Site icon rakyatsumbar.id

Seratus Tahun Jam Gadang dan Warisan yang Belum Kita Ciptakan

Oleh: Muhammad Zuhrizul

Seratus tahun Jam Gadang berdiri. Ia tetap menjadi ikon yang paling banyak difoto, paling sering dipromosikan, dan paling kuat melekat dalam ingatan wisatawan yang datang ke Sumatera Barat.

Namun di balik kemegahan perayaan satu abad Jam Gadang, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apa warisan wisata yang telah kita ciptakan sendiri?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ia adalah undangan untuk bercermin.

Faktanya, sebagian besar destinasi wisata unggulan Sumatera Barat hari ini adalah ciptaan Tuhan dan peninggalan masa kolonial. Alam menghadiahkan kita lembah, gunung, danau, pantai, ngarai, serta bentang alam yang luar biasa. Sementara sejarah meninggalkan berbagai bangunan dan infrastruktur yang hingga kini masih menjadi magnet wisata.

Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Lobang Jepang, Kebun Binatang Bukittinggi, kawasan tambang tua di Sawahlunto, kampung-kampung tua di Kota Padang, Kelok 44, hingga berbagai bangunan bersejarah lainnya merupakan jejak yang dibangun pada masa kolonial Belanda maupun Jepang.

Dengan kata lain, pariwisata Sumatera Barat hari ini masih banyak “ditolong” oleh alam dan peninggalan masa lalu.

Kita menikmati hasil karya mereka, tetapi belum banyak meninggalkan karya besar yang lahir dari imajinasi dan keberanian generasi pemimpin daerah saat ini.

Sudah puluhan kepala daerah datang dan pergi. Sudah miliaran rupiah APBD dibelanjakan untuk sektor pariwisata. Namun jika ditanya, objek wisata monumental apa yang akan dikenang anak cucu kita seratus tahun mendatang sebagai karya pemimpin Sumatera Barat abad ke-21, jawabannya masih belum mudah ditemukan.

Yang muncul justru sering kali proyek-proyek jangka pendek, spot foto sesaat, ornamen artifisial yang cepat usang, atau atraksi yang tidak memiliki kualitas dan daya tahan sebagai destinasi kelas dunia.

Padahal Sumatera Barat memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding banyak daerah lain. Alam kita luar biasa. Budaya kita tidak ternilai. Sejarah kita panjang. Tinggal keberanian untuk melahirkan gagasan besar yang menjadi legacy.

Beberapa gagasan sesungguhnya pernah muncul.

Misalnya pembangunan Taman Safari di Kabupaten Agam melalui kolaborasi pemerintah daerah dengan investor dan BKSDA. Kebun Binatang Bukittinggi yang merupakan peninggalan Belanda dapat direvitalisasi menjadi bird park atau wahana wisata perkotaan modern, sementara satwa dipindahkan ke kawasan safari yang lebih luas. Bahkan kawasan tersebut dapat berkembang menjadi destinasi night safari yang beroperasi hingga malam hari.

Kemudian kawasan wisata buah di Padang Pariaman. Daerah ini memiliki potensi besar menjadi taman buah terpadu seperti Mekarsari atau Rayong Fruits Garden di Thailand. Selain sebagai tujuan rekreasi, kawasan ini dapat menjadi pusat edukasi, riset, konservasi tanaman langka Minangkabau, sekaligus sentra ekonomi baru berbasis pertanian.

Gagasan lainnya adalah Kampung Minang, sebuah kawasan yang menghadirkan rumah adat dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Banyak orang tidak menyadari bahwa setiap daerah memiliki karakter arsitektur yang berbeda. Kampung Minang dapat menjadi pusat budaya, destinasi wisata, tempat belajar silek tradisional, sekaligus ruang tinggal bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman Minangkabau secara utuh.

Di Dharmasraya, pemugaran menyeluruh Candi Padang Roco juga layak menjadi prioritas. Kawasan ini merupakan salah satu simpul penting sejarah awal peradaban Minangkabau sebelum masa Adityawarman di Pagaruyung. Jika dikembangkan secara serius, kawasan tersebut dapat menjadi destinasi edukasi sejarah yang wajib dikunjungi pelajar dari seluruh Sumatera dan Indonesia.

Sementara di Pasaman, Planetarium Bonjol dapat menjadi ikon wisata edukasi baru yang memanfaatkan keberadaan garis khatulistiwa sebagai daya tarik ilmiah dan literasi astronomi.

Semua gagasan tersebut membutuhkan satu hal yang sama: visi.

Pariwisata tidak cukup dibangun dengan seremoni, festival, dan slogan. Pariwisata membutuhkan keberanian berpikir jauh melampaui masa jabatan lima tahunan. Ia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya ingin dikenang karena program kerja, tetapi karena warisan yang ditinggalkan.

Jam Gadang hari ini berusia seratus tahun karena para pembangunnya dahulu berpikir jauh ke depan. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bangunan itu akan menjadi simbol Sumatera Barat selama satu abad.

Kini giliran generasi kita.

Jangan sampai seratus tahun dari sekarang, anak cucu Minangkabau hanya terus bercerita tentang peninggalan Belanda dan Jepang, sementara kita sendiri tidak meninggalkan satu pun karya besar yang layak dikenang.

Alam Sumatera Barat sudah memberikan segalanya. Budaya Minangkabau telah menyediakan fondasi yang kokoh. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian melahirkan mahakarya baru.

Sebuah warisan yang kelak tidak hanya dibanggakan masyarakat Sumatera Barat, tetapi juga dikagumi dunia.

Muhammad Zuhrizul

Catatan dalam rangka 100 Tahun Jam Gadang

Exit mobile version