Seni yang Tumbuh di Genangan

Catatan; Yulviaidi Adek (Pegiat Ekonomi Kreatif)

Saya menyebut Korong Kasai sebagai contoh paling jujur tentang bagaimana sebuah komunitas membangun daya tahan dari situasi yang tidak ideal. Perumahan Bumi Kasai Permai di Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mungkin dikenal sebagai kawasan yang “berlangganan” banjir. Hujan satu jam saja cukup membuat air masuk ke rumah-rumah warga.

Namun yang saya temukan di sana bukanlah keluhan panjang, melainkan ketenangan yang matang. Warga telah berdamai dengan genangan yang datang berulang. Mereka tetap bekerja, tetap beraktivitas, dan bahkan pernah menolak bantuan ketika merasa ada daerah lain yang lebih membutuhkan. Ini bukan sikap pasrah, melainkan bentuk kedewasaan sosial.

Sebagai praktisi pariwisata dan ekonomi kreatif, saya melihat Korong Kasai bukan semata kawasan rawan banjir, melainkan ruang hidup yang sedang membangun identitasnya. Di tengah genangan, tumbuh kreativitas.

Kehadiran Komunitas Seni Nan Tumpah telah mengubah narasi tentang kampung ini. Setiap hari ada aktivitas belajar melukis, menari, teater, randai, hingga silat. Anak-anak dan orang dewasa terlibat tanpa sekat.

Seni di Korong Kasai bukan dipajang di ruang steril. Ia hadir di teras rumah, menempel di dinding lembap, berjajar di potongan seng, tergantung di jemuran, bahkan berdampingan dengan kandang ayam dan bekas genangan. Di sanalah saya melihat kekuatan sesungguhnya: seni yang tidak terpisah dari realitas, melainkan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Pameran Silotigo dan gelar karya Kelana Akhir Pekan bertajuk “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan” serta “Zona Aman Seni” yang berlangsung 7–14 Februari 2026 menjadi bukti bahwa pengalaman banjir bisa dibaca ulang menjadi energi kreatif. Tema itu terasa otentik. Kebersamaan yang lahir dari kondisi yang tak sepenuhnya dipilih justru membentuk solidaritas yang kuat.

Dalam perspektif pariwisata berbasis komunitas, Korong Kasai memiliki modal sosial yang sangat penting: kebersamaan, kreativitas, dan produksi lokal. Kampung ini juga dikenal sebagai penghasil sapu lidi yang dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Sumatera Barat dan Riau. Artinya, ada potensi ekonomi yang sudah berjalan dan dapat diperkuat melalui pendekatan ekonomi kreatif.

Yang dibutuhkan ke depan adalah pengemasan narasi. Korong Kasai bisa menjadi contoh destinasi berbasis pengalaman (experience-based tourism), di mana pengunjung tidak sekadar melihat karya seni, tetapi merasakan kehidupan komunitas yang bertahan dan berkarya di tengah keterbatasan. Banjir tidak perlu disembunyikan, tetapi dikelola sebagai konteks cerita—tentang ketangguhan, tentang rukun, tentang kreativitas.

Saya percaya, pariwisata masa depan bukan hanya soal lanskap indah, melainkan tentang kisah dan nilai. Korong Kasai memiliki keduanya. Genangan mungkin masih datang, tetapi di atasnya tumbuh imajinasi, solidaritas, dan semangat berkarya. Dan dari sanalah ekonomi kreatif menemukan maknanya yang paling mendasar: mengubah tantangan menjadi peluang, dan pengalaman menjadi nilai tambah.(*)