Pagi, Rabu (29/4/2026), langit Padang belum sepenuhnya tinggi ketika langkah-langkah mulai bergerak di Pelabuhan Muara. Jarum jam menunjuk pukul 07.05 WIB, saat kapal cepat Mentawai Fast perlahan melepas tambatan, membawa rombongan KONI Sumatera Barat menuju Kepulauan Mentawai.
Di buritan, garis Pantai Muara Padang perlahan menjauh. Gunung Padang berdiri tenang di kejauhan, seakan mengantar perjalanan dengan diam yang penuh makna. Riak ombak pagi memantul cahaya matahari, menciptakan kilau-kilau kecil di permukaan laut—tenang, tapi hidup.
Di dalam rombongan itu, Ketua Umum KONI Sumbar Hamdanus, turut didampingi Wakil Ketua Umum VI Revdi Iwan Syahputra, Wakil Sekretaris Umum II Dr. Risky Syahputra, Sespri Riko Onik Putra, Kepala Sekretariat KONI Sumbar Zulfadhli, serta Kabid Organisasi dan Hukum KONI Sumatera Barat Syahindra Nurben.
Perjalanan ini bukan sekadar lintasan laut, tetapi bagian dari tanggung jawab organisasi: menghadiri dan mempersiapkan pelantikan Pengurus KONI Kabupaten Kepulauan Mentawai masa bakti 2025–2029.
Kapal melaju membelah perairan Samudera Hindia. Warna laut berubah perlahan—dari hijau muda di pesisir menjadi biru tua di tengah. Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma asin yang khas. Sesekali burung laut melintas rendah, seakan ikut mengawal perjalanan.
Semakin jauh dari daratan, gugusan pulau mulai muncul di cakrawala. Lanskap Mentawai perlahan menampakkan diri—hijau, alami, dan masih perawan. Tak ada hiruk-pikuk kota, yang ada hanya garis pantai panjang dan pepohonan yang rapat.
Sekitar pukul 10.30 WIB, Mentawai Fast merapat di Pelabuhan Tuapejat. Suasana pelabuhan terasa sederhana, namun hangat. Aktivitas warga berjalan apa adanya—perahu-perahu bersandar, orang-orang berlalu lalang tanpa tergesa. Sebuah potret kehidupan kepulauan yang tenang, jauh dari riuh daratan utama.
Rombongan KONI Sumbar pun langsung bersiap menjalani agenda berikutnya. Sore harinya, dijadwalkan gladi resik pelantikan sebagai bagian dari persiapan acara puncak yang akan digelar Kamis (30/4/2026) di Aula Bappeda Kepulauan Mentawai.
Pelantikan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan resmi KONI Kepulauan Mentawai yang meminta KONI Sumbar untuk melantik dan mengukuhkan kepengurusan baru masa bakti 2025–2029. Momentum ini menjadi langkah awal untuk memperkuat pembinaan olahraga di wilayah kepulauan tersebut.
Setibanya di Mentawai, rombongan langsung mengkonsolidasikan agenda dan memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum KONI Sumbar menegaskan pentingnya peran pengurus baru dalam membangun sistem pembinaan olahraga yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Mentawai memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun karakter alamnya. Tinggal bagaimana pengurus mampu mengelola dan membina atlet secara konsisten,” ujarnya.
Ia menekankan, pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal kerja nyata untuk melahirkan prestasi. Terlebih, Mentawai dengan karakter geografis kepulauan memiliki tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan pembinaan yang adaptif dan berkelanjutan.
Pelantikan ini juga diharapkan menjadi titik awal kebangkitan prestasi olahraga Mentawai, sekaligus memperkuat sinergi antara KONI kabupaten dan provinsi dalam menghadapi berbagai agenda olahraga ke depan, termasuk multi event tingkat daerah maupun nasional.
Sementara itu, Ketua KONI Kepulauan Mentawai, Ali Nurdin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung jajaran KONI Sumbar yang datang jauh melintasi laut untuk memastikan pelantikan berjalan lancar.
“Kehadiran KONI Sumbar menjadi semangat bagi kami untuk bekerja lebih maksimal. Ini bukan sekadar pelantikan, tapi awal tanggung jawab besar untuk memajukan olahraga Mentawai,” ungkapnya.
Bagi rombongan KONI Sumbar, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri seremoni. Dari pagi di Muara Padang hingga tiba di Tuapejat, terselip satu semangat yang sama—menghubungkan komitmen, memperkuat sinergi, dan memastikan bahwa pembinaan olahraga tetap bergerak, bahkan melintasi laut.
Dan Mentawai, dengan segala keindahan dan kesederhanaannya, hari itu menjadi saksi: bahwa olahraga bukan hanya soal prestasi, tapi juga tentang perjalanan, dedikasi, dan keberanian menjangkau batas.(ope)

