Site icon rakyatsumbar.id

PUNCAK TERTINGGI BUKAN SELALU DI ATAS GUNUNG

Catatan tentang ayah, anak, perjalanan, dan makna sebuah tulisan

Oleh: Revdi Iwan Syahputra

Ada satu hal yang belakangan ini membuat saya berpikir ketika membaca dan mendengar cerita tentang perjalanan seorang ayah bersama anaknya: kita sering kali begitu sibuk menyiapkan masa depan anak, sampai lupa menikmati proses ketika mereka sedang tumbuh.

Sebagai jurnalis sekaligus seorang ayah, saya memahami bahwa hidup tidak sesederhana itu. Ada pekerjaan yang harus dituntaskan, kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, pendidikan anak yang mesti diperjuangkan, dan masa depan keluarga yang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada keadaan. Kita bekerja keras karena ingin anak-anak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Itu wajar, bahkan menjadi bagian dari tanggung jawab seorang ayah.

Namun, di tengah semua kesibukan itu, pernahkah kita bertanya: sudah seberapa jauh kita berjalan bersama anak-anak kita, bukan sekadar bekerja untuk mereka?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya teringat obrolan dengan Two Efly di salah satu kedai kopi di kawasan GOR Haji Agus Salim, Padang. Kami ngopi sambil berdiskusi. Seperti lazimnya percakapan di kedai kopi, pembicaraan mengalir ke berbagai hal. Tetapi, ada satu cerita yang cukup menarik perhatian saya: perjalanan Two Efly bersama anak laki-lakinya, Azib Fattah Mandala Putra, mendaki tujuh gunung di Sumatera Barat.

Two Efly bercerita banyak tentang perjalanan itu. Tentang ekspedisi yang mereka jalani, pengalaman di gunung, dan proses panjang yang akhirnya melahirkan sebuah buku berjudul Seven Summits West Sumatra.

Dari obrolan tersebut, saya menangkap bahwa perjalanan itu bukan sekadar urusan mendaki gunung. Ada cerita tentang kebersamaan, pengalaman, dan proses yang mereka lalui bersama. Ada pula sesuatu yang menurut saya jauh lebih menarik daripada sekadar daftar gunung yang berhasil ditaklukkan: seorang ayah memilih menjadikan perjalanan sebagai ruang belajar bersama anaknya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa mendaki gunung adalah satu-satunya cara mendidik anak. Tentu tidak. Tetapi, cerita Two Efly mengingatkan saya bahwa terkadang ada pelajaran yang tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Ada nilai yang justru lebih mudah dipahami ketika orang tua dan anak mengalaminya bersama.

Dari percakapan di kedai kopi itu, saya kemudian melihat Seven Summits West Sumatra dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Buku ini bukan semata-mata catatan perjalanan menuju tujuh puncak. Ia juga membuka ruang untuk membicarakan keluarga, pengasuhan, pembentukan karakter, dan cara manusia memaknai sebuah perjalanan.

Dari kedai kopi ke tujuh puncak

Buku Seven Summits West Sumatra karya Two Efly bersama Azib Fattah Mandala Putra diluncurkan sekaligus dibedah pada Rabu, 30 September 2026, di Auditorium Gubernur Sumatera Barat. Perjalanan yang mereka dokumentasikan berlangsung selama satu tahun sepuluh bulan, dengan tujuh gunung sebagai tujuan ekspedisi.

Ketujuh gunung itu adalah Kerinci, Talamau, Marapi, Singgalang, Talang, Sago, dan Tandikek. Gunung Kerinci, dengan ketinggian sekitar 3.805 meter di atas permukaan laut, menjadi salah satu tantangan besar dalam perjalanan tersebut. Sementara itu, Gunung Tandikek, yang memiliki ketinggian sekitar 2.438 mdpl, menjadi penutup ekspedisi panjang mereka.

Perjalanan itu tidak hanya melibatkan ayah dan anak. Tim yang pada awalnya terdiri atas empat orang berkembang menjadi sepuluh personel, dengan dukungan sejumlah anggota tim dan pemandu lokal yang membantu ekspedisi di beberapa gunung.

Catatan perjalanan mereka juga pernah dipublikasikan secara berseri di Padang Ekspres. Pengalaman yang semula dijalani di jalur pendakian kemudian diolah menjadi tulisan dan akhirnya dihimpun menjadi buku.

Bagi saya, proses ini menarik dari sisi jurnalistik. Sebuah pengalaman personal tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi diolah menjadi dokumentasi yang bisa dibaca dan direnungkan oleh orang lain.

Di sinilah sebuah perjalanan memperoleh makna yang lebih luas. Apa yang dialami satu keluarga dapat menjadi bahan refleksi bagi keluarga lain. Pengalaman yang semula bersifat personal dapat membuka percakapan tentang persoalan sosial yang lebih besar.

Tetapi, saya tidak ingin berhenti pada cerita tentang tujuh gunung itu. Sebab, pertanyaan yang paling menarik bukan hanya bagaimana Two Efly dan Azib mencapai puncak, melainkan apa yang terjadi di antara langkah pertama dan langkah terakhir mereka.

Apa yang dipelajari seorang anak ketika menghadapi medan yang sulit? Bagaimana ia memahami kelelahan, kedisiplinan, keterbatasan, dan pentingnya menjaga keselamatan? Bagaimana seorang ayah mendampingi anaknya ketika perjalanan tidak berjalan sesuai harapan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin justru menjadi bagian paling berharga dari sebuah ekspedisi.

Ayah bukan hanya pencari nafkah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur keberhasilan seorang ayah dari hal-hal yang terlihat. Seberapa baik pekerjaannya, seberapa mampu ia memenuhi kebutuhan keluarga, seberapa tinggi pendidikan anaknya, atau seberapa jauh ia berhasil menyiapkan masa depan keluarga.

Ukuran itu tidak salah. Namun, ada dimensi lain yang kadang luput kita perhatikan: seberapa jauh seorang ayah terlibat dalam proses anaknya tumbuh menjadi manusia dewasa.

Kita mengenal banyak ayah yang bekerja keras. Pagi berangkat, malam pulang. Pikiran dipenuhi pekerjaan, urusan ekonomi, dan tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar habis. Ketika berada di rumah, tubuh mungkin sudah lelah, sementara anak-anak juga sibuk dengan sekolah, pergaulan, dan dunianya sendiri.

Akibatnya, hubungan dalam keluarga bisa berjalan secara fungsional. Kebutuhan terpenuhi, aturan disampaikan, pendidikan diperhatikan. Namun, kesempatan untuk berbagi pengalaman dan memahami perasaan satu sama lain belum tentu tersedia dengan cukup.

Di sinilah saya melihat sisi menarik dari perjalanan Two Efly bersama Azib.

Ketika ayah dan anak berada di jalur pendakian, mereka tidak hanya berbagi tujuan. Mereka berbagi proses. Ada langkah yang harus diatur, waktu yang harus diperhitungkan, kondisi fisik yang perlu dijaga, dan keputusan yang harus diambil dengan pertimbangan matang.

Gunung menghadirkan situasi yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Tidak semua hal bisa dilakukan terburu-buru. Tidak setiap keinginan bisa langsung dipenuhi. Ada saatnya berhenti, beristirahat, mengevaluasi keadaan, dan menyesuaikan langkah.

Bukankah itu juga bagian dari pelajaran kehidupan?

Anak belajar bahwa keberhasilan membutuhkan proses. Ia belajar bahwa keberanian tidak sama dengan nekat, bahwa disiplin bukan sekadar mematuhi perintah, dan bahwa ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa lelah.

Sementara itu, ayah juga memiliki kesempatan untuk belajar. Ia belajar memahami kemampuan anak, membaca perubahan sikapnya, memberi kepercayaan, dan menyadari bahwa mendampingi tidak selalu berarti mengambil alih semua keputusan.

Dalam perjalanan seperti itu, hubungan ayah dan anak berpeluang menjadi lebih dari sekadar hubungan antara orang yang memberi perintah dan orang yang menerima arahan. Mereka menjadi dua manusia yang berbagi pengalaman, saling belajar, dan berusaha mencapai tujuan bersama.

Ada satu kalimat yang menurut saya layak direnungkan: anak tidak hanya membutuhkan ayah yang menyiapkan jalan untuk masa depannya, tetapi juga ayah yang bersedia berjalan bersamanya hari ini.

Sebab, waktu berjalan bersama anak tidak bisa sepenuhnya diganti dengan uang, fasilitas, atau segala sesuatu yang baru dapat diberikan ketika mereka sudah dewasa.

Membaca gunung dengan kacamata sosiologi

Dari sudut pandang sosiologi, keluarga merupakan institusi sosial pertama tempat seseorang belajar memahami nilai, norma, tanggung jawab, dan hubungan dengan orang lain. Proses ini dikenal sebagai sosialisasi.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tuanya, tetapi juga dari apa yang dilakukan, bagaimana keputusan diambil, bagaimana masalah diselesaikan, dan bagaimana orang dewasa memperlakukan sesamanya.

Karena itu, pengalaman mendaki bersama dapat menjadi ruang sosialisasi yang konkret. Nilai-nilai yang biasanya disampaikan dalam bentuk nasihat memperoleh konteks nyata untuk dipahami.

Ketika ayah mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan, anak belajar bahwa aturan memiliki alasan. Ketika perjalanan mengharuskan mereka mengatur tenaga dan waktu, anak belajar mengenai disiplin. Ketika mereka harus saling membantu, anak mengenal tanggung jawab sebagai bagian dari kebersamaan.

Namun, kita juga perlu melihat persoalan ini secara proporsional. Pendakian bukan jaminan bahwa seorang anak otomatis tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Pembentukan karakter berlangsung melalui proses panjang, melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan masyarakat.

Tidak semua keluarga memiliki waktu, kemampuan fisik, atau sumber daya untuk mendaki gunung. Karena itu, pelajaran dari Seven Summits West Sumatra tidak seharusnya dipersempit menjadi ajakan agar setiap ayah membawa anaknya mendaki.

Yang lebih penting adalah semangat di baliknya: menyediakan waktu, membangun komunikasi, memberi keteladanan, dan menciptakan pengalaman bersama yang membantu anak memahami kehidupan.

Perjalanan itu bisa berlangsung di gunung, di halaman rumah, di meja makan, ketika berkendara bersama, atau dalam percakapan sederhana menjelang tidur.

Tempatnya boleh berbeda. Nilainya tetap sama: orang tua hadir dalam proses pertumbuhan anak, bukan hanya dalam pemenuhan kebutuhannya.

Jurnalisme bukan hanya soal apa, tetapi juga mengapa

Sebagai jurnalis, saya melihat buku ini juga menawarkan pelajaran tentang bagaimana sebuah cerita seharusnya diolah.

Dalam kerja jurnalistik, kita terbiasa menjawab pertanyaan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Unsur-unsur itu menjadi dasar untuk menyampaikan informasi secara utuh. Namun, dalam tulisan yang lebih mendalam, pertanyaan mengapa sering kali menjadi pintu masuk untuk memahami makna sebuah peristiwa.

Dua orang mendaki gunung mungkin menghasilkan berita tentang perjalanan, tantangan medan, dan keberhasilan mencapai puncak. Itu sah dan penting. Tetapi, ketika kita menggali lebih jauh, cerita tersebut bisa berkembang menjadi refleksi tentang hubungan keluarga, pendidikan karakter, ketahanan manusia, dan cara orang tua mendampingi anak.

Peristiwanya sama. Kedalaman ceritanya berbeda.

Di sinilah jurnalistik bertemu dengan perspektif sosiologis. Jurnalisme menghadirkan fakta dan pengalaman, sedangkan sosiologi membantu kita membaca hubungan antara pengalaman individu dan kehidupan sosial yang lebih luas.

Tentu, tulisan yang baik tidak boleh memaksakan kesimpulan yang tidak didukung fakta. Kita tidak bisa menganggap pengalaman satu keluarga sebagai gambaran seluruh keluarga Indonesia. Kita juga tidak boleh menambahkan kisah emosional yang tidak benar-benar terjadi hanya agar tulisan terasa menyentuh.

Justru di situlah integritas jurnalistik diuji. Fakta harus tetap menjadi pijakan, sementara interpretasi dibangun secara jujur dan proporsional.

Pengalaman Two Efly dan Azib menjadi menarik bukan karena harus dibesar-besarkan, melainkan karena di dalamnya memang terdapat persoalan manusia yang relevan bagi banyak orang.

Saya kira, inilah salah satu tugas penting jurnalis: tidak sekadar mengejar peristiwa yang ramai, tetapi juga peka terhadap cerita yang memungkinkan masyarakat memahami dirinya sendiri.

Kadang-kadang, berita paling berharga bukanlah tentang siapa yang paling tinggi mencapai puncak, melainkan tentang apa yang bisa dipelajari manusia dari perjalanan menuju ke sana.

Gunung bukan sekadar destinasi

Ada sisi lain dari Seven Summits West Sumatra yang juga patut mendapat perhatian, yakni potensi wisata pendakian di Sumatera Barat.

Kerinci, Talamau, Marapi, Singgalang, Talang, Sago, dan Tandikek memperlihatkan kekayaan alam yang dapat menjadi daya tarik wisata. Catatan ekspedisi seperti ini berpotensi membantu memperkenalkan karakter dan daya tarik gunung-gunung tersebut kepada pembaca yang lebih luas.

Namun, kita tidak boleh hanya melihat gunung sebagai komoditas pariwisata.

Gunung adalah ekosistem yang memiliki daya dukung terbatas. Pengembangan wisata pendakian harus disertai perhatian terhadap keselamatan, pengelolaan sampah, kelestarian lingkungan, kapasitas jalur, serta keterlibatan masyarakat lokal.

Keberadaan pemandu lokal dalam perjalanan Two Efly dan Azib juga mengingatkan kita bahwa pengalaman mendaki tidak hanya ditopang oleh kekuatan fisik para pendaki. Ada pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman masyarakat setempat yang berperan dalam perjalanan tersebut.

Mereka bukan sekadar pelengkap. Mereka bagian dari ekosistem sosial yang ikut menjaga, memahami, dan menghidupkan kawasan gunung.

Karena itu, potensi wisata alam Sumatera Barat semestinya dikembangkan dengan prinsip keberlanjutan. Wisatawan datang membawa manfaat ekonomi, tetapi alam tidak boleh menanggung kerusakan sebagai harga yang harus dibayar.

Kita perlu memastikan bahwa gunung tetap menjadi ruang yang aman bagi pendaki, sumber penghidupan bagi masyarakat, dan warisan alam yang dapat dinikmati generasi berikutnya.

Dalam konteks ini, sebuah buku perjalanan dapat memiliki fungsi lebih luas daripada dokumentasi petualangan. Ia bisa menjadi pintu untuk mengenal alam sekaligus mengingatkan pembaca mengenai tanggung jawab terhadapnya.

Dari obrolan kopi, kita pulang membawa pertanyaan

Saya kembali teringat obrolan dengan Two Efly di kedai kopi kawasan GOR Haji Agus Salim. Dari cerita-ceritanya tentang perjalanan bersama Azib, saya melihat bahwa sebuah pengalaman dapat memiliki lebih dari satu makna.

Bagi pendaki, gunung adalah medan yang harus dihadapi. Bagi penulis, perjalanan adalah pengalaman yang dapat didokumentasikan. Bagi pembaca, kisah itu bisa menjadi pengetahuan sekaligus bahan renungan.

Sementara bagi seorang ayah, perjalanan bersama anak dapat menjadi kesempatan untuk membangun sesuatu yang tidak selalu bisa diukur: kepercayaan, kedekatan, kenangan, dan nilai-nilai kehidupan.

Saya tidak tahu apakah setiap orang yang membaca Seven Summits West Sumatra akan menangkap makna yang sama. Setiap pembaca memiliki pengalaman dan cara pandangnya sendiri. Namun, bagi saya, buku ini menghadirkan pertanyaan yang layak dibawa pulang ke rumah.

Kita mungkin tidak punya kesempatan mendaki tujuh gunung. Kita juga tidak harus melakukan ekspedisi panjang untuk menjadi orang tua yang baik. Tetapi, kita semua memiliki waktu yang terus bergerak, dan anak-anak yang tumbuh lebih cepat daripada yang sering kita sadari.

Mungkin hari ini mereka masih menunggu kita pulang. Besok mereka mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Beberapa tahun kemudian, mereka memiliki perjalanan, pilihan, dan tujuan hidup yang tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Karena itu, barangkali yang perlu kita pikirkan bukan seberapa banyak fasilitas yang sudah kita siapkan untuk mereka, melainkan juga seberapa banyak kesempatan yang telah kita gunakan untuk benar-benar mengenal mereka.

Sebagai jurnalis, saya percaya sebuah tulisan yang baik tidak harus selalu berakhir dengan kesimpulan yang menggurui. Terkadang, tulisan yang baik justru meninggalkan pertanyaan yang membuat pembacanya berhenti sejenak, lalu memikirkan kembali kehidupannya sendiri.

Buku Two Efly dan Azib memberi saya ruang untuk merenungkan pertanyaan itu. Dari obrolan di kedai kopi, kisah perjalanan mereka membawa saya kembali kepada sesuatu yang sangat dekat: keluarga, waktu, dan tanggung jawab kita dalam mendampingi generasi berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang ayah tidak cukup diukur dari seberapa jauh ia mengantarkan anaknya mencapai cita-cita. Ada hal yang lebih mendasar: nilai apa yang tumbuh dalam diri anak ketika ia kelak harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Dan bagi seorang jurnalis, tugasnya bukan hanya mencatat siapa yang berhasil mencapai puncak, tetapi juga menggali pelajaran kemanusiaan dari perjalanan itu, lalu menyampaikannya kepada publik dengan jujur, kritis, dan bertanggung jawab.

Sebab, setelah semua pendakian berakhir, gunung akan tetap berdiri di tempatnya. Buku akan menjadi catatan yang bisa dibaca kembali. Namun, anak akan terus tumbuh, waktu tidak akan berputar mundur, dan kesempatan membangun kenangan bersama tidak selalu datang untuk kedua kalinya.

Mungkin, puncak tertinggi yang sesungguhnya bukanlah gunung yang berhasil kita taklukkan, melainkan kemampuan kita mendampingi anak tumbuh menjadi manusia yang tangguh, tanpa kehilangan kedekatan dengannya.

Sebab, pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya apakah kita berhasil mencapai puncak bersama anak, tetapi apakah setelah perjalanan itu selesai, kita telah membantunya menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan.(*)

# Penulis adalah Jurnalis Harian Umum Rakyat Sumbar | Member of Jawa Pos Group

Exit mobile version