Ketulusan yang Tak Pernah Berubah: Firdaus HB Saksikan Tri Rismaharini Menyatu dengan Korban Bencana di Sumbar

Firdaus HB mendampingi Buk Riisma menyusuri Palembayan hingga Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Medan sulit, jalan terputus, hingga harus berganti kendaraan dari mobil ke pikap, bahkan motor, tak menyurutkan langkahnya. Hingga larut malam, Risma masih mendatangi posko pengungsian terjauh, berbincang dengan warga, dan mencatat langsung kebutuhan mereka.

Agam, Rakyat Sumbar— Di tengah lumpur, genangan banjir, dan wajah-wajah letih warga Sumatera Barat yang dilanda bencana, satu sosok kembali hadir tanpa jarak dan tanpa seremonial. Tri Rismaharini. Datang bukan untuk dilihat, tetapi untuk melihat. Bukan untuk disambut, melainkan untuk menyambut duka masyarakat.

Kesaksian itu disampaikan langsung oleh Firdaus HB, tokoh perantau Minangkabau di Jawa Timur, yang sejak lama bersinergi dengan Risma dalam berbagai misi kemanusiaan.

“Atas nama Keluarga Besar Warga Kota Surabaya asal Minang, saya sangat terharu,” ujar Firdaus HB.

“Saya sudah bersinergi dengan Bu Risma sejak 2003, dan apa yang saya lihat hari ini adalah ketulusan yang sama—turun, mendengar, dan bekerja.”

Firdaus menuturkan, setiap kali musibah melanda Sumatera Barat, Tri Rismaharini hampir selalu menjadi orang pertama yang menghubunginya. Sejak masih menjabat Wali Kota Surabaya, kemudian sebagai Menteri Sosial RI, hingga kini sebagai Ketua Baguna DPP PDI Perjuangan, kepedulian itu tidak pernah berubah.

“Bu Risma selalu menelepon lebih dulu. Menanyakan kondisi korban, situasi di lapangan, dan apa yang bisa segera dibantu. Beliau tidak menunggu laporan resmi, beliau ingin tahu langsung,” kata Firdaus.

Pada akhir November lalu, ketika banjir, longsor, dan galodo kembali menghantam sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Tri Rismaharini kembali bergerak cepat. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Baguna, ia mengoordinasikan bantuan dari Padang, Surabaya, dan Jakarta. Tak hanya mengirim logistik, Risma memilih turun langsung ke lokasi terdampak.

Bersama Firdaus HB, Risma menyusuri Palembayan hingga Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Medan sulit, jalan terputus, hingga harus berganti kendaraan dari mobil ke pikap, bahkan motor, tak menyurutkan langkahnya. Hingga larut malam, Risma masih mendatangi posko pengungsian terjauh, berbincang dengan warga, dan mencatat langsung kebutuhan mereka.

“Tidak ada jarak. Tidak ada formalitas. Bu Risma menyatu dengan masyarakat. Duduk bersama, mendengar keluhan, menghibur, lalu bekerja,” ungkap Firdaus.

Yang paling membekas bagi Firdaus adalah sikap Risma saat hujan kembali turun di lokasi bencana. Ketika warga mengingatkan potensi banjir susulan, Risma menolak untuk menjauh.

“Beliau tidak mau meninggalkan warga dalam kondisi terancam. Bahkan beliau bilang, kalau perlu kita kena banjir bersama masyarakat,” kenang Firdaus.

Komitmen itu bukan sekadar kata. Pada 31 Desember, menjelang pergantian tahun, Tri Rismaharini kembali hadir di Sumatera Barat. Ironisnya, banjir kembali terjadi saat ia berada di lokasi. Namun Risma tetap turun, ikut bergotong royong membersihkan saluran air, masuk ke perkampungan yang tergenang, dan membantu warga tanpa pengawalan berlebih.

“Ini bukan pencitraan. Ini adalah ketulusan,” tegas Firdaus.

Ia menambahkan, Risma juga berpesan agar kondisi masyarakat pascabencana terus dipantau setidaknya selama dua bulan ke depan. Sebab dampak bencana tidak berhenti pada hari air surut—sawah hancur, rumah rusak, hingga keramba di Maninjau yang terganggu, menjadi luka panjang bagi masyarakat.

Sebagai tokoh perantau Minang di Jawa Timur yang telah 12 tahun aktif memimpin organisasi warga Minang, Firdaus HB menyampaikan apresiasi mendalam kepada Tri Rismaharini dan Baguna DPP PDI Perjuangan.

“Semoga semua bantuan ini benar-benar bermanfaat, menghibur para korban, dan menjadi amal ibadah bagi semua yang terlibat,” pungkasnya.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan sorotan kamera, kisah ini menjadi pengingat: masih ada pemimpin yang memilih turun ke lumpur, bukan naik ke panggung.(*)