Site icon rakyatsumbar.id

Sukses Bukan Sekadar Jabatan, Aisah Dahlan Bicara Pentingnya Keluarga

Seminar “Menyeimbangkan Peran Akademik, Profesional, dan Keluarga” yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI di Auditorium UNAND, Kamis (20/8)

Padang, Rakyat Sumbar — Karier boleh menjulang, prestasi boleh gemilang, namun kesuksesan akan terasa hampa jika keluarga kehilangan waktu, perhatian dan kehadiran. Pesan inilah yang mengemuka dalam seminar “Menyeimbangkan Peran Akademik, Profesional, dan Keluarga” yang menghadirkan dokter sekaligus pemerhati keluarga dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI.

Seminar yang digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas (UNAND) itu berlangsung di Auditorium UNAND, Kamis (20/8). Kegiatan dibuka Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph.D., dan dihadiri Ketua Dekranasda Sumatera Barat Harneli Bahar, Ketua Dies Natalis ke-70 UNAND Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp.BTKV, keluarga besar UNAND serta peserta dari berbagai kalangan.

Rektor UNAND Efa Yonnedi mengatakan, tema seminar sangat relevan dengan kehidupan insan akademik dan profesional yang setiap hari berhadapan dengan tuntutan untuk berprestasi, produktif dan memberikan kontribusi terbaik.

Namun, di tengah kesibukan tersebut, setiap orang tetap memiliki amanah sebagai bagian dari keluarga.

“70 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Tujuh dekade Universitas Andalas telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan tinggi, pembangunan daerah dan kemajuan bangsa,” ujar Efa.

Menurutnya, Dies Natalis ke-70 tidak semata menjadi momentum mengenang perjalanan panjang UNAND, tetapi juga kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus menatap masa depan.
Ia menegaskan, keberhasilan profesional akan semakin bermakna apabila berjalan seiring dengan keluarga yang sehat, harmonis dan saling mendukung.

“Kesuksesan dalam karier tentu sangat berarti. Tetapi keberhasilan profesional akan menjadi lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan hadirnya keluarga yang sehat, harmonis dan saling mendukung,” katanya.

Efa menekankan, UNAND tidak ingin membangun institusi yang maju dengan mengorbankan kualitas kehidupan keluarga. Sebaliknya, kampus harus mampu menciptakan lingkungan yang memungkinkan insan akademik berkembang secara profesional, sekaligus tetap memiliki ruang untuk membangun keluarga yang kuat.
“Kita tidak ingin membangun institusi yang maju dengan mengorbankan kualitas kehidupan keluarga,” tegasnya.

Bagi Efa, universitas hebat bukan hanya perguruan tinggi yang melahirkan manusia unggul secara intelektual. Lebih dari itu, UNAND harus mampu melahirkan insan yang memiliki karakter, empati, integritas dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

“Kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan, prestasi akademik, penelitian, publikasi maupun capaian profesional. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana kita hadir sebagai orang tua, pasangan, anak, sahabat dan bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Karier Jangan Mengorbankan Komunikasi Keluarga

Sementara itu, dr. Aisah Dahlan mengingatkan bahwa setiap orang menjalankan banyak peran dalam waktu bersamaan. Seseorang dapat dituntut profesional, produktif dan berprestasi dalam pekerjaan, tetapi pada saat yang sama memiliki amanah akademik, sosial dan keluarga.

“Kita semua menjalankan berbagai peran dalam waktu yang bersamaan. Bisa jadi kita dituntut profesional, produktif dan berprestasi dalam pekerjaan. Namun di sisi lain, kita memiliki amanah akademik, sosial, dan yang paling utama adalah amanah sebagai bagian dari keluarga,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar keseriusan membangun karier tidak membuat komunikasi di rumah justru terabaikan.
“Kita serius mengurus karier, tetapi lupa membangun komunikasi di rumah. Kita memberikan yang terbaik untuk pekerjaan, tetapi waktu dan perhatian untuk keluarga justru menjadi yang terkecil,” katanya.

Menurut Aisah, kesuksesan sejati tidak hanya berbicara tentang pencapaian profesional, tetapi juga tentang kemampuan seseorang hadir bagi keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

“Kesuksesan sejati bukan hanya tentang menjadi profesional, tetapi juga tentang seberapa baik kita hadir bagi keluarga dan orang-orang yang kita cintai,” tuturnya.

Ia menjelaskan, keluarga bukan sekadar tempat untuk pulang setelah lelah bekerja. Keluarga seharusnya menjadi sumber kekuatan, rasa aman dan dukungan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam seminar tersebut, Aisah juga membagikan pengetahuan mengenai neuroparenting, komunikasi keluarga, psikologi orang tua dan anak, serta penguatan rumah tangga.

Menurutnya, menjadi orang tua bukan berarti berhenti belajar. Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan sehingga orang tua perlu memahami perkembangan otak, emosi dan perilaku anak.

Pemahaman itu penting agar orang tua tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

“Keluarga yang sehat akan melahirkan pribadi dan generasi yang kuat,” ungkapnya.

Harneli: Keluarga Harus Dibangun hingga Akhirat

Ketua Dekranasda Sumatera Barat Harneli Bahar mengapresiasi materi yang disampaikan Aisah Dahlan. Istri Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah itu menilai seminar tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan rumah tangga di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Ilmu yang diberikan Ibu Aisah Dahlan luar biasa, terutama bagaimana kita mengokohkan rumah tangga di zaman yang banyak menghadirkan hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Harneli.

Menurutnya, setiap pasangan tentu mendambakan rumah tangga yang romantis, aman, nyaman dan penuh kebahagiaan. Namun, tujuan membangun keluarga tidak semestinya berhenti pada kehidupan dunia.

“Kita menginginkan rumah tangga kita bukan hanya sampai dunia saja, tetapi sampai akhirat. Kita juga menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang saleh dan salehah,” katanya.

Harneli juga mengingatkan para orang tua agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai persoalan dalam mendidik anak.

Ia mengambil pelajaran dari kisah Nabi Nuh AS yang tidak dapat memberikan hidayah kepada anaknya meskipun beliau adalah seorang rasul.

“Ini menunjukkan bahwa hidayah itu milik Allah. Karena itu, kita tidak boleh patah semangat dalam membina keluarga dan mendidik anak-anak kita,” tuturnya.

Bukan Sekadar Seremonial
Ketua Dies Natalis ke-70 UNAND, Dr. dr. Muhammad Riendra, mengatakan seminar tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam rangkaian Dies Natalis.

“Kami berharap kegiatan ini memberikan ilmu dan bekal bagi kita semua, terutama bagaimana mengokohkan rumah tangga dan menjaga keluarga di tengah berbagai tantangan yang ada,” ujarnya.

Ia menilai penguatan keluarga merupakan tanggung jawab bersama karena keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Seminar tersebut sekaligus menjadi bagian dari refleksi 70 tahun perjalanan UNAND. Membangun universitas yang unggul, kata dia, tidak cukup hanya dengan mencetak manusia berprestasi, tetapi juga manusia yang mampu menjaga keluarga, menjunjung nilai kemanusiaan dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Dengan demikian, Dies Natalis ke-70 UNAND tidak hanya menjadi perayaan perjalanan tujuh dekade perguruan tinggi, tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan bahwa kemajuan institusi harus berjalan beriringan dengan kualitas kehidupan manusia di dalamnya. (mul)

Exit mobile version