Pesisir Selatan, Rakyat Sumbar— Di balik produk-produk usaha rumahan yang tumbuh di Nagari Sago Salido, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tersimpan harapan besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ada kerja keras, kreativitas, dan ketekunan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat setempat.
Namun, di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital, kerja keras menghasilkan produk berkualitas saja tidak lagi cukup. Pelaku UMKM juga dituntut mampu memperkenalkan produknya kepada konsumen yang lebih luas.
Persoalannya, tidak semua pelaku usaha memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemasaran. Sebagian masih mengandalkan penjualan secara langsung dan jaringan pelanggan di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang itu bertemu.
Membaca kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP) hadir melalui Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) tahun 2026. Dipimpin Dr. Dedy Irfan, S.Pd., M.Kom., program ini berkolaborasi dengan Pemerintah Nagari Sago Salido untuk memperkuat kemampuan pelaku UMKM dalam pemasaran digital dan pemanfaatan marketplace.
Bagi para pelaku usaha, pendampingan ini bukan sekadar pelatihan menggunakan telepon pintar atau membuat akun penjualan daring. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk membuka pintu pasar yang selama ini mungkin terasa jauh dari jangkauan.
Mengenali Persoalan dari Dekat
Perjalanan program dimulai pada 7–8 Agustus 2026. Tim pengabdian melakukan sosialisasi, observasi kebutuhan mitra, serta dokumentasi kegiatan dengan melibatkan pemerintah nagari dan perwakilan masyarakat.
Langkah ini menjadi penting karena setiap pelaku UMKM memiliki persoalan dan tingkat kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkan teknologi.
Dari pengamatan awal, ditemukan sejumlah tantangan. Ada pelaku usaha yang belum terbiasa menggunakan media sosial untuk memasarkan produk. Ada pula yang masih mengalami kesulitan menghasilkan foto produk yang menarik, menulis informasi barang, hingga menyusun materi promosi.
Ketersediaan perangkat telepon pintar dan kualitas akses internet juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi UMKM tidak cukup hanya dengan memperkenalkan aplikasi. Para pelaku usaha membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, serta kondisi nyata di lapangan.
Berangkat dari pemetaan itu, tim UNP menyusun materi pelatihan yang praktis dan mudah diterapkan.
Dari Kamera Ponsel Menuju Pasar Digital
Bagi sebagian pelaku UMKM, memotret produk mungkin sebelumnya hanya dilakukan untuk dokumentasi pribadi. Namun, dalam pemasaran digital, sebuah foto dapat menjadi pintu pertama yang menarik perhatian calon pembeli.
Karena itu, peserta dibekali keterampilan mengambil foto produk menggunakan telepon pintar. Mereka juga diperkenalkan pada cara menulis deskripsi produk yang informatif, mencantumkan harga secara transparan, serta menyusun konten promosi yang lebih kreatif.
Materi kemudian berkembang pada pengenalan marketplace sebagai salah satu alternatif saluran penjualan daring.
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Tim menggabungkan demonstrasi, diskusi, dan praktik langsung agar peserta dapat memahami setiap tahapan pemasaran digital.
Menariknya, produk usaha masing-masing peserta dijadikan bahan praktik. Dengan demikian, keterampilan yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang pelatihan, tetapi dapat langsung diterapkan untuk memperkenalkan produk mereka kepada calon konsumen.
Peserta juga mendapatkan pendampingan dalam menyiapkan profil toko, mengunggah produk, mengatur informasi pengiriman, serta memahami proses pengenalan dan pengelolaan pesanan.
Melalui informasi produk yang lengkap dan akurat, calon pembeli diharapkan memperoleh gambaran yang jelas mengenai barang yang ditawarkan. Kepercayaan konsumen pun menjadi salah satu aspek yang ingin dibangun melalui pengelolaan toko digital secara lebih baik.
Ketika Perguruan Tinggi Hadir di Tengah Masyarakat
Program pemberdayaan ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya berada di ruang kuliah dan laboratorium. Pengetahuan akademik juga perlu hadir untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam kegiatan di Sago Salido, Pemerintah Nagari menjadi mitra penting yang menghubungkan tim pengabdian dengan para pelaku usaha. Dukungan dan keterlibatan masyarakat membantu proses identifikasi kebutuhan sekaligus pelaksanaan pendampingan.
Di sisi lain, keterbukaan pelaku UMKM dalam menyampaikan persoalan usaha menjadi modal penting agar materi yang diberikan tidak bersifat umum, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan mereka.
Sinergi tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan ekonomi masyarakat membutuhkan kerja bersama. Perguruan tinggi menghadirkan pengetahuan dan teknologi, pemerintah nagari membuka ruang kolaborasi, sedangkan pelaku usaha menjadi penggerak utama perubahan.
Menjaga Asa, Membangun Keberlanjutan
Digitalisasi bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kali pelatihan. Kemampuan mengelola akun marketplace, memperbarui informasi produk, membuat konten promosi, hingga merespons pertanyaan dan ulasan pembeli membutuhkan pembiasaan.
Karena itu, tim pengabdian merencanakan pendampingan lanjutan untuk menyempurnakan konten promosi dan pengelolaan akun marketplace. Pemantauan berkala juga disiapkan agar peserta semakin terampil dalam mengelola informasi produk dan membangun komunikasi dengan konsumen.
Dampak program nantinya juga perlu dilihat dari perkembangan aktivitas pemasaran, jangkauan konsumen, penjualan, hingga kemungkinan peningkatan pendapatan masing-masing pelaku UMKM.
Sebab, keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari berapa banyak akun marketplace yang berhasil dibuat. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana teknologi tersebut benar-benar membantu usaha masyarakat berkembang.
Bagi UMKM Sago Salido, perjalanan menuju pasar digital mungkin masih panjang. Namun, langkah awal telah dibuka melalui kolaborasi dan pendampingan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Di tengah persaingan ekonomi yang semakin terbuka, para pelaku usaha nagari memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen di luar lingkungan mereka.
Dari sebuah telepon pintar, sebuah foto produk, dan keberanian mencoba hal baru, harapan itu mulai dibangun.
Sebab, produk UMKM dari nagari tidak seharusnya hanya dikenal di lingkungan sendiri. Dengan pengetahuan, pendampingan, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, produk lokal pun memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas.
Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Ia adalah jembatan bagi UMKM Sago Salido untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang dan membawa asa ekonomi nagari melangkah lebih jauh.(fwi)

