Site icon rakyatsumbar.id

UNP Latih 50 Guru Kimia Kota Padang, Terapkan Case-Based Learning

Peserta Pelatihan bertajuk Pelatihan Case-Based Learning bagi Guru Kimia Kota Padang untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Berbasis Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Peserta Pelatihan bertajuk Pelatihan Case-Based Learning bagi Guru Kimia Kota Padang untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Berbasis Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Padang, rakyatsumbar.id — Rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Kimia di Sumatera Barat mendorong Universitas Negeri Padang (UNP) mengambil langkah dari hulu. Bukan sekadar mendorong siswa memperbanyak latihan soal, UNP memilih memperkuat kompetensi guru melalui penerapan Case-Based Learning (CBL), sebuah pendekatan yang mengajak siswa memahami konsep Kimia melalui persoalan nyata.

Ketua Tim Pengabdian UNP, Edi Nasra, S.Si., M.Si mengatakan, capaian akademik siswa tidak terlepas dari proses pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas.

Karena itu, perubahan metode mengajar menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan rendahnya nilai TKA Kimia.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumatera Barat yang menjadi rujukan program pengabdian tersebut, rata-rata nilai Kimia di Sumatera Barat tercatat 34,66 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional yang mencapai 34,92 persen.

“Pengabdian ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi bentuk tanggung jawab akademik UNP untuk hadir langsung menyelesaikan persoalan pendidikan di lapangan, khususnya rendahnya nilai TKA Kimia yang menjadi keresahan bersama para guru,” kata Edi Nasra, Senin (10/08/2026).

Menurut Edi, kondisi tersebut tidak cukup dijawab dengan memperbanyak latihan soal. Guru harus memiliki pendekatan pembelajaran yang mampu melatih siswa berpikir kritis, menganalisis informasi, menginterpretasikan data, menggunakan penalaran, sekaligus memecahkan persoalan.

“Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya dituntut mengetahui konsep, tetapi juga belajar menghubungkan konsep kimia dengan fenomena yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Langkah tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Kimia FMIPA UNP dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia Kota Padang. Pelatihan bertajuk Pelatihan Case-Based Learning bagi Guru Kimia Kota Padang untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Berbasis Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) digelar Jumat, 7 Agustus 2026, di Gedung Perkuliahan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP.

Sebanyak 48 guru Kimia yang tergabung dalam MGMP Kimia Kota Padang mengikuti kegiatan tersebut. Program ini didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP melalui skema Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB).

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Sumatera Barat Wilayah 2, Dra. Elni, M.Si. Pelaksanaan program diarahkan untuk menjawab kebutuhan guru dalam menghadirkan pembelajaran Kimia yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

Dukungan terhadap program juga disampaikan Ketua MGMP Kimia Kota Padang, Jhon Hendri, S.Pd., M.Pd., yang dilibatkan sebagai mitra pelaksanaan kegiatan. Menurut Jhon, perubahan karakter pembelajaran serta tuntutan soal TKA membuat guru perlu terus memperbarui pendekatan yang digunakan di ruang kelas.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena selama ini guru-guru kimia di Kota Padang memang membutuhkan wadah untuk memperbarui metode pembelajaran agar lebih relevan dengan tuntutan soal-soal TKA saat ini. Semoga ilmu yang didapat hari ini bisa langsung diterapkan di kelas masing-masing,” ujarnya.

Dalam pelatihan, para guru tidak hanya diperkenalkan dengan konsep dasar Case-Based Learning. Mereka juga mempelajari karakteristik pembelajaran berbasis kasus, strategi penerapannya dalam pembelajaran Kimia, hingga praktik menyusun skenario pembelajaran yang menghubungkan konsep Kimia dengan fenomena nyata.

Kasus yang dirancang guru diharapkan menjadi pemantik bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep, berdiskusi, menginterpretasikan informasi, kemudian menyusun solusi terhadap persoalan yang diberikan.

Materi Strategi Implementasi Case-Based Learning dalam Pembelajaran Kimia, disampaikan Dr. Zonalia Fitriza, M.Pd., yang memiliki keahlian di bidang kurikulum dan penyusunan modul pembelajaran berbasis kasus.

Zonalia mengatakan, pendekatan berbasis kasus dapat menjadi alternatif untuk keluar dari pola pembelajaran yang terlalu bertumpu pada teori dan hafalan. Menurutnya, siswa perlu dibiasakan menghadapi persoalan yang membuat mereka menghubungkan konsep Kimia dengan situasi nyata.

“Selama ini banyak siswa kesulitan menghadapi soal-soal TKA karena terbiasa dengan pembelajaran yang bersifat teoretis dan hafalan. Melalui case-based learning, guru diajak merancang skenario kasus yang mendekatkan konsep kimia dengan persoalan sehari-hari, sehingga siswa lebih terlatih menganalisis dan memecahkan masalah, bukan sekadar mengingat rumus,” jelas Zonalia.

Guru juga diarahkan menghasilkan modul pembelajaran yang dapat langsung digunakan di sekolah. Modul tersebut dirancang dengan sejumlah komponen, mulai dari deskripsi kasus kontekstual, pertanyaan pemantik, eksplorasi konsep Kimia, aktivitas diskusi kelompok, hingga latihan soal berbasis penalaran akademik.

Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori CBL, tetapi diarahkan menghasilkan produk pembelajaran yang dapat langsung diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Salah satu fokus utama program adalah mengintegrasikan pembelajaran berbasis kasus dengan tuntutan TKA. Peserta didik tidak cukup hanya menguasai materi Kimia, tetapi juga dituntut mampu menganalisis informasi, menginterpretasikan data, menggunakan penalaran, serta menyelesaikan permasalahan.

Karena itu, guru dibekali pemahaman mengenai karakteristik soal berbasis penalaran dan penyusunan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Guru dilatih menyusun instrumen evaluasi yang tidak sekadar mengukur kemampuan mengingat konsep, tetapi juga kemampuan siswa memahami, menganalisis, menginterpretasikan, dan menerapkan konsep Kimia pada situasi tertentu.

Tim pengabdi juga merancang pengembangan bank soal Kimia berbasis penalaran akademik. Bank soal tersebut diharapkan menjadi sumber latihan bagi siswa sekaligus membantu guru memperoleh referensi soal yang lebih beragam dan berkualitas.

Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan. Para guru mengikuti pemaparan materi, berdiskusi dalam kelompok, hingga melakukan simulasi penyusunan skenario kasus pembelajaran.

Melalui pendekatan tersebut, materi Kimia yang sebelumnya terasa abstrak diarahkan menjadi persoalan yang dapat diamati, dianalisis, didiskusikan, dan dicari solusinya.

Program PPUB tersebut diperkuat tim pengabdi dengan latar belakang keahlian yang saling melengkapi. Ketua tim, Edi Nasra, S.Si., M.Si., berasal dari bidang Kimia Analitik.

Anggota tim terdiri atas Zamahsary Martha, S.Si., M.Si. dari bidang Statistik, Dr. Nofrion, M.Pd. dari bidang Ilmu Pendidikan, Dr. Riga, S.Pd., M.Si. dari bidang Kimia Organik, serta Dwi Finna Syolendra, M.Pd. dari bidang Pendidikan Kimia.

Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Habibra. Y dari Pendidikan Kimia, serta Ivan Saputra dan Medina Khairani dari Kimia. Sementara Jhon Hendri, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua MGMP Kimia Kota Padang, dilibatkan sebagai mitra pelaksanaan program.

Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi kekuatan program karena pengembangan pembelajaran berbasis kasus tidak hanya membutuhkan penguasaan substansi Kimia, tetapi juga aspek pedagogis, pengolahan data, asesmen, dan strategi pembelajaran.

Edi Nasra mengatakan dampak program diharapkan muncul secara bertahap. Dalam jangka pendek, guru MGMP Kimia Kota Padang diharapkan semakin memahami Case-Based Learning sekaligus mampu menyusun soal berbasis TKA.

“Dalam jangka pendek, guru MGMP Kimia Kota Padang diharapkan mengalami peningkatan pemahaman mengenai Case-Based Learning dan penyusunan soal berbasis TKA,” ucapnya.

Guru juga diharapkan semakin terampil merancang modul pembelajaran berbasis kasus. Sementara MGMP diharapkan memiliki modul pelatihan dan bank soal Kimia berbasis HOTS yang dapat dimanfaatkan secara bersama.

Dalam jangka menengah, penerapan pembelajaran berbasis kasus diharapkan meningkatkan kemampuan siswa SMA dalam berpikir kritis dan analitis ketika memahami konsep Kimia.

Ditingkat sekolah, program tersebut diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Kimia yang lebih kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Sedangkan dalam jangka panjang, program ini diharapkan ikut memperkuat literasi sains dan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Lulusan dengan kompetensi akademik yang lebih baik diharapkan memiliki kesiapan lebih kuat untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Bagi UNP, program tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

“Penguatan kualitas pendidikan sains, khususnya Kimia, menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi muda yang kompetitif secara akademik maupun dalam melanjutkan pendidikan tinggi,” kata Edi.

UNP memastikan program tersebut tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Tim pengabdian telah menyiapkan pendampingan lanjutan pada minggu ketiga September 2026.

Pendampingan dilakukan untuk melihat penerapan Case-Based Learning di sekolah masing-masing sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap proses pembelajaran dan capaian siswa.

Melalui pendampingan berkelanjutan, UNP berharap perubahan tidak berhenti di ruang pelatihan. Guru diharapkan membawa metode tersebut ke ruang kelas, sementara siswa memperoleh pengalaman belajar Kimia yang lebih kontekstual, kritis, dan dekat dengan persoalan nyata. (edg)

Exit mobile version