Pada Jumat siang, 28 November 2025, dalam upaya kunjungan ke pusara orang tua saya, M. Nasir Darwis, yang asli dari Kuranji, saya menyaksikan kondisi memprihatinkan di wilayah Bukit Napa dan sepanjang akses jalan menuju SMA 16 Padang dan Bukit Napa.
Musim penghujan tentu menimbulkan kekhawatiran akan potensi longsor di Bukit Napa, khususnya di dekat perumahan yang berdiri di atas bukit dengan posisi miring dan rawan risiko.
Sepanjang perjalanan menuju Simpang Akhirat, mulai dari pintu masuk hingga kawasan Bukit Napa, kondisi jalan tampak rusak parah dan berlubang, sehingga membahayakan para pengguna jalan dan mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Akses jalan yang menuju sekolah negeri di Kuranji ini dibiarkan dalam keadaan memprihatinkan tanpa penanganan signifikan.
Selama kunjungan, saya bertemu dengan Neti (50) dan Roza (49), dua warga yang telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada RT, RW, dan lurah setempat.
Namun, respons atas kerusakan jalan sangat lamban, meninggalkan warga merasa terabaikan. Mereka bahkan menyebutkan banyak warga yang sudah jatuh dan terluka akibat kondisi jalan ini. Meski janji perbaikan dan pengaspalan diberikan pada tahun 2026 saat kunjungan anggota dewan dalam masa reses, warga berharap agar perhatian dan tindakan nyata dapat segera direalisasikan.
Sebagai Firman Wanipin, founder Ciloteh Wanipin dan Harian Umum Rakyat Sumbar, sekaligus warga Kuranji, saya merasa terpanggil untuk memperjuangkan perbaikan kondisi jalan di Simpang Akhirat ini demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Saya mengajak Pemerintah Kota Padang dan Dinas PUPR untuk memberikan perhatian serius dan mempercepat pemulihan infrastruktur wilayah ini.(fwi)

