Padang, Rakyat Sumbar — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan BOM Run 2026 saat menerima Ketua Pelaksana Revdi Iwan Syahputra bersama Ketua Harian PB Ikasmantri, Yulviadi Adek, di Istana Gubernur, Senin (6/4/2026). Dukungan tersebut menegaskan posisi BOM Run sebagai agenda strategis daerah dalam mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif.
Mahyeldi menilai, event berskala besar seperti BOM Run tidak hanya berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menggerakkan sektor ekonomi masyarakat secara luas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha agar manfaatnya benar-benar terasa.
“Event seperti ini harus kita dorong bersama, karena efeknya langsung ke masyarakat. Pariwisata bergerak, ekonomi kreatif hidup,” kata Mahyeldi.
Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar Mahdianur menegaskan bahwa BOM Run 2026 memiliki nilai strategis tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga sebagai pengungkit prestasi dan partisipasi masyarakat.
“BOM Run ini bukan sekadar event seremonial. Ini adalah panggung pembinaan, ruang partisipasi publik, sekaligus instrumen promosi daerah. Dispora melihat ini sebagai momentum untuk menggerakkan budaya hidup sehat, memperluas sport tourism, dan mengangkat nama Sumbar di level nasional bahkan internasional,” tegas Mahdianur.
Ketua Pelaksana BOM Run 2026, Revdi Iwan Syahputra, menyampaikan bahwa pihaknya sejak awal merancang event ini sebagai lebih dari sekadar lomba lari. BOM Run, kata dia, adalah panggung besar untuk memperkenalkan Sumatera Barat ke level yang lebih luas.
“Kami ingin BOM Run menjadi etalase Sumbar. Orang datang bukan hanya berlari, tapi merasakan pengalaman—budaya, kuliner, dan atmosfer daerah ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian PB Ikasmantri, Yulviadi Adek, menegaskan bahwa kekuatan utama event ini terletak pada sinergi komunitas dan ekonomi kreatif. Menurutnya, BOM Run harus dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi bagi pelaku lokal.
“Ini bukan sekadar event olahraga. Ini panggung identitas daerah. Semua bisa terlibat—UMKM, komunitas seni, hingga pelaku kreatif. Dampaknya akan langsung ke masyarakat,” tegas Yulviadi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan pakar komunikasi nasional Aqua Dwipayana yang menekankan pentingnya narasi dalam pariwisata. Ia menilai, daya tarik sebuah daerah sangat ditentukan oleh kemampuan membangun cerita yang kuat dan menggugah.
“Orang datang bukan hanya karena tempatnya indah, tapi karena cerita yang mereka dengar. Kalau komunikasinya kuat, daya tariknya akan berlipat,” ujar Aqua.
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Lila Yanwar, juga menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata kini bertumpu pada integrasi antara destinasi, event, dan ekonomi kreatif. Event seperti BOM Run dinilai menjadi simpul penting dalam menghubungkan ketiga sektor tersebut.
Dengan dukungan penuh Gubernur, penguatan dari Dispora, serta kolaborasi komunitas dan pelaku ekonomi kreatif, BOM Run 2026 diproyeksikan menjadi salah satu event unggulan yang mampu mengangkat citra Sumatera Barat sebagai destinasi yang dinamis, kreatif, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.(*)





