Site icon rakyatsumbar.id

Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik : Infrastruktur Strategis Penggerak Perekonomian

Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik yang dalam tahap pengerjaan. (dok)

Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik yang dalam tahap pengerjaan. (dok)

Oleh: Ade Wandra, S.IP

(Mahasiswa Program Magister Administrasi Publik FISIP UNAND)

Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik (Panorama I) senilai Rp2,7 triliun yang ditargetkan selesai pada 2028 bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud nyata penerapan berbagai teori pembangunan yang telah lama menjadi landasan strategi ekonomi dan wilayah.

Proyek sepanjang 2.774 kilometer ini, dibangun di atas tantangan geografis perbukitan dan celah gunung, dapat ditinjau secara mendalam menggunakan Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik,

Pembangunan Infrastruktur bukan sekedar menjadi jawaban dari permasalahan publik. Namun juga merupakan salah satu bentuk modal utama dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Hal ini tak dapat dilepaskan dari Proyek Pemabangunan Flyover Sitinjau Lauik.

Teori ini menegaskan bahwa peningkatan stok modal fisik seperti jalan, jembatan, dan sarana transportasi akan meningkatkan produktivitas faktor produksi lain (tenaga kerja dan modal swasta).

Sitinjau Lauik selama ini dikenal sebagai “jalur ekstrem” dengan kemiringan hingga 45 derajat, jalan selebar 16 meter, dan sisi jurang yang rawan kecelakaan. Kondisi ini bukan hanya berisiko bagi keselamatan jiwa. Tetapi, menjadi salah satu hambatan biaya transaksi ekonomi yang sangat tinggi.

Kendaraan yang sulit menanjak, antrian panjang saat musim mudik, dan risiko kerusakan kendaraan menimbulkan biaya ekonomi tersembunyi: biaya logistik mahal, waktu tempuh lama, dan ketidakpastian pengiriman barang.

Dengan adanya flyover, hambatan karena keadaan geografis, dapat lebih diminimalisir. Hal ini sejalan dengan pandangan ahli ekonomi seperti Paul Romer yang menekankan bahwa investasi infrastruktur dapat meningkatkan efisiensi dan membuka akses pasar lebih luas.

Kelancaran arus barang dan jasa dari kota-kota lain menuju Padang serta konektivitas ke daerah belakang seperti Solok, Jambi, hingga Palembang, akan memangkas biaya distribusi. Penurunan biaya ini pada akhirnya akan menurunkan harga barang kebutuhan pokok di Sumatera Barat dan meningkatkan daya saing produk daerah untuk dipasarkan keluar.

Pembangunan flyover Sitinjau Lauik ini juga dapat dipastikan akan menjadi sumbu penghubung antar wilayah sehingga pengembangan pusat pertumbuhan di Kota Padang dengan wilayah belakang (hinterland) seperti: Kabupaten Solok dan daerah penghubung ke Provinsi Jambi yang dapat memangkas keterbatasan akses dan meningkatkan efisiensi waktu. Hal ini tentu sebuah langkah yang krusial dan menjadi satu aspek strategis dalam pembangunan. Serta, menjadikan peningkatan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Sumatera Barat. (*)

Exit mobile version