Gresik, Rakyat Sumbar— Laut luas milik Indonesia, belum jaminan Indonesia menjadi gudang garam dunia.
Kondisi ini lah, membuat Presiden Prabowo di awal jabatannya 2024, mencanangkan swasembada garam.
PT Garam menjawab cepat penugasan Presiden Prabowo Subianto dengan mengekstensifikasikan dan modernisasi produksi untuk 500 ton garam nasional lewat tagline Arah Baru PT Garam.
“Madura tetap jadi central penghasil garam, dari air laut madura itu dikeringkan dibawa ke Gresik lalu diolah menjadi garam dengan berbagai varian,”ujar Direktur Keuangan PT Garam Yani didampingi Komisaris PT Garam Masril Koto, Rabu 4/3-2026.
PT Garam pun tidak sendiri, bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, menjawab penugasan Presiden Prabowo Subianto dengan membangun tambak garam terluas di Asia Tenggara di Rote.
“Saat ini maaih proses pembangunan yang dikerjakan BUMN PT Nandya Karya,”ujar Masril.
Garam harus menjadi primadona komuditi nasional, tanpa garam makanan enak pun akan hambar.
“Potensi pasar dalam negeri saja, jika tak digenjot produksi sulit terpenuhi, apa lagi dibiarkan seperti hidup segan mati gak mau, etos kerja PT Garam sebelum Arah Baru,”ujar Masril.
Yani menegaskan swasembada adalah tantangan, terpenting komit dengan stop impor garam.
“Kalau kran impor garam terus dibuka, maka matilah kita,”ujar Yani.
Dari kajian PT Garam, kebutuhan nasional 5 juta ton.
“PT Garam baru bisa 350 ribu ton, sedangkan garam rakyat 1,5-2 juta ton, akhirnya impor 2,5 ton,”ujar Yani.
Jika modernisasi tambak 13 ribu hektar di Rote, itu kajiannya satu hektar 200 ton, total Rote berproduksi 2,6 juta ton.
Belum lagi dukungan pabrik di berbagai region dimiliki PT Garam.
“Swasembada tercapai, bisa saja PT Garam ekspor, ekspor garam adalah mimpi panjang yang jadi kenyataan,”ujar Yani. (*)

