Site icon rakyatsumbar.id

Rangkaian FKI+ XIII, Pascasarjana ISI Padangpanjang Gelar Konferensi Internasional ICAMAC 2

Padangpanjang, rakyatsumbar.id–Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melalui Pascasarjana akan menggelar The 2nd International Conference on Arts, Media and Culture (ICAMAC 2), bertemakan Arts, Folklore, and Ecology.

Konferensi internasional yang masuk dalam rangkain Festival Kesenian Indonesia (FKI)+ XIII ini, diikuti oleh 189 peserta dari berbagai negara sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengembangan kajian seni, budaya, serta keberlanjutan lingkungan.

ICAMAC 2 menjadi wadah akademik yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi untuk mengeksplorasi hubungan antara seni, media, folklor, dan ekologi.

“Melalui konferensi ini, seni dan tradisi budaya tidak hanya dipandang sebagai ekspresi kreativitas dan identitas masyarakat, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat memberikan perspektif baru dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan,” ujar Ketua Panitia ICAMAC 2 Dr. Suci Fajrina, M.Pd, Selasa (20/10).

Suci Fajrina menambahkan, konferensi ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi akademik internasional sekaligus mendorong pengembangan pemikiran mengenai peran seni dan budaya dalam menghadapi tantangan kontemporer.

ICAMAC 2 diharapkan tidak hanya menjadi forum untuk berbagi hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kolaborasi dan memperluas perspektif mengenai hubungan seni, folklor, dan ekologi. “Melalui konferensi ini, kami ingin mendorong lahirnya gagasan-gagasan yang relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, serta peningkatan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Direktur Pascasarjana ISI Padangpanjang Dr. Rasmidda, S.Sn., M.Sn., mengatakan, konferensi ini menghadirkan lima keynote speaker dari berbagai negara, yakni Dr. Megan Collins dari Selandia Baru, Prof. Dr. Muh. Anis MD Nor dari Malaysia, Prof. Dr. Rachmi Diyah Larasati dan Dr. Katia Chaterji dari Amerika Serikat, serta Prof. Dr. Asril, S.S.Kar., M.Hum. dari Indonesia.

Selain itu, ICAMAC 2 melibatkan invited speaker dari lima perguruan tinggi seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ISI Bali, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan ISBI Aceh. Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memperkaya diskusi melalui beragam perspektif keilmuan dan pengalaman dalam bidang seni dan folklor serta ekologi.

Rasmida menambahkan, partisipasi 189 peserta dari berbagai negara menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan konferensi ini. Keterlibatan peserta internasional diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan lintas budaya, memperkuat jejaring akademik, dan membuka peluang kerja sama antarlembaga dalam pengembangan penelitian maupun praktik kreatif.

Sementara Tema Arts, Folklore, and Ecology, menyoroti pentingnya hubungan antara kreativitas seni, pengetahuan tradisional, warisan budaya dan kesadaran ekologis.

“Cerita rakyat, ritual, serta kearifan lokal bukan hanya bagian dari identitas masyarakat, melainkan juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi penciptaan karya seni dan pengembangan pemikiran mengenai pelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Suci Fajrina mengungkapkan, di tengah perubahan sosial dan lingkungan yang terus berlangsung, seni dan budaya memiliki peluang untuk menghadirkan cara pandang baru dalam memahami hubungan manusia dengan alam.

Melalui karya seni, media dan kajian akademis, pengetahuan lokal dapat didokumentasikan, dan dikembangkan, serta diperkenalkan kepada masyarakat luas dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Konferensi ICAMAC 2 akan dilaksanakan secara hibrida, sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan secara luring maupun daring. Penyelenggaraan ini diharapkan memberikan kesempatan lebih luas bagi akademisi dan praktisi dari berbagai wilayah untuk terlibat dalam diskusi serta memperluas kolaborasi di bidang seni, media, budaya dan lingkungan,” tuturnya.

Rasmida juga menegaskan, Melalui ICAMAC 2, ISI Padangpanjang berupaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi seni dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebudayaan yang berkelanjutan.

“Forum ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya seni, folklor dan kearifan lokal dalam menjaga warisan budaya serta membangun kesadaran terhadap kelestarian lingkungan,” paparnya. (ned)

Exit mobile version