Site icon rakyatsumbar.id

UNP Dampingi Petani Bungus Produksi NPK Organik Berteknologi Nanobubbles

UNP memperkenalkan teknologi nanobubbles dalam pembuatan NPK organik kepada warga.

UNP memperkenalkan teknologi nanobubbles dalam pembuatan NPK organik kepada warga.

Padang, rakyatsumbar.id — Universitas Negeri Padang (UNP) terus mendorong penguatan kemandirian petani melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.

Salah satunya dilakukan melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dengan menerapkan teknologi nanobubbles untuk pembuatan pupuk NPK organik bagi kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Bungus, Kota Padang.

Kegiatan tersebut diketuai Prof. Dr. Abdul Razak, S.Si., M.Si., dengan melibatkan tim yang memiliki keahlian di bidang ekologi dan lingkungan, hidroponik, sosial, serta kesehatan masyarakat. Tim terdiri dari Dr. Nora Eka Putri, S.IP., M.Si., Dr. Resti Fevria, S.T.P., M.P., dan Dr. dr. Pudya M. Indika, M.Kes., AIFO-K.

Prof. Abdul Razak mengatakan, program tersebut merupakan bentuk kepedulian UNP terhadap masyarakat, khususnya kelompok petani di Kecamatan Bungus yang menghadapi persoalan biaya produksi dan keterbatasan pengetahuan dalam mengolah pupuk organik secara mandiri.

“Pengabdian ini kami lakukan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Petani membutuhkan pupuk yang murah, mudah dibuat, ramah lingkungan, tetapi tetap mampu mendukung produktivitas tanaman. Karena itu, kami memperkenalkan teknologi nanobubbles dalam pembuatan NPK organik,” ujar Prof. Abdul Razak saat dihubungi , Senin (28/09/2026).

Menurutnya, kegiatan diawali dengan survei lokasi dan pembahasan bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Bungus pada Mei 2026. Setelah kesepakatan dengan kelompok sasaran, pelatihan dilaksanakan sebanyak tiga kali, masing-masing pada 8, 9 dan 22 Agustus 2026.

Persoalan biaya pupuk menjadi salah satu alasan utama program tersebut digulirkan. Berdasarkan data tim pengabdian, harga NPK Phonska di Kecamatan Bungus mencapai sekitar Rp79.000 per 10 kilogram, sedangkan pupuk Urea mencapai Rp356.250 per 50 kilogram. Kenaikan biaya input produksi tersebut dinilai ikut menekan pendapatan petani.

“Kalau biaya produksi terus meningkat, sementara kemampuan petani terbatas, tentu akan berdampak terhadap keberlanjutan usaha tani. Karena itu, petani perlu memiliki alternatif untuk menghasilkan pupuk sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka,” kata Abdul Razak.

Ia menjelaskan, selain persoalan harga pupuk, masih terdapat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat pupuk organik yang murah sekaligus memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman dan keberlangsungan usaha tani.

Melalui penerapan teknologi nanobubbles, tim UNP memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok tani dan KWT untuk menghasilkan pupuk NPK cair organik. Teknologi tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.

“Target kami bukan sekadar memberikan pelatihan, tetapi bagaimana pengetahuan dan teknologi yang diberikan benar-benar dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri. Dengan begitu, petani dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil usaha budidayanya,” tutur Abdul Razak.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendorong diversifikasi usaha tani. Dengan kemampuan mengolah pupuk secara mandiri, kelompok tani dan KWT diharapkan tidak hanya menjadi pengguna produk pertanian, tetapi juga mampu menghasilkan produk pendukung pertanian yang memiliki nilai ekonomi.

“Harapannya, kegiatan ini memberikan dampak berkelanjutan. Petani memiliki keterampilan, mampu memproduksi pupuk NPK organik sendiri, biaya produksi lebih efisien, dan pada akhirnya pendapatan serta kesejahteraan mereka dapat meningkat,” tutupnya. (edg)

Exit mobile version