Site icon rakyatsumbar.id

BOM Run 2026 Pecahkan Rekor Peserta, Ribuan Pelari Menyerbu Padang, Ekonomi Lokal Ikut Berlari

Minggu pagi, 9 Agustus 2026, Kota Padang bukan sekadar menjadi lintasan lomba lari. Kota ini berubah menjadi panggung besar olahraga, pariwisata, budaya sekaligus pergerakan ekonomi.

Minggu pagi, 9 Agustus 2026, Kota Padang bukan sekadar menjadi lintasan lomba lari. Kota ini berubah menjadi panggung besar olahraga, pariwisata, budaya sekaligus pergerakan ekonomi.

Padang, rakyatsumbar.id — Minggu pagi, 9 Agustus 2026, Kota Padang bukan sekadar menjadi lintasan lomba lari. Kota ini berubah menjadi panggung besar olahraga, pariwisata, budaya sekaligus pergerakan ekonomi.

Dari garis start di kawasan Pantai Cimpago, ribuan pelari berlari menyusuri pesisir Kota Padang. Namun di balik setiap langkah kaki para runners, ada cerita ekonomi yang ikut bergerak: kamar hotel terisi, restoran dan rumah makan dipadati, transportasi digunakan, UMKM mendapat pembeli, hingga destinasi wisata kembali mendapat kunjungan.

Itulah wajah Blue Ocean Minang Run (BOM Run) 2026. Event yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357 tersebut mencatat lonjakan peserta yang signifikan.

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wawako Maigus Nasir, Sekdaprov Arry Yuswandi dan jajaran panitia saat melepas peserta BOM Run 2026.

Jika pada 2025 jumlah peserta sekitar 2.100 orang, tahun ini menembus 3.823 peserta, meningkat hampir dua kali lipat. Sekitar 35 persen peserta datang dari luar Sumatera Barat.

Angka itu memperlihatkan satu hal penting: BOM Run mulai bergerak dari sekadar event olahraga menuju mesin sport tourism yang membawa orang datang, tinggal, makan, berwisata dan membelanjakan uangnya di Kota Padang.

Konsep BOM Run sendiri sejak awal memang dirancang untuk menggabungkan olahraga, pariwisata, budaya dan ekonomi kreatif. Kanal resmi BOM Run menyebut event ini sebagai perpaduan sport dan blue tourism, dengan pesisir Kota Padang sebagai salah satu kekuatan utamanya.

Revolusi Kecil di Lintasan Lari

Asisten II Setdako Padang Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Didi Aryadi, mengapresiasi pelaksanaan BOM Run 2026.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini jauh lebih baik, tertib, dan mendapat respons luar biasa dari peserta.

“Alhamdulillah pelaksanaan BomRun tahun ini jauh lebih baik penyelenggaraannya, juga pesertanya lebih banyak. Kemudian kita melihat antusiasme dari seluruh peserta itu luar biasa,” ujar Didi.

Ia menilai BOM Run memiliki posisi strategis dalam pengembangan sport tourism Kota Padang.

“Ini merupakan satu kegiatan sport tourism, karena mungkin lebih dari separuh itu berasal dari luar Kota Padang. Ini tentu merupakan suatu hal yang sangat membanggakan bahwa Kota Padang punya satu event running yang memang berstandar nasional,” katanya.

Pernyataan itu mempertegas bahwa ukuran keberhasilan BOM Run tidak berhenti pada berapa banyak pelari yang berhasil mencapai garis finis.

Ukuran lainnya adalah berapa banyak orang datang ke Padang, berapa lama mereka tinggal, apa yang mereka belanjakan, serta seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat.

Ketua Panitia BOM Run 2026 Revdi Iwan Syahputra bersama Wali Kota Padang Fadly Amran

Jangan Hanya Berlari, Tapi Beri Dampak

Ketua Pelaksana BOM Run 2026, Revdi Iwan Syahputra, menegaskan bahwa sejak awal panitia tidak ingin BOM Run berhenti sebagai perlombaan lari.

“BOM Run bukan sekadar event lari. Kita ingin setiap langkah para pelari memberikan dampak bagi Kota Padang. Mereka datang untuk berlari, tetapi sekaligus menginap, menikmati kuliner, mengunjungi destinasi wisata dan berinteraksi dengan masyarakat. Di situlah sport tourism benar-benar bekerja,” kata Revdi.

Menurut Revdi, meningkatnya peserta dari luar daerah menjadi indikator bahwa Padang mulai memiliki daya tarik sebagai destinasi event olahraga.

“Ketika ribuan orang dari luar Sumatera Barat datang ke Padang, yang bergerak bukan hanya pelarinya. Hotel bergerak, transportasi bergerak, kuliner bergerak, UMKM bergerak. Jadi kita ingin BOM Run menjadi event yang meninggalkan jejak ekonomi, bukan hanya jejak kaki,” tegasnya.

Ia menyebut capaian 3.823 peserta tahun ini sebagai modal penting untuk membangun BOM Run menjadi event yang lebih besar dan berkelanjutan.

“Bagi kami, angka 3.823 bukan sekadar angka. Ini adalah kepercayaan. Ke depan tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah peserta, tetapi meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan memperbesar dampaknya terhadap masyarakat serta citra Kota Padang,” ujar Revdi.

Sejak awal, BOM Run memang diposisikan sebagai event yang mengintegrasikan olahraga, pariwisata dan budaya. Pemerintah Kota Padang juga sejak jauh hari menempatkannya sebagai salah satu agenda untuk memperkuat posisi Padang sebagai destinasi sport tourism.

35 Persen Datang dari Luar Sumbar

Sekretaris I Panitia BOM Run 2026, Adril Sukri, mengatakan peningkatan peserta tahun ini menjadi capaian tersendiri.

“Blue Ocean Minang Run ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dari Hari Jadi Kota Padang tahun 2026. Tahun lalu ada 2.100 peserta, tahun ini 3.823, ada peningkatan hampir 100 persen,” ujarnya.

Yang lebih penting, sekitar 35 persen peserta berasal dari luar Sumatera Barat.

“Sekitar 35 persen para peserta berasal dari luar Sumatera Barat. Mereka pasti membeli tiket pesawat, mencari penginapan, kuliner dan hotel. Ini pastinya menjadi perputaran ekonomi bagi Kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya,” kata Adril.

Efeknya kemudian menjalar ke berbagai lapisan ekonomi. Pelaku hotel mendapat tamu. Rumah makan mendapat pelanggan. Pedagang kecil mendapat pembeli. Pengemudi transportasi mendapat penumpang. UMKM mendapat pasar.

Dengan kata lain, pelari membawa lebih dari sekadar nomor dada. Mereka membawa aktivitas ekonomi.

Dampak positif BOM Run juga terasa dari pengalaman peserta. Sofyan Zainal, pelari asal Jakarta yang mengikuti kategori 10K, menilai penyelenggaraan BOM Run tidak kalah dibandingkan event lari di Pulau Jawa.

“Cukup bagus menurut saya. Sama dengan event-event di Jawa. Menarik, tertib juga. Penjagaannya setiap persimpangan dijaga, kemudian di sepanjang jalan juga cukup ramai,” ujarnya.

Ia menyukai karakter rute yang memberikan ruang berlari cukup luas. “Yang penting jalan kosong, jadi kita bisa lari cepat,” katanya.

Peserta asal Kayu Tanam, Ismi, juga mengaku menikmati atmosfer BOM Run.

“Acaranya sangat seru sekali, positive vibes, membangkitkan niat saya untuk bangun pagi, menjaga kesehatan, lari pagi-pagi dengan suasana deburan ombak yang masya Allah tabarakallah,” ujarnya.

Ia juga memuji ketepatan waktu penyelenggaraan.

“Panitianya juga top, acaranya mantap, semuanya sesuai jadwal, tidak molor waktu. Pokoknya keren, sukses untuk BomRun tahun-tahun berikutnya!” katanya.

Sementara Zaki, peserta asal Padang, menyebut BOM Run memberikan ruang positif bagi masyarakat untuk berolahraga sekaligus menikmati kemeriahan event.

“Saya sangat senang dan mengapresiasi sekali adanya kegiatan seperti ini. Selain karena saya memang hobi berolahraga lari untuk menjaga kebugaran, acara ini juga sangat meriah dan penuh semangat,” tuturnya.

Dari Garis Finish ke Garis Hijau

BOM Run 2026 juga membawa pesan lingkungan. Sebanyak 50 pelari dilibatkan dalam aksi penanaman mangrove di kawasan Teluk Sirih, Teluk Buo. Pohon yang ditanam diberi label khusus sehingga perkembangannya dapat dipantau pada tahun-tahun berikutnya.

Pesan ini sejalan dengan identitas BOM Run yang sejak awal membawa konsep Blue Tourism—memanfaatkan kekuatan pesisir sekaligus mendorong kesadaran untuk menjaganya.

BOM Run tidak hanya ingin menjadikan laut sebagai latar belakang foto dan jalur lari. Laut juga ditempatkan sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab bersama.

Bom Run dan Masa Depan Padang

BOM Run 2026 pada akhirnya memberikan pelajaran sederhana: event olahraga bisa menjadi instrumen pembangunan kota.

Ribuan orang datang. Ribuan kaki bergerak. Tetapi efeknya jauh lebih panjang daripada durasi lomba.

Ada hotel yang terisi.Ada rumah makan yang ramai.Ada UMKM yang mendapat transaksi.Ada kendaraan yang bergerak.Ada destinasi yang dikunjungi.Ada promosi kota yang berjalan.Dan ada pohon mangrove yang ditanam.

Ketua Pelaksana BOM Run 2026 Revdi Iwan Syahputra menyebut capaian tahun ini sebagai pijakan, bukan garis akhir.

“BOM Run harus terus tumbuh. Kita ingin Padang bukan hanya dikenal sebagai kota yang punya pantai dan kuliner, tetapi juga sebagai kota yang mampu menjadi tuan rumah event olahraga nasional yang profesional, inklusif dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Sebab pada akhirnya, BOM Run bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke garis finish.

Lebih jauh dari itu, BOM Run adalah tentang bagaimana sebuah kota ikut bergerak.

Pelari berlari. Kota bergeliat. Ekonomi bergerak. Pariwisata tumbuh. Dan Padang menemukan panggung barunya melalui olahraga. (tim)

Exit mobile version