Padang, Rakyat Sumbar — Bagi warga Kampung Guo, RT 01/RW 06, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, jalan bukan sekadar hamparan aspal atau tanah yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Jalan Guo menuju Lubuk Tampurung merupakan bagian penting dari aktivitas sehari-hari mereka. Namun, banjir bandang yang menerjang kawasan itu pada Sabtu (10/10/2026) mengubah semuanya.
Sebagian badan jalan tergerus arus deras hingga terban. Akses menuju Lubuk Tampurung pun putus total, sementara sejumlah rumah yang berada di pinggir sungai menghadapi ancaman akibat tebing yang semakin terkikis.
Di tengah kondisi tersebut, warga tidak hanya berhadapan dengan kerusakan lingkungan dan terputusnya akses jalan. Mereka juga dihantui kekhawatiran akan keselamatan keluarga dan tempat tinggal jika hujan deras kembali mengguyur kawasan itu.
Wati, salah seorang warga Kampung Guo, masih mengingat derasnya air yang datang secara tiba-tiba. Dalam situasi yang serba terbatas, ia tidak sempat menyelamatkan banyak barang miliknya.
“Air datang deras sekali. Banyak peralatan dan barang jualan saya hanyut, tak sempat diselamatkan,” tuturnya dengan nada sedih.
Banjir tersebut memaksanya meninggalkan rumah. Kini, Wati bersama keluarganya menginap di rumah kerabat karena khawatir terhadap kondisi tempat tinggal mereka yang berada tidak jauh dari tebing sungai.
Bagi Wati, kehilangan barang bukan satu-satunya persoalan. Ada kecemasan yang terus membayangi setiap kali membayangkan hujan kembali turun dan arus sungai kembali membesar.
“Kami sangat takut. Kami berharap pemerintah segera menuntaskan mitigasi di daerah kami ini,” harapnya.
Upaya Penanganan dan Harapan Warga
Pantauan Ciloteh Wanipin pada Minggu (11/10/2026) memperlihatkan kondisi kawasan yang masih membutuhkan penanganan. Sebuah ekskavator terlihat beroperasi untuk membantu pekerjaan di lokasi terdampak.
Alat berat tersebut diturunkan oleh pihak PDAM Kota Padang untuk menangani pipa induk yang putus dan menonjol di kawasan permukiman. Selain itu, terdapat upaya penataan akses jalan yang mengalami kerusakan akibat tergerus banjir.
Meski penanganan telah terlihat di lapangan, jalan Guo menuju Lubuk Tampurung saat itu masih belum dapat dilalui. Kerusakan badan jalan menjadi persoalan mendesak yang perlu ditangani agar mobilitas warga dapat kembali berlangsung dengan aman.
Di sisi lain, kondisi tebing sungai yang terus tergerus juga membutuhkan perhatian serius. Penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan akses jalan, tetapi perlu mempertimbangkan keselamatan rumah dan warga yang berada di kawasan rawan.
Bagi masyarakat setempat, pemulihan setelah banjir bukan semata-mata soal mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana. Mereka membutuhkan kepastian bahwa langkah pencegahan dan mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko jika bencana serupa kembali terjadi.
Bukan Sekadar Memulihkan Jalan
Banjir bandang di Kampung Guo menyisakan persoalan yang lebih luas daripada kerusakan infrastruktur. Di balik jalan yang terputus dan tebing yang tergerus, terdapat warga yang berusaha memulihkan kehidupan di tengah rasa khawatir.
Wati dan keluarganya menjadi salah satu gambaran bagaimana bencana dapat mengubah rutinitas warga dalam waktu singkat. Rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung justru belum terasa aman untuk ditempati.
Kini, harapan warga tertuju pada langkah penanganan yang menyeluruh, mulai dari pemulihan akses jalan, penanganan tebing sungai, hingga upaya mitigasi yang dapat melindungi permukiman di sekitarnya.
Sebab, bagi warga Kampung Guo, jalan yang kembali terbuka memang penting. Namun, rasa aman untuk tetap tinggal di rumah sendiri, tanpa dihantui ancaman banjir dan longsoran tebing, jauh lebih berarti.
Bencana mungkin telah surut bersama aliran air, tetapi kecemasan warga belum sepenuhnya reda. (*)





