Oleh: Erwan Widyarto
Nama AQUA DWIPAYANA bagi saya bukan sekadar seorang sahabat, melainkan simpul hidup yang diam-diam menghubungkan banyak cerita yang sempat terputus._
Ia bukan hanya pandai berjejaring, tetapi memiliki naluri yang nyaris mistis dalam membaca waktu, rasa, dan momentum untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah saling mengenal lalu terpisah oleh kehidupan.
Saya menyebutnya, dengan penuh keyakinan, sebagai ‘_Master of Silaturahim_.’ Bahkan dalam buku _best seller_ saya, _Produktif Sampai Mati_ (2016), saya menuliskan itu tanpa ragu. Tapi jujur saja, pengalaman demi pengalaman bersamanya selalu berhasil membuat saya merasa: sebutan itu masih kurang.
Lebaran tahun ini menjadi salah satu bukti paling nyata.
Hari itu, tanpa aba-aba, telepon dari Mas AQUA masuk. Suaranya santai seperti biasa, tapi selalu ada nada “kejutan” yang khas.
“Mas Erwan, dicari sahabat lama ini.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, langsung membuat saya berpikir keras. Sahabat lama? Siapa?
Dan ketika nama itu disebutkan, saya seperti ditarik mundur puluhan tahun ke belakang.
Priyo Budi Santoso.
Saya terdiam beberapa detik.
Priyo? Teman satu angkatan di Fisipol UGM. Beda jurusan, tapi satu lingkungan, satu zaman, satu fase kehidupan yang penuh idealisme. Sosok yang kemudian melesat ke dunia politik nasional. Sementara saya menempuh jalan yang berbeda.
Waktu berjalan, kehidupan berputar, dan tanpa terasa… lebih dari 30 tahun kami tidak pernah berkomunikasi.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Itu bukan sekadar jeda. Itu seperti dua garis yang pernah bertemu, lalu berjalan jauh ke arah masing-masing.
Dan tiba-tiba… disambungkan kembali.
Mas AQUA seperti tidak peduli dengan konsep “sudah terlalu lama”. Baginya, relasi itu bukan sesuatu yang mati. Hanya menunggu waktu untuk dihidupkan kembali.
Priyo saat itu sedang Lebaran di Jogja, sebelum melanjutkan perjalanan ke Cilacap, ke rumah orangtua istrinya. Mereka ketemu di resto Sate Ratu Sleman.
Dari situlah, benang itu ditarik.
Saya tidak tahu bagaimana prosesnya. Tidak tahu bagaimana Mas AQUA menghubungi, meyakinkan, lalu menyambungkan. Yang saya tahu hanya satu: tiba-tiba kami kembali berada dalam satu lingkaran yang sama.
Dan rasanya… hangat.
Seperti tidak ada jarak tiga dekade.
*Keputusan Spontan*
Namun, kejutan dari Mas AQUA sebenarnya tidak hanya di situ.
Beberapa hari sebelum Lebaran, satu jam menjelang buka puasa, telepon datang.
“Mas Erwan, buka di mana?”
Saya jawab sederhana, “Di rumah, Mas.”
Tanpa jeda, beliau langsung berkata, “Mas cari restorannya, nanti kita buka puasa bersama.”
Begitu saja.
Tidak ada perencanaan panjang. Tidak ada diskusi bertele-tele. Hanya satu keputusan spontan—yang kemudian berubah menjadi cerita yang tidak akan saya lupakan.
Saya mulai menghubungi beberapa tempat. Warung Ka Desa—penuh. Kenes Soho—penuh. Beberapa tempat lain pun sama. Wajar, menjelang buka puasa, apalagi mendekati Lebaran, hampir semua tempat sudah dipesan jauh hari.
Saya hampir menyerah.
Tapi seperti biasa, dalam situasi yang tampak buntu, selalu ada celah kecil.
Di menit-menit terakhir, saya mendapatkan tempat di Pondok Teduh Nusantara Cafe n Eatery.
Saya segera memberi kabar.
“Maaf Mas Erwan, buka dulu saja. Saya nanti nyusul,” jawabnya.
Saya mengangguk. Saya pesan menu pembuka. Kemudian salat Magrib di mushola resto baru itu. Berjamaah dengan rombongan keluarga dari Solo yang lagi jemput anaknya di pondok pesantren.
*Bukan Pencitraan*
Usai salat, kami kembali ke meja makan. Menunggu kedatangan Mas AQUA. Saya membayangkan ia akan datang dengan mobil, seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Tapi lagi-lagi, saya salah.
Mas AQUA datang… naik ojek online.
Dan yang lebih mengejutkan, driver ojeknya—Mas Tri Wahono—tidak hanya mengantar, tapi diajak masuk. Diajak duduk. Diajak makan bersama.
Tidak ada sekat.
Tidak ada jarak sosial.
Tidak ada perasaan “ini hanya driver”.
Yang ada hanya satu: manusia bertemu manusia.
Saya melihat langsung bagaimana Mas AQUA memperlakukan orang dengan tulus. Bukan sekadar basa-basi. Bukan pencitraan. Tapi benar-benar dari hati.
Bahkan sebelum itu, Mas Tri Wahono sempat diajak mampir ke rumah beliau. Dan setelah selesai mengantar kembali, ia tidak hanya menerima ongkos—tetapi juga oleh-oleh, dan uang pecahan baru dalam jumlah yang, menurut pengakuannya sendiri, “berlipat-lipat dari tarif seharusnya”.
Saya terdiam.
Di tengah banyak orang berbicara tentang kebaikan, saya melihat seseorang yang melakukannya dengan sangat natural.
Tanpa panggung.
Tanpa sorotan.
*Kekuatan Fokus*
Obrolan malam itu mengalir ringan, tapi penuh makna.
Salah satu yang paling membekas adalah ketika Mas Aqua berkata:
“Mas Erwan, fokus saja. Tekuni pengelolaan sampah dan desa wisata. Tingkatkan terus kompetensinya. Nanti saya bantu hubungkan ke beberapa kepala daerah.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti arah.
Dalam dunia yang sering membuat kita tergoda untuk mengerjakan banyak hal sekaligus, Mas AQUA justru mengingatkan tentang kekuatan fokus.
Tentang mendalami.
Tentang menjadi benar-benar ahli di bidang yang kita jalani.
Dan yang menarik, beliau tidak berhenti di saran. Ia selalu melanjutkan dengan aksi: “nanti saya bantu hubungkan.”
Di situlah letak kekuatan silaturahim versi Mas AQUA.
Bukan sekadar menyambungkan orang untuk saling kenal.
Tapi menyambungkan untuk saling menguatkan.
Menyambungkan untuk membuka jalan.
Menyambungkan untuk menghadirkan manfaat.
*Silaturahim sebagai Jalan Hidup*
Saya sering berpikir, apa sebenarnya rahasia Mas AQUA?
Bagaimana ia bisa mengingat begitu banyak orang? Bagaimana ia tahu siapa perlu dipertemukan dengan siapa? Bagaimana ia bisa selalu hadir di momen yang tepat?
Mungkin jawabannya bukan pada teknik.
Tapi pada niat.
Ia tidak membangun jaringan untuk kepentingan pribadi. Ia membangun silaturahim sebagai jalan hidup.
Dan ketika niat itu lurus, semesta seperti ikut membantu. Mestakung. Semesta mendukung.
Orang-orang datang.
Cerita-cerita terhubung.
Dan kejutan-kejutan kecil terus bermunculan.
Pertemuan kembali dengan Priyo, buka puasa mendadak, hingga kisah sederhana bersama seorang driver ojek online—semuanya seperti potongan _puzzle_ yang membentuk satu gambar besar.
Bahwa hidup ini, pada akhirnya, adalah tentang keterhubungan.
Tentang siapa yang kita ingat.
Tentang siapa yang kita hubungi.
Tentang siapa yang kita bantu temukan kembali jalannya.
Dan dalam hal itu, saya belajar banyak dari Mas AQUA.
Bahwa silaturahim bukan sekadar tradisi Lebaran.
Ia adalah energi.
Ia adalah investasi.
Ia adalah jalan panjang yang, entah bagaimana, selalu menemukan cara untuk kembali mempertemukan kita… dengan orang-orang yang pernah berarti.
Dan malam itu, di sebuah meja sederhana saat buka puasa, saya kembali diingatkan:
Bahwa tidak semua yang terputus benar-benar hilang.
Kadang, ia hanya menunggu…seorang _Master of Silaturahim_ untuk menyambungkannya kembali.
Terima kasih banyak untuk ilmu silaturahim-nya selama ini Mas AQUA.
*Penulis adalah jurnalis, Pendamping Desa Wisata.*

