Jakarta, Rakyat Sumbar – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembenahan pariwisata nasional dengan menyoroti persoalan mendasar yang selama ini kerap diabaikan, yakni kebersihan lingkungan dan estetika daerah. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam pidato kenegaraan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar pada 2 Februari, dan dihadiri oleh seluruh kepala daerah, ketua DPRD, serta unsur Forkopimda se-Indonesia.
Pengamat dan pemerhati pariwisata Sumatera Barat, Zuhrizul, menilai apa yang disampaikan Presiden sebagai langkah yang tepat, bahkan mengejutkan. Menurutnya, jarang seorang presiden berbicara secara lugas menyentuh persoalan teknis pariwisata, yang selama ini justru lebih sering dibahas secara normatif, bahkan di level kementerian.
“Pernyataan Presiden yang mengatakan, ‘Bagaimana wisatawan akan datang kalau banyak sampah?’ itu langsung menyentuh inti persoalan pariwisata Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Ini masalah mendasar yang harus segera ditangani,” ujar Zuhrizul.
Ia menegaskan, konsep destinasi wisata berkelas dunia tidak sesederhana yang dibayangkan. Hal itu pernah ia sampaikan secara terbuka dalam sebuah forum pembahasan pengembangan destinasi wisata dunia di salah satu kabupaten di Sumatera Barat yang dihadiri Gubernur Sumbar, wakil bupati, serta OPD terkait.
“Destinasi berkelas dunia bukan hanya soal objek wisata. Sejak gerbang masuk daerah, sampah tidak boleh lagi terlihat. PKL liar, bangunan darurat dari kayu dan tenda plastik harus ditata dan dipusatkan di rest area atau food and souvenir centre. Bahkan jemuran di depan rumah warga, spanduk, dan baliho yang merusak estetika perlu ditata,” jelasnya.
Menurut Zuhrizul, pariwisata sejatinya adalah tentang peradaban. Wisatawan tidak hanya mengunjungi objek wisata, tetapi merasakan keindahan, kebersihan, kerapian, dan keramahan sebuah daerah. Faktor-faktor itulah yang membuat wisatawan betah dan ingin tinggal lebih lama.
Dalam pidato yang sama, Presiden Prabowo juga menyinggung Program “Indonesia ASRI” yang merupakan akronim dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Program ini dinilai Zuhrizul sebagai fondasi utama yang harus dijalankan secara serius oleh seluruh kepala daerah, aparat kepolisian, serta OPD terkait.
“Indonesia, khususnya Sumatera Barat, sudah dianugerahi bentang alam yang luar biasa, kekayaan budaya, dan kuliner yang beragam. Itu modal besar pariwisata. Tinggal bagaimana daerah memastikan keamanannya, kesehatan lingkungannya, kebersihannya, dan keindahannya,” katanya.
Ia juga mengapresiasi arahan Gubernur Sumatera Barat terkait penanganan sampah berbasis kecamatan melalui konsep TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu). Dalam konsep ini, sampah dipilah dan diolah secara terpadu di tingkat kecamatan.
“Gagasan ini disambut baik semua pihak. Tinggal bagaimana aksi nyata dan keberlanjutan programnya, termasuk dukungan anggaran dari seluruh pemangku kepentingan, terutama legislatif,” ujarnya.
Zuhrizul menambahkan, tren pariwisata dunia ke depan mengarah pada wellness tourism, yakni wisata yang memberikan ketenangan fisik dan batin. Wisatawan ingin menikmati udara bersih, makanan sehat dan higienis, serta lingkungan yang bebas dari pencemaran dan sumber penyakit.
Ia menyoroti penggunaan pestisida berlebihan di sejumlah daerah dataran tinggi di Sumatera Barat, yang justru mengganggu kenyamanan wisatawan. “Ini harus dicarikan solusi, terutama bagi daerah yang ingin menjadi tujuan wisata utama, apalagi berkelas dunia,” katanya.
Selain itu, persoalan baliho yang semrawut, kabel listrik yang berantakan, serta pedagang kaki lima yang menempati trotoar juga dinilai turut merusak estetika kota. Hal ini, menurutnya, membutuhkan ketegasan pemerintah sebagai pemegang otoritas.
Terkait bangunan, Zuhrizul menilai penggunaan atap seng sebaiknya mulai dibatasi, setidaknya untuk penginapan dan vila. “Atap genteng yang lebih alami secara estetika lebih indah dan menyerap panas. Ini sejalan dengan visi pariwisata yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Zuhrizul menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas Program Indonesia ASRI. “Apa yang disampaikan Presiden adalah apa yang selama ini kami perjuangkan sebagai pemerhati dan penggiat pariwisata. Ini program luar biasa untuk kemajuan pariwisata Indonesia dan Sumatera Barat,” pungkasnya.(*)

