Site icon rakyatsumbar.id

Perdana Wisuda Tiga Hari, UNAND Jaga Kesakralan Wisuda 2.498 Lulusan dan Berikan Ruang Lebih untuk Menikmati Hari Bahagia Bersama Keluarga

UNAND Jaga Kesakralan Wisuda 2.498 Lulusan dan Berikan Ruang Lebih untuk Menikmati Hari Bahagia Bersama Keluarga.

Padang, Rakyat Sumbar — Hari wisuda bukan sekadar seremoni menerima ijazah. Di balik toga yang dikenakan dan prosesi akademik yang dijalani, ada perjalanan panjang, doa orang tua, perjuangan mahasiswa, serta harapan tentang masa depan yang segera dimulai.

Karena itu, Universitas Andalas (UNAND) menghadirkan pola berbeda pada Wisuda IV Tahun 2026. Untuk pertama kalinya, prosesi wisuda digelar selama tiga hari, mulai Jumat (18/9) hingga Minggu (20/9).

Sebanyak 2.498 lulusan mengikuti upacara akademik tersebut. Sebanyak 674 lulusan diwisuda pada hari pertama, 913 lulusan pada Sabtu, dan 911 lulusan pada Minggu.

Pembagian menjadi tiga hari bukan sekadar persoalan teknis untuk mengatur ribuan wisudawan. UNAND ingin memastikan momen sakral tersebut tetap berlangsung tertib, khidmat, sekaligus memberikan ruang lebih luas bagi lulusan untuk menikmati hari bahagia bersama keluarga.
Rektor UNAND Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt. mengatakan, format tiga hari dipilih agar rangkaian prosesi dapat berlangsung efektif tanpa mengurangi makna wisuda sebagai upacara akademik tertinggi.

“Kalau tiga hari cukup, sebelum jam 12 sudah selesai. Artinya, makna sakral wisuda sebagai upacara akademik tertinggi tetap bisa dicapai,” ujar Efa seusai pelaksanaan hari pertama Wisuda IV Tahun 2026, Jumat (18/9).

Menurutnya, prosesi yang selesai sebelum tengah hari juga memberi kesempatan kepada wisudawan untuk menjalankan ibadah, makan siang dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Mereka dapat lebih leluasa mengabadikan momen bersama orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka.
“Jadi berjalan dengan seamless. Wisudawan punya waktu yang cukup banyak bersama keluarga untuk menikmati hari bahagianya,” katanya.

Ketika Kampus Melepas Para Lulusannya
Suasana wisuda semakin istimewa dengan hadirnya sejumlah pejabat dan tokoh, baik dari tingkat nasional maupun daerah.

Di antaranya Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, S.K.M., M.K.M., serta Anggota Badan Pelaksana BPKH RI Harry Alexander, S.H., M.H., LL.M.

Hadir pula Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Barat Sukarli, Ketua Majelis Wali Amanat UNAND, Sekretaris Senat Akademik UNAND, para wakil rektor, Sekretaris Universitas, para dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana, pimpinan lembaga, Direktur Utama Rumah Sakit UNAND, Ketua dan pengurus Dharma Wanita Persatuan UNAND, dosen, tenaga kependidikan, orang tua atau wali wisudawan serta undangan lainnya.

Di hadapan para lulusan, Kepala BRIN menyampaikan pesan tentang pentingnya integritas, karakter dan kemauan untuk terus belajar.
Satu pesan menjadi penekanan: jangan pernah berhenti belajar.

“Jangan pernah berhenti belajar. Kalau kita sudah berhenti belajar, berarti kita sedang menuju kematian,” demikian pesan yang disampaikan kepada para wisudawan.

Pesan itu terasa relevan ketika para lulusan bersiap meninggalkan kampus dan memasuki dunia yang terus berubah.

Gelar Bukan Garis Akhir
Efa mengingatkan, wisuda bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah meninggalkan kampus, tantangan yang dihadapi lulusan akan semakin kompleks.

Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), telah mengubah pola kerja dan kebutuhan kompetensi.
Karena itu, lulusan UNAND harus menjadi pribadi yang future ready. Bukan hanya menguasai ilmu yang diperoleh selama kuliah, tetapi juga mampu beradaptasi, menjawab pertanyaan baru, belajar sepanjang hayat dan berkolaborasi lintas disiplin, budaya maupun generasi.

“Future ready artinya ananda memiliki kemampuan untuk terus belajar, bahkan setelah bangku kuliah ditinggalkan,” ujar Efa.

Namun, kemampuan akademik saja tidak cukup. Efa menekankan bahwa kompetensi harus berjalan bersama integritas dan karakter. Kemampuan dapat membawa seseorang menuju sebuah posisi, tetapi karakter dan integritas menentukan bagaimana kepercayaan dipertahankan.

“Ilmu tanpa adab adalah bahaya. Kemampuan tanpa integritas adalah bencana,” tegasnya.

Lima Bekal Menatap Masa Depan
Kepada para lulusan, Efa menitipkan sejumlah bekal yang perlu dibawa dalam perjalanan setelah kampus.

Kejujuran dan integritas harus menjadi fondasi. Di samping itu, lulusan perlu membangun jejaring, mampu beradaptasi, bekerja keras dan tidak cepat puas dengan pencapaian.
Sebab, perubahan tidak berhenti ketika seseorang menerima ijazah.

Semangat belajar harus tetap menyala, karena dunia kerja akan terus menghadirkan persoalan dan kebutuhan baru.

Dari Riset Menuju Hilirisasi

Di hadapan para wisudawan, Efa juga memaparkan perkembangan UNAND dalam membangun ekosistem pendidikan, riset dan inovasi.

UNAND telah meraih akreditasi institusi Unggul dari BAN-PT yang berlaku hingga Desember 2028. Hingga 2026, sebagian besar program studi telah meraih akreditasi Unggul/A.

Sebanyak 29 program studi telah memperoleh akreditasi atau sertifikasi internasional, sedangkan 28 program studi baru dibuka sepanjang 2022–2026.
Pada bidang penelitian, UNAND mencatat 1.574 proyek penelitian sepanjang 2025. Proporsi publikasi pada jurnal Q1-Q2 mencapai 51,7 persen pada 2026.

Penguatan ekosistem riset juga dilakukan melalui investasi peralatan laboratorium terpadu. Pada sisi inovasi dan hilirisasi, UNAND telah menghilirkan 33 produk bioteknologi kesehatan melalui PDRPI Fakultas Kedokteran UNAND.

Salah satu hasil riset lainnya adalah tinta untuk kegiatan pemilu yang dikembangkan dari riset gambir.

Di tingkat internasional, UNAND kembali masuk pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2026 pada rentang 201–250 dunia untuk bidang Interdisciplinary Science Research.

Sementara dalam pemeringkatan QS Asia, posisi UNAND meningkat dari peringkat 470 pada 2025 menjadi 396 pada 2026.

Transformasi layanan akademik juga terus berjalan. Sepanjang 2025, UNAND menerapkan tanda tangan elektronik pada ijazah, menghadirkan platform MyUNAND, mengoperasikan SAKU Digital dan memperkuat pelayanan melalui Pusat Layanan Terpadu.
Efa menyebut, sepanjang 2026 UNAND telah meluluskan 6.538 wisudawan. Saat ini terdapat lebih dari 36.000 mahasiswa aktif yang tersebar pada 154 program studi, mulai jenjang vokasi hingga doktoral.

Merantau, Belajar dan Kembali Membawa Manfaat

Di penghujung sambutannya, suasana wisuda kembali menyentuh sisi personal.

Efa mengingatkan para lulusan agar tidak melupakan keluarga, kampung halaman dan almamater, meski kelak mereka harus melangkah jauh untuk mengejar cita-cita.

Ia mengutip pepatah Minangkabau:
“Karatau madang di hulu, babuah babungo alun — marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”

Merantau, kata Efa, bukan semata-mata meninggalkan kampung halaman. Merantau adalah perjalanan untuk belajar, berkarya dan suatu ketika membawa manfaat bagi masyarakat.

“Jadilah apa pun profesi ananda dengan satu prinsip yang tidak boleh goyah: ilmu tanpa adab adalah bahaya. Kemampuan tanpa integritas adalah bencana,” katanya.

Ada tiga pesan terakhir yang dititipkan Efa kepada para lulusan: menjaga rasa ingin tahu dan menjadikan belajar sebagai gaya hidup, menjaga hubungan dengan sesama melalui empati dan kolaborasi, serta menjaga nama baik.
Sebab, reputasi merupakan aset penting yang dibangun sepanjang perjalanan kehidupan dan karier.

“Kami, seluruh keluarga besar Universitas Andalas, melepas ananda hari ini dengan penuh kebanggaan dan penuh doa. Pergilah dengan ilmu di kepala. Pergilah dengan iman di dada. Pergilah dengan cinta pada negeri ini di hati. Dan kembalilah dalam bentuk apa pun sebagai manusia yang bermanfaat,” tutup Efa. (mul)

Exit mobile version