Utama  

Universitas Islam Sumatera Barat Gelar Puncak Dies Natalis ke-3

Universitas Islam Sumatera Barat (UISB) Gelar Puncak Dies Natalis ke-3.

Padang, Rakyat Sumbar – Universitas Islam Sumatera Barat (UISB) menyelenggarakan perayaan Dies Natalis ke-3 dengan tema “UISB Melesat: Bergerak Serentak Mengukir Jejak”, bertempat di Gedung B Kampus UISB, dalam suasana kebersamaan yang menggugah dan penuh semangat akademik. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan capaian tiga tahun perjalanan institusi sekaligus menegaskan arah strategis ke depan.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UISB dalam Sidang Senat Terbuka, yang dalam sambutannya menyampaikan visi besar universitas untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang bermartabat, unggul, dan berdaya saing tinggi secara nasional maupun internasional. Rektor menegaskan bahwa era baru UISB menuntut sinergi antar elemen kampus, dosen, tenaga pendidikan (tendik), dan mahasiswa untuk bergerak serentak mewujudkan tujuan bersama.

“Sebagai universitas yang sedang tumbuh, kita memiliki misi besar untuk menjadi universitas yang besar. Ini bukan sekadar ambisi, tetapi panggilan wajib yang harus kita jalankan bersama. Saya berharap semua civitas akademika UISB muali dari dosen, tendik, dan mahasiswa harus kompak, saling mendukung, dan berpadu langkah demi langkah menuju tujuan mulia tersebut,” ujar Rektor dalam sambutannya.

Sambutan Rektor mencerminkan kesadaran kolektif akan pentingnya kebersamaan dalam dinamika perkembangan perguruan tinggi. Menurutnya, kekuatan sebuah universitas tidak hanya diukur dari infrastruktur atau jumlah publikasi, tetapi terlebih dari kualitas hubungan manusia-manusia di dalamnya antara pengajar dan pelajar, antara administrasi dan akademisi, serta antara kampus dan masyarakat luas.

Perayaan Dies Natalis ke-3 UISB ini juga dimeriahkan oleh Orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A., selaku Wakil Rektor I UISB. Orasi ilmiah ini menjadi titik puncak intelektual acara, menghadirkan gagasan-gagasan mendalam yang relevan dengan tantangan pendidikan tinggi di era globalisasi dan digitalisasi ilmu pengetahuan.

Dalam orasinya, Prof. Sudarman menekankan sebuah realitas penting: bahwa algoritma sitasi menentukan kita diakui. Pernyataan ini bukan sekadar metafora akademik, tetapi sebuah panggilan untuk menginternalisasi nilai-nilai keilmuan agar karya intelektual UISB diakui secara sah dan bermakna dalam komunitas akademik global.

Menurut Prof. Sudarman, algoritma sitasi saat ini menjadi indikator pengakuan akademik dalam dunia riset, hal tersebut bukanlah sekadar angka statistik, melainkan representasi kualitas pemikiran, relevansi dampak sosial, serta konsistensi kontribusi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, setiap publikasi yang disitasi merupakan jejak pengaruh pemikiran UISB dalam jaringan pengetahuan global.

“Kita harus menjadi arsitek peradaban. Demokrasi ilmu pengetahuan harus dijunjung tinggi, karena UISB mempunyai tanggung jawab besar untuk mengintegrasikan antara agama dan ilmu pengetahuan — bahwa agama dan ilmu pengetahuan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” tegas Prof. Sudarman.

Tiga Pilar Fokus Strategis

Dalam orasinya, Prof. Sudarman menguraikan tiga pilar strategis yang menjadi landasan intelektual UISB sebagai universitas yang dinamis dan responsif terhadap realitas zaman:

1. Demokrasi Ilmu Pengetahuan

Prof. Sudarman menegaskan bahwa universitas memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menghasilkan lulusan berkualitas. UISB dituntut menjadi pusat demokrasi ilmu pengetahuan — di mana ilmu dibuka untuk semua, dipahami secara kritis, dan mampu berinteraksi dengan dampak sosial secara langsung. Menurutnya, UISB harus mengintegrasikan nilai-nilai agama sebagai fondasi moral dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern, sehingga keilmuan yang dihasilkan tidak hanya cerdas tetapi juga bermartabat.

2. Ekonomi Syariah Digital

Dalam konteks global yang semakin terdigitalisasi, Prof. Sudarman menggagas bahwa UISB perlu mengambil posisi strategis dalam gerakan ekonomi syariah digital. Ia menekankan bahwa pemahaman ekonomi syariah tidak boleh terpaku pada kerangka konvensional semata, tetapi harus menjelajah ke ranah digital — menciptakan solusi bagi tantangan ekonomi umat di era teknologi. Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi komunitas Muslim, tetapi juga menjadi kontribusi signifikan terhadap cara berpikir ekonomi modern yang mengedepankan keadilan, inklusivitas, dan kesejahteraan bersama.

3. Diplomasi Global dan Kontra Narasi

Prof. Sudarman juga membahas tantangan global seperti Islamophobia yang masih kerap mempengaruhi persepsi dunia terhadap Islam dan dunia Muslim. Menurutnya, UISB harus memainkan peran aktif dalam diplomasi global berbasis ilmu pengetahuan dan narasi positif. “Dunia penuh dengan Islamophobia. Kita harus menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Tampakkan kepada dunia bahwa wajah Islam adalah wajah yang ramah, damai, dan penuh kebaikan,” ujarnya.

Dengan pendekatan ilmiah dan humanis, UISB dinilai mampu menjadi suara intelektual yang membawa perspektif baru tentang Islam dalam konteks pelbagai disiplin ilmu — dari sosial hingga teknologi.

Perayaan Dies Natalis ke-3 UISB bukan saja sebuah perayaan, tetapi juga sebuah deklarasi komitmen bahwa UISB siap “melesat” menuju puncak prestasi — bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi sebagai ruang bersama yang merawat kreativitas, keberagaman, dan kecerdasan moral. (*)