Padang, rakyatsumbar.id – Universitas Andalas (UNAND) menjadi tuan rumah Forum Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Barat. Forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mempercepat hilirisasi hasil riset sehingga mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
Wakil Rektor IV UNAND Bidang Perencanaan, Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Henmaidi, S.T., M.Eng.Sc., selaku Ketua Panitia, mengatakan forum tersebut menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik terbaik, sekaligus merumuskan langkah nyata dalam mengembangkan inovasi yang berdampak.
“Melalui forum ini, kami ingin memperkuat sinergi antaranggota BKS PTN Barat sehingga hasil-hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya usai pembukaan kegiatan yang berlangsung di Gedung Convention Hall Kampus Limau Manis, Selasa (21/7).
Menurut Henmaidi, pada kegiatan ini, peserta mengikuti keynote speech mengenai arah kebijakan hilirisasi riset nasional, diskusi eksekutif, hingga sesi berbagi praktik baik dari sejumlah perguruan tinggi anggota BKS PTN Barat. Universitas Andalas juga menampilkan pengalaman hilirisasi riset alat kesehatan yang telah dikembangkan para penelitinya.
Peserta juga dijadwalkan mengunjungi fasilitas inovasi Universitas Andalas dan PT Crown Teknologi Indonesia untuk melihat secara langsung proses pengembangan, produksi, hingga pengendalian mutu hasil riset yang telah bermitra dengan industri. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya kolaborasi kampus dan dunia usaha dalam mempercepat komersialisasi inovasi.
Henmaidi menegaskan, forum ini menjadi wadah bagi perguruan tinggi di wilayah barat untuk saling berbagi praktik baik dalam membangun kerja sama dan hilirisasi riset.
“Setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan yang berbeda. Dengan saling berbagi pengalaman, kita dapat saling menguatkan sehingga lahir inovasi yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Syiah Kuala (USK) di bidang bioteknologi kesehatan yang telah menghasilkan sekitar 35 jenis rapid test untuk berbagai penyakit, seperti malaria, kanker serviks, demam berdarah (DBD), tifus, dan penyakit tropis lainnya. Produk-produk tersebut telah memperoleh izin edar dan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi multipihak yang melibatkan rumah sakit rujukan nasional, seperti RSUP Dr. M. Djamil Padang, RSUP Hasan Sadikin Bandung, RSCM Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Kanker Dharmais, serta mitra industri.
“Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Diperlukan sinergi dengan rumah sakit, industri, dan berbagai pihak lainnya. Inilah semangat yang ingin kita bangun melalui Forum BKS PTN Barat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Forum BKS PTN Barat, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., mengungkapkan tingginya antusiasme peserta. Hingga hari pelaksanaan, sebanyak 25 perguruan tinggi negeri telah bergabung dalam forum tersebut, meningkat dibandingkan pertemuan sebelumnya.
“Yang sudah bergabung ada 25 PTN. Ini luar biasa, jumlahnya lebih banyak dibandingkan pertemuan sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Revis Asra, forum ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan universitas yang berdampak, yakni perguruan tinggi yang mampu menghasilkan inovasi dan riset yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.
Ia menilai Universitas Andalas telah menunjukkan keberhasilan tersebut melalui berbagai produk hasil penelitian yang telah dihilirisasikan dan masuk ke e-katalog pemerintah.
“UNAND sudah menunjukkan hasil-hasil riset yang berdampak. Beberapa produknya bahkan sudah masuk ke e-katalog. Ini menjadi bukti bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.
Revis Asra menambahkan, setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan yang berbeda sehingga kolaborasi menjadi kunci untuk menghasilkan inovasi yang lebih besar.
“Di satu perguruan tinggi ada ahli pada bidang tertentu, sementara kampus lain memiliki keunggulan berbeda. Kalau kekuatan itu disatukan, kita bisa menghasilkan produk yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan sejumlah keberhasilan hilirisasi yang telah dicapai anggota BKS PTN Barat. Salah satunya, minyak nilam hasil riset Universitas Syiah Kuala yang telah diekspor ke Prancis sebagai bahan baku industri parfum. Sementara Universitas Andalas telah mengembangkan berbagai produk berbasis gambir, seperti tinta, sampo, dan sejumlah produk inovatif lainnya.
“Kami berharap kolaborasi ini menghasilkan lebih banyak produk hasil riset yang siap dimanfaatkan masyarakat. Fokus kami adalah membangun kolaborasi riset yang melahirkan produk, bukan hanya publikasi ilmiah,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Forum BKS PTN Barat, Arif Rahman, mengatakan kegiatan yang berlangsung di Universitas Andalas pada 21–22 Juli 2026 ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan tindak lanjut konkret melalui penguatan kerja sama antarperguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri.
Selain keynote speech dari Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Sains dan Teknologi mengenai arah kebijakan hilirisasi riset, forum juga menghadirkan sesi berbagi praktik baik, rapat internal, kunjungan ke laboratorium dan perusahaan mitra, serta pemaparan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan perwakilan industri mengenai model kolaborasi dalam mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
Melalui forum ini, BKS PTN Barat berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri semakin kuat sehingga hasil-hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjadi produk inovatif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa.(mul)

