Padangpanjang, rakyatsumbar.id–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padangpanjang mengambil langkah tegas terhadap dua kepala sekolah, usai terkuaknya perbuatan asusila antara guru dan siswa serta perbuatan asusila yang meresahkan warga sekolah dan masyarakat, di dua lembaga pendidikan di kota berjuluk Serambi Mekah itu.
“Dua kepala sekolahnya telah kita bebastugaskan terhitung 26 Februari 2026,” kata Kepala Disdikbud Kota Padangpanjang Nasrul, SH., M.Si kepada Rakyat Sumbar, Jum’at (27/02/2026).
Dikatakan Nasrul, langkah tegas yang diambil Pemko Padangpanjang itu, sebagai bentuk teguran terhadap kinerja kepala sekolah dan memindahkan yang bersangkutan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Untuk sementara, kedua sekolah tersebut akan dipimpin Pelaksana Tugas menjelang adanya mutasi dari Wali Kota Padangpanjang dalam waktu dekat,” sebutnya.
Untuk penanganan kasus asusila tersebut, lanjut Nasrul, pihaknya menyerahkan sepenuhnya terkait proses hukumnya kepada aparat penegak hukum. Mengingat, telah adanya laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian.
“Kita tunggulah perkembangan selanjutnya, saat ini yang bersangkutan telah kita bebastugaskan, termasuk dua kepala sekolah tempat guru mengajar dan siswa bersekolah,” tutup Nasrul.
Lakukan Deteksi Dini
Mencuatnya kasus asusila yang terjadi di lembaga pendidikan, Tim Penggerak PKK Kota Padangpanjang mendorong adanya penguatan karakter dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padangpanjang, Ny. Maria Feronika Hendri, mengunjungi SMPN 6 untuk memberikan pembinaan sekaligus melaksanakan screening kesehatan mental bagi para siswa, Jumat (27/02/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen TP PKK dalam mendukung terciptanya sekolah yang aman, ramah anak, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan. Selain melakukan deteksi dini kondisi psikologis siswa, kegiatan tersebut juga diisi dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sejak usia remaja.
Dalam arahannya, Ny. Maria menjelaskan, kesehatan mental memiliki peran penting dalam mendukung prestasi dan perkembangan karakter peserta didik. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai potensi kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk perundungan dan kekerasan seksual.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat secara fisik dan mental. Dengan pemahaman yang baik, mereka akan mampu menjaga diri, memahami batasan, serta berani melapor apabila menghadapi atau menyaksikan tindakan yang tidak semestinya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 6, Alfabeta Nazar menyampaikan apresiasi atas perhatian TP PKK terhadap kesehatan mental dan perlindungan siswa. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu sekolah dalam memperkuat program pembinaan karakter dan pencegahan kekerasan.
Ia menambahkan, pihak sekolah berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran bersama bahwa kesehatan mental dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen, baik sekolah, keluarga, maupun pemerintah, demi terwujudnya generasi yang tangguh dan berkarakter. (ned)





