan paylater erat kaitannya dengan anak muda. Sebut saja Traveloka PayLater, mereka mengiklankan untuk mewujudkan impian dan self healing atau self care.

Sementara Shopeepaylater mengiklankannya dengan mengarah ke ibu bapak di kampung yang masih bisa belanja walaupun tak punya uang.

Melihat targetnya, tak heran jika 90% e-commerce sadar akan keberadaan paylater.

Kemudian kemudahan cara membayarnya yang dianggap paling superior karena pengguna bisa mencicil dan dapat menentukan jangka waktu pembayarannya sendiri dan banjir promo.

Pandemi Covid-19 Juga Membantu

Pandemi Covid-19 pun turut menyukseskan paylater karena selama pandemi pengguna paylater meningkat.

Hal ini terjadi karena kebiasaan belanja impulsive untuk melampiaskan stress. Ditambah lagi banyak orang yang kehilangan mata pencaharian akibat pandemi.

Tagihan yang harus dibayar lalu kebutuhan sehari-hari yang terus berjalan.

Keinginan belanja ada, namun uangnya yang tak ada. Solusinya dengan mengaktifkan paylater.

Kemudahan mendapatkan paylater dengan limit yang besar membuat orang lupa bahwa paylater bukan sumber uang gratis, tetapi hutang.

Sejatinya hutang memang harus dibayar sebelum jatuh tempo.

Sayangnya banyak yang tidak paham akan hal tersebut menyebabkan banyak pengguna paylater yang gagal bayar.

Fenomena gagal bayar meningkat seiring pertumbuhan aplikasi keuangan yang menjamur dengan menawarkan kredit murah tapi dengan bunga tinggi.

Kemudahan metode pembayaran paylater yang banyak promo dan tidak ditawarkan oleh pembayaran tunai turut membuat orang-orang menjadi kalap.

Berkaca dari iklan paylater yang telah ada pemerintah juga perlu membuat regulasi pengiklanan financial.

Karena iklan paylater hanya menggambarkan sisi positifnya saja namun luput memberitahukan hal – hal penting seperti bunga, tenor dan syarat ketentuan lainnya.

Iklan yang jelas dan jujur penting untuk mengedukasi konsumen dan juga sebagai bentuk layanan kepada konsumennya. (Enos)

 

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *