Oleh: Revdi Iwan Syahputra
Idul Fitri selalu dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah—kembali bersih, kembali jujur, kembali pada nilai dasar kehidupan
Namun fitrah sejatinya tidak hanya menyentuh sisi spiritual manusia, tetapi juga menyentuh cara kita melihat realitas sosial di sekitar kita.
Lebaran tahun ini, misalnya, datang dengan suasana yang sedikit berbeda. Jalanan tetap ramai oleh kendaraan pemudik.
Kampung-kampung tetap dipenuhi keluarga yang pulang dari rantau. Pasar tradisional tetap hidup menjelang hari raya.
Namun di balik keramaian itu, ada percakapan yang berulang di banyak tempat—di lapau, di warung kopi, di pasar, bahkan di ruang-ruang keluarga: ekonomi terasa semakin berat.
Harga kebutuhan pokok terus naik. Biaya transportasi meningkat. Pengeluaran rumah tangga semakin besar. Banyak keluarga yang akhirnya merayakan Lebaran dengan perhitungan yang jauh lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Secara nasional, jumlah pemudik tahun ini memang masih sangat besar—diperkirakan sekitar 143 juta orang. Namun angka ini sedikit menurun dibanding tahun lalu. Penurunan itu mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi bagi daerah seperti Sumatera Barat, pesan yang terkandung di dalamnya tidak bisa dianggap sepele.
Sebab bagi masyarakat Minangkabau, Lebaran bukan sekadar perayaan agama. Lebaran adalah denyut ekonomi tahunan.
Ketika Perantau Pulang, Kampung Bernapas
Sejak lama, perputaran ekonomi di banyak daerah di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh tradisi pulang kampung para perantau.
Ketika Lebaran tiba, peramtau Minang dari Jakarta, Batam, Pekanbaru, Medan, hingga berbagai kota lain kembali ke ranah. Mereka membawa oleh-oleh, membawa uang belanja, membawa rencana memperbaiki rumah orang tua, bahkan membawa gagasan usaha baru.
Pasar menjadi ramai. Rumah makan penuh. Usaha travel dan transportasi bekerja tanpa henti. Pedagang kecil di nagari ikut merasakan berkah.
Itulah sebabnya Lebaran sering menjadi “musim panen ekonomi” bagi kampung-kampung di ranah Minang.
Para ekonom memperkirakan perputaran uang selama Ramadan hingga Lebaran secara nasional bisa mencapai lebih dari Rp150 triliun. Sebagian dari aliran uang itu tentu mengalir ke daerah-daerah seperti Sumatera Barat.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah denyut ekonomi itu masih sekuat dulu?
Banyak orang di lapangan merasakan jawabannya: tidak sepenuhnya.
Tidak sedikit perantau yang tahun ini memilih menunda pulang kampung. Sebagian karena harga tiket transportasi yang semakin mahal. Sebagian lagi karena usaha mereka di rantau juga sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka daerah seperti Sumatera Barat tidak bisa terus-menerus bergantung pada ekonomi musiman bernama Lebaran.
Lebaran Tidak Boleh Sekadar Konsumsi
Sayangnya, selama ini Lebaran lebih sering dimaknai sebagai puncak konsumsi, bukan momentum membangun kekuatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Kita melihat pasar penuh menjelang Lebaran, tetapi sepi beberapa minggu setelahnya. Kita melihat sektor kuliner melonjak saat musim libur, tetapi kembali lesu setelah para perantau kembali ke kota.
Ini menunjukkan satu hal: struktur ekonomi kita masih rapuh.
Sumatera Barat sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun potensi itu sering kali belum dikelola secara serius dan terarah.
Pariwisata misalnya. Daerah ini memiliki lanskap alam yang luar biasa indah—dari Mentawai hingga Lembah Harau, dari Danau Maninjau hingga Pesisir Selatan. Tetapi pengelolaan pariwisata masih sering terjebak pada pola lama: ramai saat Lebaran, lalu sepi sepanjang tahun.
Begitu juga dengan UMKM.
Kuliner Minangkabau sudah terkenal di seluruh Indonesia. Rendang bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia. Namun banyak usaha kecil di daerah masih berjalan dengan keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar.
Di sisi lain, kita memiliki kekuatan besar yang sering terlupakan: jaringan perantau Minang.
Orang Minang dikenal sebagai salah satu komunitas perantau paling kuat di Indonesia. Mereka tersebar hampir di semua kota besar, bahkan di berbagai negara.
Namun sampai hari ini, kekuatan ekonomi rantau itu belum sepenuhnya terhubung secara sistematis dengan pembangunan ekonomi kampung halaman.
Padahal jika jaringan ini dikelola dengan baik—melalui investasi daerah, pengembangan UMKM, hingga pemasaran produk lokal—dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar perputaran uang saat Lebaran.
Kembali ke Fitrah Ekonomi
Di sinilah makna fitrah menjadi relevan.
Kembali ke fitrah berarti kembali kepada kejujuran dalam melihat kenyataan. Bahwa ekonomi masyarakat sedang menghadapi tantangan. Bahwa daya beli masyarakat tidak sekuat dulu. Bahwa ketergantungan pada ekonomi musiman tidak bisa terus dipertahankan.
Tetapi fitrah juga berarti kembali kepada semangat memperbaiki keadaan.
Masyarakat Minangkabau sejak dahulu dikenal memiliki tiga kekuatan utama: tradisi merantau, semangat berdagang, dan kemampuan beradaptasi.
Karakter inilah yang membuat orang Minang mampu bertahan dalam berbagai situasi ekonomi. Karena itu, Idul Fitri tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling menguatkan ekonomi.
Menguatkan usaha kecil
Menguatkan hubungan antara rantau dan kampung. Menguatkan kebijakan pembangunan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh ramainya pasar saat Lebaran, tetapi oleh kemampuannya menciptakan ekonomi yang hidup sepanjang tahun.
Lebaran mengajarkan kita satu hal sederhana: setelah sebulan menahan diri, manusia belajar kembali tentang kesabaran dan harapan.
Dan harapan itu seharusnya tidak berhenti di meja makan saat hari raya.
Harapan itu harus diterjemahkan menjadi kerja bersama untuk masa depan ekonomi yang lebih kuat.
Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.(*)

