Padang, rakyatsumbar.id–Aktivitas vulkanik Gunung Marapi kembali menunjukkan peningkatan. Rabu (18/02/2026) pukul 10:53 WIB, gunung api aktif tersebut, kembali mengalami erupsi. Karena tebalnya kabut dan kondisi cuaca membuat tinggi kolom abu tidak teramati secara visual dari pos pengamatan.
Petugas Pemantau Gunung Api Marapi dari PVMBG, Ahmad Rifandi, mengonfirmasi bahwa letusan tersebut terekam jelas di seismogram.
“Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum mencapai 30 mm dan durasi gempa sekitar 31 detik,” ujar Ahmad Rifandi dalam keterangan resminya.
Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status Gunung Marapi pada Level II (Waspada). Mengingat karakteristik erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu, pihak berwenang mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat bagi masyarakat dan wisatawan.
Dimana, steril radius 3 KM: masyarakat, pendaki, maupun wisatawan dilarang keras memasuki atau beraktivitas di dalam radius 3 km dari pusat aktivitas (Kawah Verbeek). Bagi warga yang bermukim di sekitar lembah atau bantaran sungai yang berhulu di puncak Marapi, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar, terutama saat curah hujan tinggi.
Pihak PVMBG juga meminta masyarakat di wilayah terdampak, seperti Tanahdatar, Agam, Padangpanjang dan Bukittinggi, untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanahdatar, Robert membenarkan abu vulkanik gunung Marapi hujani Kota Batusangkar dan sejumlah kecamatan di Tanahdatar.
“Abu vulkanik gunung Marapi turun banyak di kota Batusangkar, juga terpantau di sejumlah kecamatan, diantaranya di Tanjung Emas dan Sungai Tarab,” ujar Robert.
Ia menambahkan, saat ini pihak BPBD sedang membagikan masker kepada warga masyarakat di sejumlah titik yang terdampak abu vulkanik.
“Abu vulkanik diketahui turun pada pukul 10:53 WIB, terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi ± 31 detik, sumber dari Pos Pengamatan Gunung Api Marapi,” terangnya.
Meskipun erupsi ini terbilang singkat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa status Gunung Marapi tetap berada pada Level II atau Waspada. Warga diminta tidak lengah terhadap potensi ancaman lanjutan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Reni Asmara, salah seorang warga mengatakan, hujan abu vulkanik yang melanda kawasan Batusangkar cukup menganggu pemandangan, khususnya bagi pengendara motor.
“Kalau tidak menggunakan helm, abunya bisa masuk ke mata dan mengganggu jarak pandang. Tadi saat motor di parkir aja, abunya memunuhi jok motor,” kata Guru SDN 12 Paninjaun itu.
Reni juga meminta kepada pihak terkait, untuk melakukan langkah antisipasi terhadap penyebaran abu vulkanik itu. Selain membagikan masker kepada masyarakat, juga memberikan edukasi agar masyarakat jangan banyak berkegiatan di luar rumah.
“Melihat aktivitas Marapi yang sering erupsi, masyarakat juga harus diberikan edukasi untuk pencegahan dan penanganan dampak letusan Marapi dan lahar dingin seperti yang terjadi pada tahun 2023 silam,” ucapnya. (ned/ali)

