Padang, Rakyat Sumbar — Diskusi strategis tentang masa depan pariwisata Sumatera Barat semakin mengerucut pada satu kesimpulan besar: kolaborasi adalah kunci. Hal ini mengemuka dalam pertemuan yang menghadirkan motivator nasional dan pakar komunikasi, Aqua Dwipayana, bersama Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Lila Yanwar, serta sejumlah pelaku ekonomi kreatif dan media.
Dalam forum tersebut, Aqua kembali menegaskan bahwa kekuatan utama pariwisata Sumatera Barat tidak hanya pada bentang alam dan kekayaan budaya, tetapi pada kemampuan membangun narasi yang kuat dan menggugah.
“Orang datang bukan hanya karena tempatnya indah, tapi karena cerita yang mereka dengar. Kalau kita bisa mengemas Sumbar dengan komunikasi yang tepat, maka daya tariknya akan berlipat,” ujar Aqua, dengan gaya khasnya yang komunikatif dan penuh penekanan pada kekuatan storytelling.
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Lila Yanwar, menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata saat ini memang difokuskan pada integrasi antara destinasi, event, dan ekonomi kreatif.
“Pariwisata hari ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada dukungan ekonomi kreatif dan keterlibatan komunitas. Di situlah kekuatan kita sebenarnya,” ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Yulviadi Adek, pemilik Kupi Batigo sekaligus Direktur Media dan Promosi Indonesia Creative City Network (ICCN). Ia menilai, sinergi antara komunitas, pelaku ekonomi kreatif, dan event olahraga akan menjadi formula kuat dalam meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
“Event olahraga seperti BOM Run 2026 tidak boleh dilihat semata sebagai ajang lomba. Ini adalah panggung besar untuk menampilkan identitas daerah—mulai dari kuliner, musik, hingga produk kreatif lokal,” kata Yulviadi.
Menurutnya, ketika komunitas dilibatkan secara aktif, maka dampak ekonomi akan terasa langsung ke masyarakat. “Inilah yang kita sebut sebagai pariwisata yang hidup dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Revdi Iwan Syahputra, Pemred Rakyat Sumbar yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana BOM Run 2026, menegaskan bahwa event tersebut dirancang tidak hanya sebagai kegiatan olahraga, tetapi sebagai gerakan bersama untuk mengangkat citra Sumatera Barat di level nasional bahkan internasional.
“Kami ingin BOM Run 2026 menjadi lebih dari sekadar event. Ini adalah momentum kebangkitan pariwisata Sumbar, dengan melibatkan media, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam membangun eksposur dan memperkuat narasi positif tentang Sumatera Barat. “Media bukan hanya peliput, tapi bagian dari penggerak. Dengan publikasi yang masif dan terarah, kita bisa menjadikan Sumbar sebagai destinasi unggulan,” tegasnya.
Diskusi ini menjadi penegasan bahwa masa depan pariwisata Sumatera Barat terletak pada kemampuan menyatukan kekuatan: komunikasi yang efektif, kreativitas masyarakat, serta event-event berkualitas seperti BOM Run 2026. Dengan kolaborasi yang solid, Sumbar tidak hanya akan dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena pengalaman dan cerita yang ditawarkannya kepada dunia.(*)





