Site icon rakyatsumbar.id

Semen Padang FC Terancam Degradasi, Ini Penjelasan Braditi Moulevey

Komisaris Semen Padang FC Braditi Moulevey

Komisaris Semen Padang FC Braditi Moulevey

Padang, rakyatsumbar.id – Situasi yang semakin sulit tengah dihadapi Semen Padang FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Rentetan hasil negatif membuat posisi tim berjuluk Kabau Sirah kian tertekan di papan bawah klasemen, sekaligus memicu sorotan tajam dari suporter terhadap manajemen, termasuk Komisaris klub, Braditi Moulevey.

Di tengah tekanan tersebut, Braditi Moulevey akhirnya menyampaikan penegasan terkait perannya di dalam struktur klub, sekaligus merespons berbagai kritik yang berkembang di ruang publik, termasuk yang mengarah ke ranah personal.

Ia menjelaskan bahwa keterlibatannya di Semen Padang FC bermula dari penugasan langsung Penasihat klub, Andre Rosiade, sejak awal musim. Dalam kapasitas sebagai Komisaris, ia memiliki fungsi pengawasan terhadap kinerja Direksi dan manajemen.

“Di awal musim itu, memang saya ditugaskan oleh Penasihat Semen Padang FC, Andre Rosiade untuk ikut terlibat dalam manajemen sebagai Komisaris yang tugasnya mengawasi kinerja jajaran Direksi maupun Manajemen,” katanya, Kamis (30/04/2026).

Dalam perjalanannya, dirinya mengungkapkan bahwa persoalan finansial menjadi tantangan utama yang dihadapi klub.

Ketergantungan terhadap sponsor mencapai sekitar 90 persen, sementara proses untuk mendapatkan dukungan tersebut tidaklah mudah.

“Dan memang di internal manajemen sendiri, isu finansial menjadi persoalan utama karena sponsor itu 90 persen tim ini bergantung kepada sponsor,” katanya.

Ia menambahkan bahwa berbagai persyaratan serta beban masa lalu turut menjadi faktor yang memberatkan kondisi perusahaan.

“Mendapatkan sponsor sendiri itu prosesnya tidak gampang, ada beberapa hal yang harus dilengkapi dan disiapkan dan juga beban-beban di masa lalu itu memberatkan perusahaan,” kata Moulevey.

Di sisi teknis, upaya pembenahan sebenarnya telah dilakukan melalui evaluasi terhadap pemain, pelatih, hingga pergantian di sejumlah posisi. Langkah tersebut diharapkan mampu membawa tim keluar dari zona degradasi.

“Untuk hal pemain, pelatih dan lain sebagainya itu sudah dilakukan evaluasi dan juga pergantian dengan harapan bisa berbenah dan keluar dari zona degradasi. Ini merupakan bukti keseriusan kami, kami pun mengusulkan agar tim ini mempunyai Direktur Teknik berkualitas supaya mampu untuk bersaing dengan tim-tim yang lain. Akan tetapi hasilnya masih belum sesuai juga dengan harapan,” katanya.

Namun, realitas di lapangan belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Kekalahan demi kekalahan masih terus terjadi, termasuk saat menghadapi Madura United FC pada pekan ke-30.

Bermain di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Rabu (29/4/2026), Semen Padang harus mengakui keunggulan tamunya dengan skor 0-1. Gol tunggal dicetak oleh Jose Brandao Junior pada menit ke-15 melalui sundulan memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri pertahanan.

Hasil tersebut memperpanjang tren negatif menjadi lima kekalahan beruntun. Hingga pekan ke-30, Semen Padang FC baru mengoleksi 20 poin dan masih tertahan di peringkat ke-17. Mereka tertinggal dari Persis Solo di posisi ke-16 dengan 27 poin, sementara Madura United berada di peringkat ke-15 dengan 29 poin.

Kondisi ini diakui pria yang akrab disapa Levi itu sebagai situasi yang menyakitkan, tidak hanya bagi suporter, tetapi juga dirinya secara pribadi.

“Ini menjadi hal yang sangat menyakitkan bukan hanya bagi suporter, bagi saya sendiripun sangat sedih,” katanya.

Ia juga menegaskan komitmennya terhadap klub dengan menyebut bahwa seluruh kehadirannya dalam mendukung tim dilakukan dengan biaya pribadi, tanpa membebani perusahaan.

“Setiap pertandingan yang dilakukan baik di kandang maupun tandang itu saya datang dengan biaya sendiri, mengingat saya berdomisili di Jakarta. Tidak ada sedikitpun saya membebankan ke perusahaan, dalam hal ini Semen Padang FC, saya datang dan hadir dengan biaya sendiri, saya menonton dengan biaya sendiri, saya tak menerima gaji sepersenpun dari perusahaan,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa keterlibatannya dilandasi tanggung jawab atas amanah, bukan kepentingan pribadi.

“Ini adalah bukti dari loyalitas saya ataupun tanggungjawab saya atas amanah yang diberikan itu sebagai Komisaris,” kata Levi.

Meski demikian, ia kembali mengingatkan bahwa posisi Komisaris memiliki batas kewenangan yang jelas dalam struktur organisasi klub.

“Tapi sekali lagi, Komisaris ini bukan sebagai pengambil keputusan, bukan CEO atau Direktur, tugas Komisaris adalah hanya mengawasi dan memberikan masukan bukan sebagai pengambil keputusan layaknya CEO atau direktur,” ujarnya.

Terkait isu yang mengaitkan dirinya dengan pencalonan Wali Kota Padang, Braditi Moulevey menegaskan bahwa hal tersebut tidak memiliki kaitan dengan perannya saat ini di klub.

“Dan ini semua tidak ada hubungannya dengan pencalonan Wali Kota Padang. Terkait dengan pencalonan Wali Kota Padang itu masih jauh dan saya tidak ada menyatakan diri bahwa saya akan maju sebagai Wali Kota, silakan dicek di berita manapun,” katanya.

Ia menambahkan bahwa langkahnya menyampaikan pernyataan di media sosial semata-mata merupakan bentuk tanggung jawab moral ketika tim berada dalam kondisi sulit.

“Saya hanya melakukan apa tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada saya, itu yang saya lakukan, ini bukti tanggungjawab saya, saya yang berani memberikan pernyataan ataupun status di media sosial ketika tim tidak lagi baik-baik saja,” tuturnya.

Berjuang Hingga Akhir Musim

Sementara itu, pelatih Semen Padang FC, Imran Nahumarury, juga menyampaikan permohonan maaf kepada suporter atas hasil yang belum memuaskan.

“Pertama tentunya saya mohon maaf kepada suporter dan masyarakat Sumatera Barat. Segala upaya sudah kami lakukan, tapi faktanya kita kalah. Saya tidak mau salahkan siapa-siapa. Ini kesalahan saya sebagai pelatih,” ujarnya.

Ia menilai belum semua pemain mampu tampil konsisten sepanjang pertandingan, meski perbaikan di berbagai aspek permainan telah dilakukan.

“Saya lihat, ada beberapa pemain tampil maksimal, ada yang tidak. Tapi saya sudah sampaikan tidak akan salahkan pemain. Ini tanggung jawab saya sebagai pelatih. Kita sudah perbaiki attacking, defending, transisi. Namun memang mentalitas yang akhirnya bicara,” jelasnya.

Dengan hanya menyisakan empat pertandingan, peluang Semen Padang FC untuk keluar dari zona degradasi semakin menipis. Meski demikian, tim tetap berkomitmen untuk berjuang hingga akhir musim.

“Secara kalkulasi matematika memang demikian (dekat dengan degradasi). Namun saya punya tanggung jawab pada kondisi apapun itu. Saya akan terus sampai akhir kompetisi,” tegas Imran.

Ia juga menegaskan bahwa jadwal padat bukan alasan atas hasil yang diraih.

“Kelelahan karena jadwal yang ketat tidak bisa dijadikan alasan. Madura United dan tim lain juga menghadapi hal yang sama. Sekali lagi, ini terkait mentalitas,” pungkasnya.

Empat pertandingan tersisa kini menjadi penentu nasib Kabau Sirah di kompetisi musim ini, di tengah tekanan besar yang datang dari berbagai arah. (*)

Exit mobile version