OPINI  

Tri Amal Menyambut Ramadhan: Sabar, Syukur, dan Senyum

Oleh: Khairul Ikhwan

(Wakil Ketua Dewan Pakar IKA Unand)

Ramadhan kembali hadir sebagai tamu agung yang dinanti umat Islam. Bulan penuh berkah, ampunan, dan rahmat ini selalu disambut dengan berbagai persiapan: membersihkan rumah, menata jadwal ibadah, menyiapkan menu sahur dan berbuka, hingga merancang berbagai kegiatan sosial.

Namun di tengah semua persiapan lahiriah itu, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: sudahkah hati benar-benar siap menyambutnya?

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum pembinaan diri, ruang latihan spiritual untuk membentuk pribadi yang lebih matang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Agar Ramadhan tidak berlalu tanpa makna, ada tiga bekal utama yang perlu disiapkan: sabar, syukur, dan senyum.

Sabar: Fondasi Ketahanan Iman

Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 153 agar orang-orang beriman memohon pertolongan dengan sabar dan shalat. Pesan ini menegaskan bahwa sabar adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Dalam Ramadhan, sabar hadir dalam tiga bentuk: sabar menjalankan perintah, sabar menahan diri dari larangan, dan sabar menghadapi ujian. Ujian itu bisa sangat sederhana: terik matahari di siang hari, pekerjaan yang menumpuk, atau emosi yang mudah terpancing.

Rasulullah SAW dalam riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim menegaskan bahwa puasa adalah perisai. Jika seseorang mengajak bertengkar, orang yang berpuasa diminta mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Artinya, puasa bukan hanya latihan fisik, tetapi juga latihan pengendalian diri. Tanpa sabar, puasa hanya menyisakan lapar dan dahaga.

Syukur: Energi yang Melapangkan Hati

Ramadhan juga menghadirkan paradoks yang indah. Saat asupan fisik dikurangi, justru rasa syukur harus diperbesar. Allah SWT berfirman dalam Ibrahim ayat 7 bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya.

Lapar dan haus semestinya menyadarkan kita betapa berharganya makanan dan air yang selama ini sering dianggap biasa. Ketika azan Magrib berkumandang dan seteguk air menyentuh tenggorokan, di situlah makna nikmat terasa nyata.

Syukur mengubah puasa dari beban menjadi kebahagiaan. Keluhan membuat hati sempit, sementara rasa terima kasih melapangkan dada.

Dalam riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa seluruh urusan orang mukmin itu baik: saat mendapat nikmat ia bersyukur, saat diuji ia bersabar. Ramadhan mempertemukan keduanya dalam satu waktu.

Senyum: Sedekah yang Paling Mudah

Di tengah ritme puasa yang menguras energi, ada satu amalan ringan namun berdampak besar: senyum. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Jami at-Tirmidzi bahwa senyum kepada saudara adalah sedekah.

Puasa seringkali membuat sebagian orang mudah tersinggung. Wajah menjadi masam, tutur kata terasa keras. Padahal, senyum adalah tanda kemenangan melawan hawa nafsu.

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Keramahan beliau bukan sekadar etika sosial, melainkan cerminan hati yang lapang dan penuh kasih.

Di kantor, di jalan, di rumah, senyum mampu mencairkan suasana dan menebarkan energi positif. Ia sederhana, tetapi bernilai besar.

Momentum Pembaruan Diri

Ramadhan hanya datang sebulan dalam setahun. Ia singkat, tetapi dampaknya bisa panjang jika dijalani dengan kesadaran.

Sabar menjaga keteguhan ibadah.

Syukur melapangkan hati.

Senyum menguatkan hubungan antarsesama.

Tiga amal ini bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang bisa dimulai hari ini. Jika nilai-nilai ini tumbuh selama Ramadhan, ia akan membentuk karakter yang lebih matang dan beradab.

Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, tetapi kesempatan memperbaiki diri. Saatnya menyambutnya bukan hanya dengan persiapan fisik, tetapi juga kesiapan jiwa.

Selamat menyambut Ramadhan. Semoga bulan suci ini benar-benar menjadi ruang pembaruan diri dan menghadirkan keberkahan bagi kita semua.(*)