Bertemu Hendri Arnis, Panda Nababan: “Ibu Saya Dulu Bersekolah di Padangpanjang”

Wali Kota Padangpanjang Hendri Arnis saat berdikusi dengan Wartawan dan Politikus Senior Nasional Panda Nababan, jelang peringatan puncak Hari Pers Nasional di Kota Serang, Banten, Senin (09/02/2026).
Wali Kota Padangpanjang Hendri Arnis saat berdikusi dengan Wartawan dan Politikus Senior Nasional Panda Nababan, jelang peringatan puncak Hari Pers Nasional di Kota Serang, Banten, Senin (09/02/2026).

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2026 yang dipusatkan di Serang, Banten, memberi kenangan tersendiri bagi Hendri Arnis, Wali Kota Padangpanjang yang secara tidak teragenda bertemu wartawan senior Panda Nababan, yang sama-sama akan mengikuti peringatan Puncak HPN di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang, Senin (09/02/2026).

“Wali Kota Padangpanjang ya, yuk ngopi,” sapa Panda Nababan saat bertemu Hendri Arnis di sudut Hotel Horison TC-UPI. Pertemuan yang tidak direncanakan itu, berlangsung cair, karena dua tokoh itu, sama-sama ahli hisap alias perokok.

“Kalau merokok, tidak ngopi, rasanya seperti makanan tanpa garam,” kelakarnya pada Hendri Arnis yang didampingi Kadis Kominfo Harry Rezka Pradana dan rombongan PWI dari kota berjuluk Serambi Mekah itu.

Bagi Politikus PDI-Perjuangan itu, meskipun tidak begitu mengenal Padangpanjang, tetapi dikenangannya begitu melekat nama Padangpanjang sebagai tempat ibundanya, Erna Intan Dora Lumbantobing yang mengenyam pendidikan di zaman kolonial Belanda.

“Ibu saya dulu sekolahnya di Diniyyah Padangpanjang, kalau dulu namanya gak salah Diniyah School, zaman Belanda. Berbekal pendidikan dan karena ia juga seorang guru, kami diajari tentang agama dan membentuk kami hingga sekarang,” kenang Panda Nababan mengingat sang Ibunda.

Politikus senior Indonesia kelahiran Siborong-borong Tapanuli 13 Februari 1944 itu, sejak mahasiswa Panda sudah aktif di berbagai organisasi kampus. Dia pernah menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan menjadi ketua Departemen Organisasi di Gerakan Mahasiswa Bung Karno di Jakarta.

Kariernya dimulai ketika menjadi wartawan di Warta Harian tahun 1969. Kurang lebih satu tahun di sana, Panda pun diangkat menjadi redaktur di Sinar Harapan. Setelah tujuh tahun menjadi redaktur, Panda pun ditarik menjadi Wakil Pemimpin Umum di Prioritas, hingga menjadi Kepala Litbang di Media Indonesia.

Ketika menjadi wartawan, Panda pernah meraih penghargaan jurnalistik Hadiah Adinegoro. Selama menjadi wartawan, ia juga terdaftar sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari tahun 1970 hingga 1975.

Panda menikah dengan Riama Purba dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Putri Nababan, Putra Nababan dan Anggi Nababan. Pada 2018 lalu, istrinya meninggal dunia akibat penyakit leukimia yang dia derita selama dua tahun.

Salah satu anak Panda, yakni Putra Nababan, juga berprofesi sebagai jurnalis dan pembaca berita di televisi nasional. Pada tahun 2010, Putra Nababan pernah meraih penghargaan Panasonic Award sebagai Pembaca Berita Terfavorit.

Pada tahun 1993, Panda memilih terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI. Setelah PDI dihantam konflik internal dan perpecahan, Panda memilih kubu Megawati di PDI Perjuangan.

Di PDIP, Panda pernah menjadi anggota DPR RI untuk Komisi III yang bergerak di bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Kendati demikian, pada tahun 2011, Panda menjadi terpidana kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.

Menjelang menutup diskusi ringan yang penuh makna itu, Panda Nababan juga berpesan kepada Hendri Arnis untuk tidak alergi setiap kritik yang disampaikan, apalagi kritik oleh media massa.

“Hormatilah kawan dan peliharalah lawan. Karena, kawan akan menemani perjalanan kita dan lawan akan menjaga langkah kita,”pesanya.

Hendri Arnis juga mengucapkan terima kasih kepada wartawan yang juga politikus kawakan itu. Dimana, ia juga mengundang Panda Nababan untuk berkunjung ke Padangpanjang dan melakukan napak tilas perjalanan orangtuanya di Padangpanjang.

“Saya berterima kasih sekali atas wejangan yang diberikan kepada kami, sebagai generasi muda, kami akan terus melakukan yang terbaik untuk kemajuan bangsa dan negara,” ucap Hendrir Arnis.

Saksi Hidup Orde Baru

Wartawan senior Panda Nababan membagikan pengalaman pribadinya sebagai saksi hidup masa Orde Baru, ketika rezim Soeharto menggunakan isu Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menekan lawan politik dan membungkam kritik publik.

Dalam kesaksiannya, Panda menggambarkan kehidupan aktivis dan wartawan yang penuh ketakutan karena ancaman penangkapan dan sensor negara.

Panda menuturkan bahwa dirinya pernah merasakan secara langsung dituduh sebagai orang yang terlibat PKI. Tuduhan itu digunakan untuk menyerang pihak-pihak yang dianggap mengganggu kekuasaan. Ia bersama Taufiq Kiemas pernah ditahan tanpa bukti hanya karena aktif dalam organisasi mahasiswa.

“Saya dan Taufiq Kiemas termasuk orang yang di-PKI-kan. Kami ditahan tanpa bukti, hanya karena aktif berorganisasi. Soeharto memelihara isu PKI untuk menyerang lawan-lawan politiknya. Ini bukan cerita, tapi fakta yang saya alami,” kenang Panda.

Sebagai wartawan, Panda merasakan ketatnya sensor dan tekanan terhadap media. Banyak topik yang dilarang diberitakan, terutama jika menyangkut militer atau keluarga Cendana. Situasi tersebut membuat wartawan bekerja di bawah ancaman yang terus-menerus.

“Kami hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Tidak bisa menulis soal hal-hal yang dianggap sensitif, apalagi menyangkut anak-anak Cendana,” ujarnya.

Panda juga mengenang kunjungannya ke Pulau Buru, lokasi pembuangan tahanan politik yang dituding terlibat PKI. Menurutnya, pulau itu menjadi simbol kekejaman rezim terhadap warga negara yang tidak diberikan proses hukum yang adil.

“Pulau Buru adalah noda hitam yang sukar dihapus dari sejarah bangsa. Saya pernah ke sana, bertemu langsung dengan Pramoedya Ananta Toer, dan mendengar sendiri betapa kejamnya kehidupan di sana,” katanya.

Selain itu, ia mengingat kekerasan yang menimpa warga Nahdlatul Ulama (NU) di Losarang, Indramayu, menjelang Pemilu 1971. Ia menyebutkan bahwa pesantren dan basis-basis massa NU menjadi sasaran penyerangan.

“Saya melihat sendiri basis-basis NU dihancurkan, pesantren dirusak, dan Al-Qur’an berserakan. Itu bukan fitnah, tapi pengalaman nyata yang saya alami,” ungkapnya.

Panda juga menyinggung kebijakan Penelitian Khusus (Litsus) yang digunakan pemerintah untuk menyeleksi dan mengawasi latar belakang politik warga, termasuk pegawai negeri. Eks tapol, misalnya, diberi KTP dengan kode ET yang berdampak pada keterbatasan hak sosial dan politik mereka.

“Eks tapol diberi KTP dengan kode ET seumur hidup. Itu cara halus menyingkirkan mereka dari kehidupan sosial dan politik,” jelasnya.

Menurut Panda, kekuasaan Soeharto berlangsung dengan logika pengendalian politik yang sangat personal. Tokoh-tokoh nasional yang dianggap tidak sejalan, seperti Jenderal Hoegeng dan A.H. Nasution, disingkirkan dari lingkar kekuasaan, termasuk Jenderal Soemitro dan Benny Moerdani yang hubungan politiknya memburuk setelah menyentuh kepentingan ekonomi keluarga Cendana.

“Soeharto tidak mau satu atap dengan orang yang dianggap musuhnya. Itu menunjukkan betapa personal dan otoriternya kekuasaan pada masa itu,” kata Panda.

Inspirasi Wartawan Zaman Now

Sebagai seorang wartawan, pemilik nama lengkap Pandapotan Maruli Asi Nababan itu mengungkapkan kisah perjalanan hidupnya sejak masih berusia muda hingga berusia 70 tahun. Dimana, buku setebal 1.051 halaman itu, dibuat dalam dua buku. Judul utamanya Lahir Sebagai Petarung. Kalau buku satu diberi judul Menunggang Gelombang maka buku dua dengan judul Dalam Pusaran Kekuasaan.

Meski begitu, buku ini tetap menarik dan patut dibaca oleh siapa saja, terlebih para wartawan zaman now, bisa menginspirasi untuk berkarya menjadi wartawan yang berkualitas dan profesional. Secara tidak langsung, Panda lewat buku biografinya memberi pelajaran bagaimana menjadi seorang wartawan investigasi.

Sebagai wartawan di masanya, Panda dalam bukunya itu sekaligus mengajarkan kita bagaimana membuka sekaligus membangun relasi dengan nara sumber, termasuk pejabat pemerintah, penegak hukum mulai dari  pimpinan Polri, kejaksaan hingga pimpinan ABRI/TNI.

Dalam kurun waktu yang panjang, Panda mampu merawat  relasi tersebut sebaik-baiknya. Suatu kemampuan yang tak bisa dimiliki oleh banyak orang.

Dengan Prabowo Subianto atau Luhut Binsar Panjaitan misalnya. Kedua jenderal purnawirawan TNI ini sudah berkenalan sejak lama, dan persahabatan mereka masih terjalin  hingga sekarang. Panda mengenal Luhut ketika menjadi wartawan di Sinar Harapan (SH) dulu. Tak heran, dia biasa memanggil Luhut dengan hanya menyebut nama belakangnya, “Hut”.

Komunikasi Panda dengan Prabowo terjalin  ketika ia menjadi Ketua Pansus DPR yang mengusut tragedi Semanggi.

Dalam buku otobiografinya, Panda mengungkapkan bagaimana perkawanan nya dengan Menhan dan Menko Kemaritiman dan Investasi itu. Percaya atau tidak, baik Luhut maupun Prabowo pernah meminta bantuan ke Panda.

Mantan Presiden  SBY dan mantan Wapres Jusuf Kalla pun mengenal Panda. Terlebih dengan  Presiden Joko Widodo (Jokowi), mereka dekat sekali, dan jauh sebelum menjadi presiden, keduanya sudah akrab dan sering bertukar pikiran.

Hampir semua Jaksa Agung adalah sahabat baiknya. Begitu juga dengan Kapolri, rasanya tidak ada yang tidak menjadi kawannya. Bahkan, ketika Kapolri masih dijabat Hoegeng Iman Santoso  atau  Awaluddin Djamin, Panda sebagai wartawan menjalin hubungan baik dengan keduanya.

Dengan M Jusuf dan LB Moerdani atau Sudomo yang pernah menjadi pucuk pimpinan ABRI sudah tak asing dengan  Panda Nababan. Begitu juga dengan Menlu Adam Malik atau dengan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro, salah satu penguasa di era Orde baru, hubungan mereka cukup baik.

Masih banyak tokoh yang pernah menjadi orang penting disebut Panda dalam bukunya sebagai kawan baiknya. Sebut saja mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Khusus dengan Megawati Soekarnoputri dan suaminya Taufiq Kiemas almarhum, sudah dikenal Panda sejak puluhan tahun silam.

Panda dan Taufiq Kiemas pernah dua kali tahanan politik di sel RTM Budi Utomo. Dalam bukunya, kita bisa mengetahui awal mulanya Megawati dan Taufiq terjun ke dunia politik.

Dalam buku itu pun diceritakan seperti apa peran Panda membantu Megawati dan Taufiq pada masa-masa sulit. Bahkan, ketika Megawati sudah menjadi Ketua Umum PDI P  sekaligus Wakil Presiden RI dan suaminya saat sebelum dan setelah  Ketua MPR RI, Panda masih sering berdiskusi dengan mereka, apalagi ketika itu Panda adalah anggota DPR RI dari Fraksi PDI P. Ada nilai historis dan idiologis dalam persahabatan mereka.

Tak heran, banyak tokoh yang mengakui Panda Nababan sebaga wartawan kawakan, idealis,  wartawan handal, berintegritas dan tak kenal kompromi. Dia berani menghadapi kesulitan sebesar apa pun untuk tugasnya sebagai wartawan.

Buktinya, Panda meraih trophy Adinegoro dari PWI Jaya atas prestasinya sebagai jurnalis. Sebuah penghargaan prestius untuk insan pers di tanah air, karena kerja jurnalistiknya. (Jon Kenedi)