Site icon rakyatsumbar.id

Launching Buku Antologi Puisi Padangpanjang 999 Karya Sulaiman Juned: Memungut Kenangan Masa Lalu untuk Masa Depan 

Penyair dan Sutradara Teater Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn saat peluncurkan buku antologi puisi Padangpanjang 999 dan peringatan HUT Komunitas Seni Kuflet ke 29, Minggu (17/05/2026).

Penyair dan Sutradara Teater Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn saat peluncurkan buku antologi puisi Padangpanjang 999 dan peringatan HUT Komunitas Seni Kuflet ke 29, Minggu (17/05/2026).

Tidak banyak penyair yang berani mengabadikan nama sebuah daerah dalam karyanya, tetapi tidak dengan Sulaiman Juned. Sosok penyair, kolumnis, teatriawan, guru dan sutradara yang menjadikan Padangpanjang sebagai inspirasi dalam buku antologi puisi berjudul Padangpanjang 999 yang diluncurkan bersamaan dengan perayaan ulang tahun Komunitas Seni Kuflet, Minggu (17/05/2026).

Tidak ada yang sempurna, itulah penggalan kalimat yang muncul dari Prof. Dr. Asril, S.Kar., M.hum saat menjadi narasumber peluncuran buku antologi puisi, karya Sulaiman Juned. Guru Besar Seni Pertunjukan itu, memang tidak menguliti isi puisi yang menjadi kegelisahan seorang Sulaiman Juned yang dikenalnya sejak tahun 1997 silam.

Bagi Asril, Soel (panggilan Sulaiman Juned-red), masih terekam dalam ingatannya saat Soel menapakan kakinya di Padangpanjang bersama empat orang lainnya dari Provinsi Aceh untuk berkuliah di ASKI yang kini telah bertranspormasi menjadi ISI Padangpanjang.

“Yang tidak pernah saya lupa, Soel selalu memanggil saya Pak, sementara dengan yang lain bahkan dengan guru saya bapak Arzul Djamaan, dia memanggil Uda. Mungkin waktu itu, saya ketua jurusan Kerawitan,” kenangnya.

Bersama Sastrawan Nasional Adri Sandra dan novelis Muhammad Subhan sebagai narasumber, Asril bercerita tentang bagaimana kondisi Padangpanjang dari tahun 1997 hingga saat ini yang menjadi objek tulisan Sulaiman Juned.

“Saya melihat dalam buku ini, ada lompatan spritual dalam setiap karya Sulaiman Juned, yang biasanya tampi garang baik dalam orasi maupun berkarya semenjak masih berstatus mahasiswa hingga menjadi guru, kini lebih filosofis dan ilaihiah, seperti dalam puisi Padangpanjang (Satu) dengan syair aku/ sedang memungut kabut/ ah!,” sebutnya.

Asril juga menyoroti dengan penggunaan angka 999 yang menjadi judul dari buku antologi puisi itu. Dimana, jika angka 9 saja, tentunya menjadi bilangan paling tinggi dan hampir sempurna, tetapi jika ditambah angka 99 atau bahkan 999, tentunya akan banyak bilangangan diantasnya lagi, ribuan, belasan ribu, ratusan ribu hingga tak terhingga.

“Ini uniknya, Soel menggambarkan tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, kita bisa merenung makna filosofisnya, dari mana kita berasal dan kemana kita akan pulang,” tuturnya.

Adri Sandra, narasumber lainnya, juga kagum dengan keberanian seorang Sulaiman Juned yang mengambarkan landskap Padangpanjang, dengan gunung, bukit, tebing, lembah dan kabutnya dalam setiap karyanya dalam buku Padangpanjang 999 ini.

“Bahkan, inilah karya pertama yang menjadikan topografi daerah dalam bukunya. Belum ada penyair lain yang melakukannya, ini bisa menjadi inspirasi bagi penyair-penyair di Kuflet, untuk terus berkarya dengan latar belakang daerah dia berproses,” urai Adri.

Adri juga menjabarkan bagaimana sosok seorang Sulaiman Juned, penyair kelahiran Aceh yang terus berproses dan berkarya di Ranah Minang. Seperti filosofi Minang alam takambang jadi guru.

“Kalau ditanya, saya lebih melihat sosok Soel ini sebagai orang Minang, bukan lagi orang Aceh. Tentunya, untuk itu, butuh waktu yang panjang dan penelitian mendalam setiap menghasilkan karya seperti puisi Syekh Adam BB: Pandek Gadang yang menggambarkan perjalan seorang tokoh penyiar Islam di Padangpanjang,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Muhammad Subhan, narasumber lainnya. Dimana, Sulaiman Juned tidak kehilangan karakter ke-Acehannya meski berada di Ranah Minang, yang telah ia kenal sejak tahun 1990-an, saat ia masih di bangku SMA.

“Melalui buku Padangpanjang 999, Sulaiman Juned ingin meneguhkan kota bukan sekadar latar, kota adalah tubuh. Kota adalah perasaan. Kota adalah ingatan kolektif yang terus berdenyut,” sebutnya.

Menurut Subhan, Padangpanjang dalam buku ini bukan sekadar kota administartif. Ia adalah ruang spritual, ruang luka, ruang cinta. Kota yang akrab dengan hujan, gerimis, kabut, angin, bukit dan gunung. Kota yang dalam penggalan puisinya dituliskan di sini/ malam dan siang menjamu debu/ diperhidangan/ musim, tetap saja aku basuh/ dengan cinta/ sedang gerimis/ mengental/ di dada.

“Juga saya temukan banyak kata Ah! Yang hampir ada dalam setiap puisi, meskipun tidak semuanya. Ini bagian yang menariknya, bagaimana Sulaiman Juned menggambarkan kegelisahannya dengan kata Ah! Dalam menutup puisinya,” beber penulis novel Rinai Kabu Singgalang itu.

Sesi diskusi yang dipandu Mursidiq, S.Ds., M.Sn itu, juga semakin menarik dengan adanya tanggapan dari sejumlah seniman terhadap buku karya Sulaiman Juned itu, salah satunya dari perupa Hamzah, S.Sn., M.Sn.

Dia melihat, karya Suaiman Juned tersebut seperti memungut realita masa lalu dalam rangka imajinatif yang tidak pernah usai. Sehingga, setiap penggalan bait menyuguhkan beragam makna.

“Saya memang lebih identik dengan melukis, tetapi dengan bait-bait dari Sulaiman Juned, serasa melihat gambaran Padangpanjang dalam sisi yang lain. Sebagai sesama seniman, kami memang sering bersama, baik di kampus maupun dalam kegiatan lain, tetapi ada yang berbeda dalam setiap karya yang ada di buku ini,” ucapnya.

Jelang mengakhiri diskusi, Sulaiman Juned berharap, buku yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan ulang tahun Komunitas Seni Kuflet ke 29 itu, bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk tersu berkarya.

“Puisi yang saya tulis, adalah gambaran dari realita yang saya alami selama di Padangpanjang. Saya tidak memotret Padangpanjang secara fisik, tetapi merawatnya sebagai ruang kesadaran, tempat manusia bercermin, tempat kesombongan yang harus dilepaskan, rindu yang harus di rawat, cinta yang harus dijaga agar tidak menjadi bara yang membakar kepala,” katanya.

Ditengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, lanjut Sulaiman Juned, dia melalui buku Padangpanjang 999 mengajak untuk sejenak melambat, membaca ulang diri, membaca setiap langkah, membaca setiap kesalahan dan membaca sekeliling kita.

“Mengingat kembali apa yang penting, mungkin disanalah letak kekuatan utama puisi-puisi ini, menghadirkan pengalaman personal dengan nada yang menggugah kesadaran, tanpa beruit-rumit dengan bahasa,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, juga dilaksanakan pemotongan tumpeng ulang tahun Komunitas Kuflet ke 29 dengan tema Merajut Kebersamaan dan pembacaan puisi oleh Anggota Komunitas Seni Kuflet dan udangan yang datang. (Jon Kenedi)

Exit mobile version