Dharmasraya, rakyatsumbar.id— Kemarau panjang melanda Bumi Ranah Cati Nan Tigo. Nyaris seluruh masyarakat di 11 kecamatan terdampak kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih. Mulai dari kebutuhan mandi, mencuci hingga air minum.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Sejak 18 Agustus hingga 20 September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, telah mendistribusikan 630.200 liter air bersih kepada masyarakat.
Kepala BPBD Kabupaten Dharmasraya Suherman Junaidi, mengatakan penyaluran tersebut dilakukan sejak 18 Agustus hingga 20 September 2026. Dalam periode tersebut, tercatat 137 tangki air telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 6.061 kepala keluarga (KK) yang terdampak.
“Sebanyak 92 jorong terdampak kekeringan yang tersebar di 10 kecamatan. Untuk Kecamatan IX Koto, sampai saat ini belum ada penyaluran karena belum masuk wilayah yang membutuhkan,” kata Suherman, Senin (22/09/26)
Menurutnya, pendistribusian air bersih dilakukan BPBD dengan dukungan armada dari sejumlah instansi. Selain BPBD, bantuan penyaluran juga dilakukan oleh Polres Dharmasraya dan Brimob.
Suherman menjelaskan, penyaluran air tidak dilakukan secara sembarangan. BPBD membuat jadwal berdasarkan kondisi di lapangan, terutama bagi masyarakat yang mengalami kekeringan dan membutuhkan air bersih secara mendesak.
“Pola penyalurannya kita jadwalkan bagi masyarakat yang memang mengalami kekeringan dan sangat urgen untuk menerima air,” ujarnya.
Warga juga tidak diperbolehkan meminta pengisian ke tandon atau tedmond pribadi. Air hanya diperuntukkan bagi kebutuhan langsung masyarakat, dengan pengecualian untuk tedmond yang disediakan pemerintah.
“Tidak boleh mengisi tedmond pribadi, kecuali tedmond yang kita sediakan. Untuk fasilitas ibadah, diperbolehkan,” jelasnya.
Sedangkan bagi masyarakat, hanya diperbolehkan menggunakan ember, baskom atau sejenisnya, selain dari Tedmond.
Armada Masih Menjadi Kendala, di tengah kebutuhan air bersih yang cukup tinggi, keterbatasan armada menjadi salah satu kendala BPBD dalam mempercepat pendistribusian.
Saat ini, BPBD Dharmasraya memiliki tiga armada, sementara Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Sosial masing-masing memiliki satu armada. Dengan demikian, dalam satu kali perjalanan terdapat sekitar lima armada yang dapat bergerak menyalurkan air kepada masyarakat.
“Kendala kita saat ini hanya armada,sebab medan yang harus kita tempuh cukup jauh dari pusat pengambilan air,” kata Suherman.
Untuk biaya pendistribusian, anggaran disesuaikan dengan jarak tempuh. Rata-rata biaya yang dibutuhkan sekitar Rp600 ribu untuk satu armada dalam sekali perjalanan.
Sedangkan,untuk memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD mengambil air dari tiga titik, yakni SPAM Sitiung, Mata Air Pelayangan dan SPAM Pulau.
Dengan kondisi kekeringan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, pemerintah daerah terus mengatur pendistribusian agar bantuan dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan.
Penyaluran air bersih ini diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari selama kondisi kekeringan masih berlangsung. (yy)

