Site icon rakyatsumbar.id

Unand, Jalan Panjang yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Revdi Iwan Syahputra

Ada satu suasana di Limau Manis yang sampai hari ini masih tersimpan dalam ingatan saya.

Bukit-bukit hijau, udara yang terasa lebih sejuk, jalan menuju kampus yang ketika itu belum seramai sekarang, serta suasana seorang mahasiswa muda yang baru mulai mengenal dunia perguruan tinggi.

Hari itu 4 September 1995. Tepat pada hari ketika Presiden Soeharto meresmikan Kampus Universitas Andalas di Limau Manis, saya juga sedang merayakan ulang tahun ke-20.

Saya tentu belum memahami bahwa hari itu kelak akan menjadi salah satu tanggal penting dalam hidup saya.

Saat itu saya hanya seorang mahasiswa baru. Baru sekitar dua bulan mengenal kehidupan kampus. Saya tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas, Jurusan Sosiologi, dengan nomor BP 95191024.

Saya datang ke Limau Manis seperti kebanyakan anak muda lainnya: membawa rasa ingin tahu, sedikit kecemasan tentang masa depan, dan mimpi yang belum jelas bentuknya.

Saya belum tahu akan menjadi apa.Belum tahu akan bekerja di mana.

Bahkan belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, pelajaran yang saya dapatkan di ruang-ruang kuliah Sosiologi itu akan membawa saya ke dunia jurnalistik—dunia yang sebagian besar hidupnya saya jalani dengan membaca, menulis, dan mencoba memahami masyarakat.

Tiga puluh satu tahun kemudian, saya baru menyadari: mungkin tanpa saya sadari, perjalanan itu sudah dimulai pada hari tersebut.

Dari Sosiologi ke Jurnalistik

Saya memilih Sosiologi bukan karena sudah tahu akan menjadi apa kelak. Justru karena saya ingin memahami manusia dan masyarakat.

Di Sosiologi saya belajar bahwa tidak ada persoalan sosial yang berdiri sendiri. Di balik sebuah peristiwa selalu ada sebab, kepentingan, lingkungan, dan manusia yang terlibat.

Pelajaran itu ternyata menjadi bekal yang panjang. Ketika kemudian saya masuk ke dunia jurnalistik, saya menemukan hubungan yang sangat kuat antara Sosiologi dan pers.

Sosiologi mengajarkan saya membaca realitas. Jurnalistik mengajarkan saya menyampaikan realitas itu kepada publik.

Sosiologi mengajarkan saya bertanya mengapa sebuah persoalan terjadi. Jurnalistik kemudian menuntut saya mencari fakta, mendengar berbagai pihak, memeriksa kebenaran, dan menjelaskan persoalan itu kepada masyarakat.

Tanpa terasa, ruang kuliah Sosiologi Unand telah menjadi salah satu fondasi cara saya bekerja sebagai wartawan.

Perjalanan itu saya jalani dari bawah. Dari koresponden, reporter, asisten redaktur, redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi, hingga dipercaya menjadi pemimpin redaksi.

Saya pernah memimpin Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, dan Haluan, ikut menggagas Jaringan Pemred Sumbar, dan kini kembali dipercaya memimpin Harian Rakyat Sumbar.

Di ruang redaksi, saya semakin menyadari bahwa apa yang dulu dipelajari sebagai teori ternyata sangat dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Ketika membaca sebuah berita, saya tidak hanya melihat apa yang terjadi. Saya juga mencoba memahami mengapa itu terjadi, siapa yang terdampak, dan apa maknanya bagi masyarakat.

Mungkin di situlah Sosiologi dan jurnalistik bertemu. Keduanya sama-sama berangkat dari keinginan untuk memahami manusia.

4 September bagi saya bukan sekadar hari ulang tahun. Ia adalah titik kecil yang mempertemukan perjalanan pribadi dengan perjalanan almamater.

Pada tanggal itu, Unand memasuki babak penting dengan kampusnya di Limau Manis. Pada tanggal yang sama, saya memasuki usia 20 tahun sebagai mahasiswa yang sedang mencari jalan hidup.

Tiga puluh satu tahun kemudian, saya melihat kembali perjalanan itu dengan perasaan yang berbeda.

Dulu saya datang ke kampus untuk belajar.

Hari ini saya menyadari bahwa kampus ternyata tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga membentuk cara seseorang melihat kehidupan.

Nomor BP 95191024 yang dulu hanya menjadi identitas administrasi, kini menjadi penanda sebuah fase penting dalam hidup saya.

Fase ketika seorang anak muda belajar membaca masyarakat, sebelum akhirnya menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menulis tentang masyarakat.

Kenangan yang Tidak Selesai

Saya sudah lama meninggalkan bangku kuliah Unand. Tetapi ternyata ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Ada cara berpikir yang tetap melekat.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup.

Dan ada kenangan yang sesekali datang tanpa diundang.

Mungkin begitulah cara sebuah almamater bekerja.

Ia tidak selalu menentukan ke mana kita pergi. Tetapi ia memberi bekal agar kita mampu memilih jalan dan memahami perjalanan.

Bagi saya, Unand adalah bagian dari proses itu.

Dari Limau Manis, saya belajar memahami masyarakat.

Dari dunia jurnalistik, saya belajar menyuarakannya. Dan sepanjang perjalanan itu, saya semakin percaya bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah. Ia harus hidup dalam karya, sikap, dan pengabdian kepada masyarakat.

Maka ketika 4 September kembali datang, saya tidak hanya mengingat usia. Saya mengingat seorang mahasiswa Sosiologi dengan BP 95191024, yang dahulu datang ke Limau Manis membawa mimpi yang belum jelas.

Kini, setelah perjalanan yang panjang, saya tahu satu hal: sebagian dari diri saya hari ini masih tinggal di sana—di ruang-ruang kuliah Sosiologi Unand, di antara kenangan masa muda, dan di jalan panjang yang akhirnya membawa saya menjadi seorang jurnalis.

Selamat Dies Natalis, almamaterku.

Unand, kenangan itu ternyata memang tak pernah benar-benar selesai.

#Penulis adalah Pemred Rakyat Sumbar, Alumni FISIP Unand.

Exit mobile version