Oleh: Revdi Iwan Syahputra
Kerisauan yang disampaikan Dony Oskaria tentang ekonomi Sumatera Barat layak kita dengarkan dengan kepala dingin. Ia tidak sedang berbicara sebagai pejabat pusat semata, tetapi sebagai anak rantau yang melihat kampung halamannya dari jarak yang lebih luas.
Namun, apakah benar kondisi ekonomi Sumbar sudah sedemikian terpuruk?
Jika kita merujuk data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat memang berada di kisaran 4 persen dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini memang berada di bawah rata-rata nasional yang bergerak di sekitar 5 persen. Tetapi penting dicatat: Sumbar tidak dalam kondisi minus, tidak kontraksi, dan tidak resesi.
Artinya, ekonomi kita tetap tumbuh. Hanya saja, tumbuhnya pelan.
Di tengah situasi global yang sedang tidak baik-baik saja—konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, fluktuasi harga energi, hingga suku bunga tinggi di negara maju—Indonesia saja “hanya” mampu menjaga pertumbuhan sekitar 5 persen. Dalam konteks ini, angka 4 persen untuk Sumbar bukanlah bencana, melainkan tanda bahwa kita bertahan.
Stabil, Tapi Kurang Melaju
Struktur ekonomi Sumatera Barat selama ini ditopang sektor pertanian, perdagangan, transportasi, serta UMKM. Sektor-sektor ini relatif stabil, tetapi memang jarang menghasilkan lonjakan besar seperti daerah yang ditopang tambang atau industri hilirisasi.
Provinsi yang memiliki komoditas besar bisa tumbuh tinggi saat harga global naik. Tetapi mereka juga sangat rentan ketika harga jatuh. Sumbar tidak punya “mesin turbo” semacam itu. Kita lebih mengandalkan ekonomi riil masyarakat.
Maka angka 4 persen itu bisa dibaca sebagai pertumbuhan organik—tidak spektakuler, tapi juga tidak rapuh.
Masalahnya, apakah kita cukup puas dengan stabilitas? Di sinilah kegelisahan Dony menemukan relevansinya.
Pesan Tersirat dari Sebuah Kerisauan
Pernyataan Dony Oskaria sejatinya bukan sekadar soal angka statistik. Pesan tersiratnya adalah soal arah.
Ia melihat bahwa daerah-daerah lain sudah memiliki positioning ekonomi yang jelas. Ada yang kuat di hilirisasi, ada yang menjadi pusat industri, ada yang memaksimalkan pariwisata premium. Sementara Sumatera Barat masih berjalan dengan pola lama.
Dalam ekonomi modern, bukan hanya soal tumbuh atau tidak, tetapi soal seberapa cepat dan seberapa relevan kita dalam peta nasional.
Investor hari ini semakin selektif. Dalam situasi global yang melambat, modal hanya masuk ke daerah yang punya kepastian arah dan narasi pembangunan yang kuat. Jika tidak, kita hanya menjadi penonton.
Antara Alarm dan Kepanikan
Menurut saya, kerisauan itu jangan dibaca sebagai vonis bahwa Sumbar sedang jatuh. Tidak. Kita tidak sedang di jurang.
Tetapi kita memang tidak boleh terlalu lama berjalan pelan.
Pertumbuhan 4 persen bukan kegagalan total. Namun jika dibiarkan tanpa terobosan, ia bisa berubah menjadi stagnasi jangka panjang. Dan stagnasi jauh lebih berbahaya daripada krisis sesaat. Krisis memaksa orang berubah. Stagnasi membuat orang merasa cukup.
Di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan antar daerah yang semakin ketat, Sumatera Barat butuh akselerasi. Industrialisasi berbasis potensi lokal, penguatan pariwisata, serta keberanian mengambil keputusan strategis menjadi kunci.
Kita tidak sedang jatuh.
Tetapi kita juga belum berlari.
Dan dalam dunia yang bergerak cepat, berjalan terlalu lama bisa berarti tertinggal.(*)
#Penulis adalah Wartawan Rakyat Sumbar, pemegang Kompetensi Utama.

