Bukittingi, rakyatsumbar.id—Di tengah gempuran permainan digital atau game gadget yang kian digandrungi oleh generasi muda, keberadaan permainan tradisional kini mulai terpinggirkan.
Menyadari hal tersebut, seorang pengkarya sekaligus mahasiswa Seni Rupa bernama Bayu Rahmat Risyah, mengambil langkah kreatif untuk kembali menghangatkan ingatan masyarakat terhadap warisan budaya lokal melalui media mural.

Karya terbarunya, Bayu mengangkat permainan tradisional asal Minangkabau yang hampir terlupakan Catur Harimau.
Konsep karya ini tidak menampilkan permainan secara dokumenter atau kaku, melainkan mentransformasikannya menjadi mural ilustratif yang ramah, terbuka, dan mudah dipahami oleh audiens kontemporer di ruang publik.
Bayu Rahmat Risyah mengatakan, konsep karyanya, Catur Harimau diperlakukan sebagai objek budaya yang layak dibaca ulang menggunakan bahasa visual masa kini. Pilihan ini diambil agar permainan tradisional tersebut hadir sebagai budaya yang aktif dan relevan, bukan sekadar artefak masa lalu yang terpisah dari kehidupan modern.
“Lebih dari sekadar hiburan, permainan tradisional ini sebenarnya menyimpan ingatan kolektif, strategi sosial, serta nilai pewarisan antar-generasi yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak,” ucapnya saat kegiatan Sekolah Alam Bukittinggi yang dilaksanakan tanggal 13 hingga 14 Juli 2026.
Bayu menambahkan, saat ini anak-anak tidak bisa dipaksa begitu saja untuk bermain permainan tradisional karena game di gadget memang lebih menarik. Namun secara tidak sadar, permainan digital membuat mereka pasif. Sebaliknya, permainan tradisional seperti Catur Harimau melatih fisik, mental, psikologis, kemampuan menyusun strategi, hingga kecekatan dan interaksi sosial anak. Paparnya.
Bayu menyatakan, Mural yang menyasar area sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) ini secara sadar menempatkan simbol-simbol lokal Minangkabau dalam struktur komposisinya.
Unsur-unsur kultural seperti Rumah Gadang, warna marawa (hitam, merah, kuning), deta, tingkuluak tanduak, hingga lanskap pegunungan dihadirkan bukan semata sebagai tempelan ornamen, melainkan sebagai penegas identitas visual dan konteks kultural yang kuat terhadap permainan Catur Harimau.
Sebagai seni publik yang bekerja langsung di ruang terbuka, mural dapat diposisikan sebagai media edukasi dan komunikasi interaktif yang dapat diakses langsung oleh anak-anak.
Bayu menuturkan, melalui mural membawa misi besar untuk memperkenalkan kembali ilmu seni rupa sekaligus nilai budaya lokal kepada generasi muda. Semoga karya ini dapat menjadi pemantik agar anak-anak kembali tertarik bermain di ruang terbuka dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
“Anak-anak dapat mengenal dunia seni rupa lebih dekat, khususnya seni mural yang sifatnya lebih fleksibel dan langsung menyentuh audiens dibanding pameran di galeri. Sekaligus, lewat pengenalan Catur Harimau ini menghidupkan kembali nilai permainan tradisional secara bersamaan,” paparnya.
Wakil Kepala Sekolah Alam Bukittinggi Yulia Utari mengungkapkan rasa senangnya atas kehadiran lukisan dinding yang tidak hanya mempercantik lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan pengalaman dan ilmu baru yang sangat berharga bagi para siswa.
Lukisan mural ini sangat menarik bagi anak-anak. Ketika awal masuk sekolah setelah libur, mereka melihat visualnya dan langsung bertanya mengenai apa itu Catur Harimau.
“Selama ini mereka mungkin hanya tahu catur biasa, dan lewat mural ini mereka mendapatkan pengetahuan baru tentang permainan tradisional yang sudah jarang ditemui oleh generasi modern saat ini,” tuturnya.
Yulia menambahkan, sekolah sudah pasti merasakan dampak yang sangat positif dari kegiatan ini dan berharap akan ada lebih banyak permainan tradisional lain yang diangkat dan divisualisasikan melalui karya seni di lingkungan sekolah. (ned)





