Padang, rakyatsumbar.id — Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Langit Kota Padang dan sejumlah daerah tampak kelabu, bahkan jarak pandang di beberapa lokasi mulai sedikit berkurang.
Kabut asap tersebut sejauh ini bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumbar. Dinas Kehutanan Sumbar memastikan belum menemukan kejadian karhutla yang berarti di wilayah Sumbar.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Ferdinal Asmin, mengatakan hingga Kamis (13/08/2026), belum ada laporan maupun pantauan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) terkait titik api yang mengarah pada kejadian karhutla signifikan di Sumbar.
“Hotspot ini bisa berubah-ubah per jam. Bahkan petani yang membakar jerami di sawah pun ikut terdeteksi. Jadi secara umum kondisi di Sumbar saat ini belum ada kejadian karhutla yang berarti,” kata Ferdinal.
Meski belum ada karhutla yang berarti, Ferdinal menyebut kondisi kabut asap yang menyelimuti Sumbar bukan tanpa sebab.
Ia menduga asap tersebut merupakan kiriman dari provinsi tetangga yang saat ini tengah menghadapi karhutla, terutama Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi.
Kondisi angin yang membawa massa udara dari wilayah tersebut membuat asap berpotensi menyebar hingga Sumbar.
“Asap ini benar-benar terbawa embusan angin, dan Sumbar terdampak akibat karhutla yang terjadi di provinsi tetangga itu,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kondisi tersebut bukan berarti Sumbar boleh lengah. Justru masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah di Sumbar memiliki tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi.
Beberapa daerah yang dinilai rawan di antaranya Kabupaten Pesisir Selatan, Limapuluh Kota, Solok, Agam, Kota Padang dan sejumlah daerah lainnya.
Kerawanan itu dipengaruhi keberadaan lahan gambut, hamparan ilalang dan vegetasi yang mudah terbakar.
Pihaknya meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.
“Jangan lakukan aktivitas soal pembersihan lahan perkebunan dengan cara membakar. Begitupun dalam membuang puntung rokok yang melintasi kawasan yang berdekatan dengan kawasan hutan,” ujarnya.
Kualitas Udara Kategori Sedang
Kondisi kabut asap juga mendapat perhatian Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang.
Kepala Stasiun GAW Bukit Kototabang, Dr. Sugeng Nugroho, mengatakan kualitas udara di sebagian besar wilayah Sumbar saat ini berada pada kategori sedang.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan kualitas udara dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang masih berada pada kategori baik.
Sugeng mengatakan, kondisi berkabut yang terjadi di sejumlah wilayah Sumbar diduga kuat berkaitan dengan masuknya asap dari wilayah provinsi tetangga.
“Kabut asap yang terlihat di Kota Padang diperkirakan merupakan kiriman dari wilayah provinsi tetangga. Pergerakan asap tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi angin dan atmosfer sehingga menyebar hingga ke wilayah Kota Padang,” jelasnya.
Menurut Sugeng, asap dari titik api di Sumatera Selatan berpotensi terbawa hingga Sumbar. Bahkan asap dari titik api di Pulau Kalimantan juga berpotensi terbawa ke wilayah Sumatera dan turut memengaruhi kondisi udara.
“Dari hasil pemantauan, Sumatera Barat tidak memiliki sumber emisi untuk kabut asap. Kondisi ini diduga berasal dari provinsi tetangga dan didukung oleh arah hembusan angin dari wilayah tersebut,” ujarnya.
Data Indeks Kualitas Udara (AQI) pada Kamis (13/08/2026) sekitar pukul 13.30 WIB menunjukkan kualitas udara Kota Padang berada pada kategori sedang, dengan kondisi PM2.5 yang mulai meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Sugeng menyarankan masyarakat menggunakan pelindung mata saat berkendara. Anak-anak dan lanjut usia juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih menurun.
“Masyarakat diimbau tidak mengabaikan kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar rumah, dan gunakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap,” pungkasnya.
Fenomena Meteorologi
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau memastikan kondisi tersebut merupakan fenomena meteorologi yang dikenal sebagai haze, yang dipengaruhi minimnya curah hujan di Sumatera Barat.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Raafi Darojat, mengatakan minimnya hujan membuat partikel-partikel kering di permukaan lebih mudah terangkat dan melayang di atmosfer. Kondisi itu kemudian membuat udara terlihat buram serta mengurangi kejernihan pandangan.
“Kondisi tersebut terjadi ketika hujan di Sumatera Barat relatif minim dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat partikel-partikel kering di permukaan lebih mudah terangkat ke udara. Akibatnya, udara terlihat buram dan masyarakat seolah-olah melihat kondisi berkabut atau berasap,” ujar Raafi.
Menurutnya, fenomena haze terjadi ketika konsentrasi partikel udara kering meningkat dan melayang di atmosfer. Partikel tersebut membiaskan cahaya matahari sehingga pandangan secara mendatar menjadi tampak buram.
Raafi menjelaskan, partikel yang berada di udara dapat berasal dari berbagai sumber, baik aktivitas manusia maupun faktor alam lokal. Di antaranya emisi kendaraan bermotor, gas buang industri, hingga debu yang berasal dari permukaan tanah.
Meski secara visual udara Kota Padang terlihat berkabut atau berasap, BMKG menyebut kondisi tersebut belum menunjukkan adanya kabut asap tebal. Indikator atmosfer saat ini masih berada dalam kategori udara kabur biasa.
“Informasi mengenai indeks ketebalan asap, atau berkabut, untuk saat ini masih dikategori udara kabur, karena kelembaban udara masih tinggi, kemudian jarak pandang mendatar masih lebih dari 5 kilometer,” jelasnya.
Kondisi kelembapan yang masih tinggi dan jarak pandang horizontal yang berada di atas 5 kilometer tersebut menunjukkan kondisi atmosfer secara umum masih relatif stabil.
Raafi juga menepis kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan masuknya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari daerah lain ke Kota Padang. Berdasarkan pemantauan atmosfer BMKG, hingga saat ini belum ditemukan indikasi adanya sebaran asap kiriman dari wilayah lain.
“Terkait dugaan kondisi udara tersebut disebabkan asap kebakaran hutan dan lahan, BMKG menyebut belum ada indikasi asap dari kiriman daerah lain,” katanya.
Dengan demikian, kondisi udara kabur yang terlihat di Padang saat ini lebih berkaitan dengan kondisi atmosfer lokal dan minimnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, lanjut Raafi, akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer, termasuk pergerakan partikel dan arah angin. Jika nantinya terdeteksi adanya sebaran asap dari wilayah lain, informasi tersebut akan segera diperbarui kepada masyarakat.
“Akan kami update jika terpantau ada sebaran asap,” tegasnya.
Mengenai kapan kondisi udara akan kembali jernih, BMKG memperkirakan fenomena tersebut akan berangsur normal setelah hujan turun dengan intensitas yang cukup. Hujan akan membantu membersihkan partikel-partikel kering yang melayang di atmosfer.
“Untuk sampai kapan fenomena ini, kondisi diprakirakan akan kembali normal saat ada hujan,” ujar Raafi.
BMKG pun mengimbau masyarakat Kota Padang dan sekitarnya tidak panik menghadapi kondisi udara yang tampak kabur tersebut. Warga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai isu asap karhutla kiriman.
“Himbauan bagi masyarakat tidak perlu panik atau cemas, tetap pantau informasi resmi dari BMKG,” pungkas Raafi.(mul/edg)

