Utama  

Bencana Berulang di Sumbar Akibat Kepemimpinan Munafik dan Pelanggaran Nilai ABSSK

Inyiak Sunhadi,

Padang, rakyatsumbar.id — Inyiak Sunhadi, Sumando yang baru memasuki masa Purna Bhakti dari PT Telkom Indonesia melontarkan kritik tajam terhadap kondisi sosial, kepemimpinan, dan salah satu penyebab berulangnya bencana alam di Sumatera Barat.

Sebagai seorang Sumando yang dihormati dan penyandang gelar Inyiak, ia menegaskan bahwa bencana yang hampir setiap tahun melanda wilayah ini bukan hanya masalah alam semata, melainkan juga cermin dari krisis moral dan penyimpangan nilai filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABSSK).

Menurut Sunhadi, mulai dari pengrusakan hutan secara ilegal oleh oknum pejabat dan aparat yang seharusnya menjaga lingkungan, hingga ketidakpatuhan terhadap aturan dan nilai agama, menjadi salah satu faktor utama yang memperparah risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor yang kerap menelan korban. “Musibah bukan hanya ujian, tetapi juga akibat nyata dari kelalaian manusia dalam menjaga ciptaan Allah,” ujarnya

Lebih jauh, Sunhadi menyoroti perilaku munafik sebagaian para pejabat yang tidak menjalankan ABSSK dengan sungguh-sungguh. Ada juga pejabat yg terlibat dalam maksiat, penyalahgunaan kekuasaan, dan perilaku menyimpang termasuk narkoba dan prostitusi yang menggerus tatanan moral masyarakat. Keadaan ini diperparah oleh sikap diam dan apatis dari institusi keagamaan, ulama, serta kalangan akademisi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memperbaiki kondisi sosial

Ia menuturkan bahwa agama kini banyak dijadikan stempel simbolik tanpa makna mendalam, sehingga masyarakat kehilangan pegangan spiritual untuk menjalankan kehidupan sesuai nilai-nilai luhur Minangkabau. Fenomena ini juga berdampak pada menurunnya kepedulian terhadap lingkungan dan norma sosial yang pada akhirnya berkontribusi terhadap terjadinya bencana.

Sebagai kota yang dikenal dengan gelar “Sarambi Mekah” dan “Sarambi Madinah,” daerah seperti Padang Panjang dan Solok selain Kota Bareb, diharapkan menjadi teladan dalam mempraktikkan ABSSK, namun kenyataan menunjukkan tantangan besar dalam mengaktualisasikannya. Sunhadi menyerukan agar seluruh elemen di Sumatera Barat, terutama pemimpin dan masyarakat, bertindak konkret dengan mereformasi moral sosial dan memperkuat pelestarian lingkungan demi mencegah bencana berulang.

Kritik keras ini menjadi peringatan sekaligus panggilan untuk introspeksi mendalam sekaligus perubahan nyata di ranah kepemimpinan, sosial, dan lingkungan di Sumatera Barat. Hanya dengan mengembalikan nilai-nilai asli ABSSK secara tulus, wilayah ini dapat terbebas dari bencana yang berulang dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan berakhlak mulia.(fwi)