Oleh: Revdi Iwan Syahputra
Pemred Harian Rakyat Sumbar
Setiap kali industri pers memasuki masa sulit, satu kalimat selalu diulang seperti mantra putus asa: “media cetak sudah mati.” Pernyataan itu keliru. Yang sedang sekarat bukanlah kertas dan tinta, melainkan keberanian, kedalaman, dan konsistensi sebagian pengelolanya.
Tahun 2026 bukan penanda kematian pers cetak, melainkan uji karakter bagi media yang masih percaya bahwa jurnalisme bukan sekadar komoditas digital yang habis digeser layar.
Cetak Masih Ada Karena Ia Dibutuhkan
Mari jujur. Di tengah banjir informasi, kecepatan justru melahirkan kelelahan. Media sosial penuh dengan opini tanpa tanggung jawab, berita tanpa verifikasi, dan kebenaran yang dipelintir algoritma.
Di sinilah pers cetak tetap relevan: ia memberi jeda, kedalaman, dan ketenangan. Cetak tidak berlomba menjadi yang tercepat, tetapi yang paling bisa dipercaya. Pembaca cetak tidak mencari sensasi, mereka mencari makna.
Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan informasi yang disunting dengan disiplin, diverifikasi dengan ketat, dan ditulis dengan tanggung jawab, media cetak akan tetap hidup.
Cetak Bukan Media Cepat, Tapi Media Serius
Kesalahan terbesar industri pers adalah memaksa cetak berlari seperti digital. Cetak tidak diciptakan untuk mengejar klik. Cetak adalah ruang refleksi—untuk laporan mendalam, analisis kebijakan, liputan investigasi, dan opini yang berpikir.
Justru ketika digital terjebak pada kebisingan, cetak menjadi jangkar kepercayaan. Ia mungkin tidak viral, tapi ia bertahan. Ia mungkin tidak ramai, tapi ia dibaca dengan penuh perhatian.
Masalahnya Bukan Cetak, Tapi Mental Pengelola
Banyak media cetak tumbang bukan karena pembaca hilang, tetapi karena manajemennya malas beradaptasi. Distribusi tidak diperbarui. Segmentasi pembaca diabaikan. Konten dicetak tanpa diferensiasi.
Media cetak yang masih hidup hari ini adalah media yang sadar diri: tidak serakah oplah, tidak memaksakan volume, tetapi fokus pada kualitas dan pembaca setia.
Cetak bukan produk massal lagi. Ia adalah produk premium nilai.
Sinergi, Bukan Kompetisi dengan Digital
Pers 2026 tidak membutuhkan dikotomi cetak versus digital. Yang dibutuhkan adalah ekosistem. Digital untuk kecepatan dan jangkauan. Cetak untuk kedalaman dan legitimasi.
Media cetak yang cerdas tidak bersaing dengan ponsel, tetapi melengkapi kegaduhan layar dengan ketenangan halaman.
Jika Cetak Mati, yang Hilang Bukan Kertas—Tapi Standar. Kematian pers cetak akan menjadi pertanda runtuhnya standar jurnalistik: verifikasi berlapis, penyuntingan ketat, dan tanggung jawab editorial. Tanpa cetak, jurnalisme berisiko sepenuhnya tunduk pada algoritma dan selera sesaat.
Karena itu, mempertahankan pers cetak bukan romantisme masa lalu. Ia adalah perlawanan terhadap banalitas informasi. Bertahan adalah Sikap Politik Jurnalisme
Tahun 2026 akan menyingkirkan media yang ragu-ragu. Namun pers cetak yang berani menegaskan posisinya—tidak cepat, tidak murah, tidak dangkal—akan tetap berdiri.
Cetak tidak mati. Ia hanya menolak tunduk pada kegaduhan. Dan selama masih ada jurnalis yang memilih integritas daripada kenyamanan, pers cetak akan bertahan.(*)





