Padang, rakyatsumbar.id — Wakaf di kampus tak semestinya berhenti sebagai kotak amal atau sekadar aktivitas filantropi, di Universitas Negeri Padang (UNP), wakaf mulai diarahkan menjadi kekuatan baru untuk menopang kesejahteraan mahasiswa dan membangun kemandirian kampus.
Menariknya, mahasiswa sendiri didorong menjadi motor penggerak gerakan tersebut.
Sebanyak 87 mahasiswa dari berbagai organisasi dan unit kegiatan kemahasiswaan UNP dikumpulkan dalam kegiatan Sosialisasi dan Implementasi Wakaf untuk Kesejahteraan Mahasiswa, Sabtu (29/08/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat Dosen UNP ini secara khusus menyasar aktivis mahasiswa karena dinilai memiliki jaringan luas dan kedekatan dengan komunitas kampus.
Para peserta berasal dari BEM Fakultas, BEM KM, FORSIA, himpunan mahasiswa departemen, KOPMA, KSR-PMI, MENWA, MPALH, MPM KM, Pramuka, UK-IT, UKBA, UKK, UKKES, UKKPK, UKO, UKPWI, UKRO dan sejumlah organisasi mahasiswa lainnya.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Dosen UNP, Dr. Ardi, M.Si., mengatakan aktivis mahasiswa memiliki posisi strategis untuk menjadi opinion leader sekaligus penggerak literasi wakaf. Mereka dinilai memiliki akses dan jaringan yang memungkinkan pesan tentang wakaf menjangkau lebih banyak mahasiswa.
“Kami menyasar aktivis lembaga kemahasiswaan karena mereka memiliki jaringan dan akses yang luas. Diharapkan mereka dapat menjadi opinion leader sekaligus penggerak dalam memperluas literasi wakaf di kalangan mahasiswa,” ujar Dr. Ardi, Sabtu (29/08/2026).
Menurutnya, pemahaman mahasiswa mengenai wakaf saat ini masih relatif awam. Karena itu, dibutuhkan agen-agen penggerak yang mampu menjelaskan wakaf dengan bahasa sederhana serta pendekatan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
“Diperlukan agen-agen penggerak yang mampu menyampaikan informasi wakaf dengan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa,” katanya.
Dr. Ardi berharap, kegiatan Sosialisasi dan Implementasi Wakaf untuk Kesejahteraan Mahasiswa menjadi langkah awal memperkuat literasi wakaf sekaligus membuka ruang keterlibatan generasi muda dalam membangun ekosistem wakaf kampus.
“Dengan melibatkan 87 mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan, gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti di ruang sosialisasi. Para aktivis mahasiswa diharapkan membawa pengetahuan mengenai wakaf ke organisasi dan komunitas masing-masing, sehingga wakaf dapat berkembang menjadi salah satu instrumen yang mendukung kesejahteraan sekaligus memperkuat kemandirian mahasiswa dan kampus,”jelasnya.
Kegiatan tersebut digelar oleh Tim Pengabdian Masyarakat Dosen UNP yang diketuai Dr. Ardi, M.Si., dengan anggota Dr. Rino Dwi Putra, M.M. dan Rahmat Hidayat, S.Si., M.S. Tim tersebut bermitra dengan UPT Halal dan Pengelolaan Dana Sosial (HPDS) UNP yang dipimpin Miftahul Khair, M.Sc., Ph.D. Kegiatan didanai melalui LP2M UNP.
Kepala UPT HPDS UNP, Miftahul Khair, Ph.D., saat membuka kegiatan menyebut UNP sebenarnya telah memiliki sejumlah instrumen filantropi Islam yang dapat dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan mahasiswa.
“Salah satunya adalah Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UNP yang telah menjalankan program Beasiswa BAZNAS bagi mahasiswa. Selain itu, UNP juga telah memiliki Unit Pengelola Wakaf (UPW) yang telah berdiri dan berjalan sekitar satu tahun,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan UPZ dan UPW dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem filantropi Islam di lingkungan UNP.
Pengelolaan zakat dan wakaf secara profesional tidak hanya berorientasi pada penghimpunan dana sosial, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata melalui beasiswa dan berbagai program pemberdayaan mahasiswa.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapat materi “Wakaf dan Urgensinya” yang disampaikan dosen STAI-PIQ Sumatera Barat sekaligus konsultan wakaf, Ustaz Zulfi Akmal, Lc., MA.
Materi membahas konsep, kedudukan dan urgensi wakaf serta potensinya sebagai instrumen filantropi yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Materi berikutnya disampaikan Nazhir Wakaf UNP, Dr. Rino Dwi Putra, M.M., dengan tema “Peran Strategis Duta Wakaf Muda dalam Membangun Kemandirian Kampus”. Melalui materi tersebut, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pihak yang memahami wakaf, tetapi juga mengambil peran sebagai Duta Wakaf Muda.
Diskusi kemudian berkembang lebih jauh. Mahasiswa tidak hanya membicarakan bagaimana meningkatkan partisipasi dalam gerakan wakaf, tetapi juga mulai mempertanyakan hal-hal yang menjadi fondasi kepercayaan publik, seperti transparansi, akuntabilitas dan tata kelola wakaf di lingkungan kampus.
Presiden Mahasiswa UNP, Farid Wajdi, menilai aspek akuntabilitas menjadi hal penting dalam memastikan manfaat wakaf benar-benar dirasakan oleh pihak yang membutuhkan.
“Penyaluran manfaat wakaf harus akuntabel, sehingga dapat dipastikan diterima oleh pihak yang membutuhkan dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan mahasiswa,” ujar Farid.
Mahasiswa juga mengusulkan adanya payung legal dan kelembagaan yang kuat bagi pengelolaan wakaf di lingkungan kampus. Kejelasan regulasi dinilai penting untuk membangun kepercayaan sekaligus memastikan pengelolaan aset dan dana wakaf berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kejelasan regulasi penting untuk membangun kepercayaan sekaligus memastikan pengelolaan aset dan dana wakaf berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” paparnya.
Profesionalitas nazhir turut menjadi perhatian mahasiswa. Mahasiswa berharap, pengelola wakaf diharapkan memiliki kompetensi, integritas dan kemampuan manajerial yang memadai agar aset wakaf dapat dikelola secara amanah, produktif dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. (edg)

