Site icon rakyatsumbar.id

Laut, Ekonomi Biru, dan Masa Depan Sumatera Barat

Oleh: Revdi Iwan Syahputra (Jurnalis Pemegang Kompetensi Utama)

Kadang ide besar tidak lahir dari ruang rapat yang penuh protokol. Ia justru muncul dari obrolan santai, dari secangkir kopi, dan dari orang-orang yang sama-sama memikirkan masa depan daerahnya.

Itulah yang saya rasakan suatu malam di kawasan Ulak Karang. Di sebuah ruang kreatif yang dikenal sebagai Star Up Mak Etek, kami berbincang santai tentang laut dan masa depan ekonomi Sumatera Barat.

Yang hadir bukan orang sembarangan. Ada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat, Syefdinon. Ada juga pegiat ekonomi kreatif dan pariwisata,

Muhammad Zuhrizul. Percakapan semakin menarik karena ikut bergabung Yulviadi Adek, salah satu direktur di Indonesia Creative City Network.

Tidak ada podium. Tidak ada presentasi panjang. Hanya diskusi ringan yang mengalir.

Namun dari obrolan santai itu, satu hal terasa jelas: laut Sumatera Barat menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, tetapi belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Padahal, jika melihat peta wilayah, provinsi ini memiliki garis pantai panjang, pulau-pulau kecil yang indah, serta budaya pesisir yang kuat. Potensi ini bukan hanya soal perikanan, tetapi juga pariwisata, ekonomi kreatif, hingga olahraga berbasis wisata.
Di sinilah konsep ekonomi biru menjadi penting.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Belgia, Gunter Pauli. Intinya sederhana: memanfaatkan sumber daya laut untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap menjaga kelestarian ekosistemnya.
Dengan kata lain, laut tidak boleh hanya diambil manfaatnya. Laut harus dijaga agar tetap hidup dan produktif.

Bagi Indonesia, gagasan ini sangat relevan. Lebih dari 70 persen wilayah negara ini adalah lautan. Artinya, masa depan ekonomi Indonesia sangat berkaitan dengan bagaimana laut dikelola.

Dalam diskusi itu, Syefdinon menegaskan bahwa laut tidak lagi bisa dipandang hanya dari sektor perikanan. Pengelolaan laut harus lebih luas: mulai dari budidaya laut, konservasi ekosistem, hingga pariwisata bahari.

Di sisi lain, Zuhrizul melihat peluang besar dari ekonomi kreatif yang terhubung dengan wilayah pesisir. Kuliner laut, festival pantai, kegiatan budaya, hingga promosi digital destinasi wisata bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Yulviadi Adek memberikan perspektif menarik dari jejaring kota kreatif nasional. Melalui Indonesia Creative City Network, ia melihat bahwa kota-kota yang berkembang hari ini adalah kota yang mampu menggabungkan kreativitas, budaya lokal, dan potensi alam menjadi kekuatan ekonomi baru.
Diskusi kami kemudian sampai pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana memperkenalkan potensi laut Sumatera Barat kepada publik dengan cara yang menarik?
Jawaban yang muncul adalah melalui sport tourism.

Olahraga memiliki kekuatan unik. Ia mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus: pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, hingga promosi daerah.

Blue Ocean Minang (BOM) Run 2026.

Event ini tidak sekadar lomba lari. Ia ingin menjadi gerakan untuk memperkenalkan laut Sumatera Barat kepada publik lebih luas. Orang datang untuk berlari, tetapi juga menikmati pantai, budaya lokal, kuliner, dan keramahan masyarakat pesisir.

Dalam konteks inilah ekonomi biru menemukan bentuknya yang lebih nyata. Laut bukan hanya dilihat sebagai sumber ikan, tetapi juga sebagai ruang wisata, ruang budaya, dan ruang ekonomi baru.

Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana: laut yang sehat akan melahirkan ekonomi yang kuat.

Obrolan santai di Ulak Karang sore itu mungkin terlihat kecil. Namun sering kali gagasan besar memang lahir dari percakapan sederhana.

Jika dikelola dengan konsisten, bukan tidak mungkin Sumatera Barat bisa menjadikan kawasan pesisirnya sebagai salah satu pusat wisata bahari berkelanjutan di Indonesia.
Karena pada akhirnya, ekonomi biru bukan hanya soal laut.

Ia adalah cara pandang baru tentang pembangunan: bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan alam. Justru dari alam yang dijaga dengan baik, masa depan bisa tumbuh lebih kuat. (*)

Exit mobile version