Site icon rakyatsumbar.id

Intelijen Negara, Krisis Energi dan Ketahanan Pariwisata

Oleh: Dr. H. Febby Dt. Bangso, SST.Par., M.Par., QRGP, CFA

Alumni PPRA LXIII Lemhanas RI

Perubahan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konflik bersenjata, perang regional, serta krisis energi tidak lagi hanya memengaruhi stabilitas politik internasional.

Dampaknya merembet ke sektor ekonomi strategis, termasuk industri pariwisata dunia.

Perang di berbagai kawasan, terutama di Timur Tengah, telah mengubah pola mobilitas global, jalur penerbangan internasional, hingga perilaku wisatawan dunia.

Dalam situasi ketidakpastian global seperti ini, sektor pariwisata tidak lagi berdiri sebagai industri rekreasi semata, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari persaingan ekonomi dan geopolitik antarnegara.

Banyak negara kini memanfaatkan sektor pariwisata sebagai instrumen intelijen ekonomi, diplomasi budaya serta strategi geopolitik untuk menarik arus devisa dari wisatawan internasional.

Ditengah dinamika tersebut, salah satu pasar wisata yang paling diperebutkan di kawasan Asia adalah wisatawan Indonesia.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa serta pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, Indonesia menjadi salah satu pasar wisata outbound terbesar di Asia Tenggara.

Mobilitas wisata masyarakat Indonesia terus berkembang, baik untuk tujuan rekreasi, belanja, kesehatan, pendidikan, maupun wisata religi. Besarnya potensi pasar ini menjadikan wisatawan Indonesia sebagai target strategis berbagai negara.

Negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, India, Turki, hingga Uni Emirat Arab secara aktif memperebutkan pasar wisatawan Indonesia.

Mereka berlomba membuka rute penerbangan langsung, memberikan kemudahan visa, serta melakukan promosi digital yang disesuaikan dengan preferensi wisatawan Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia telah menjadi sumber devisa yang sangat diperebutkan di kawasan Asia.

Bahkan dalam perspektif ekonomi global yang lebih luas, negara-negara Asia sebenarnya sedang melakukan operasi intelijen ekonomi untuk memetakan perilaku wisatawan Indonesia. Melalui pemanfaatan teknologi digital, big data, serta platform perjalanan global, mereka dapat menganalisis berbagai pola perjalanan wisatawan Indonesia, mulai dari kota asal dengan mobilitas tertinggi, musim perjalanan paling ramai, preferensi destinasi, hingga pola pengeluaran selama perjalanan.

Data tersebut kemudian digunakan untuk merancang strategi promosi yang lebih presisi dan efektif. Tidak mengherankan jika berbagai destinasi di Asia kini menawarkan paket wisata yang sangat spesifik bagi wisatawan Indonesia, seperti wisata keluarga, wisata belanja, kuliner halal, hiburan tematik, hingga wisata religi.

Dalam konteks ini, pariwisata telah berkembang menjadi bagian dari persaingan ekonomi global berbasis informasi dan intelijen pasar.

Di sisi lain, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga memiliki dampak signifikan terhadap industri pariwisata dunia. Ketegangan antara Iran dan Israel, misalnya, berpotensi memengaruhi stabilitas energi global. Iran berada di kawasan strategis yang berdekatan dengan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.

Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur ini. Setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia serta ketidakstabilan pasar energi.

Dampaknya langsung dirasakan oleh industri penerbangan internasional. Ketika harga bahan bakar meningkat, maskapai penerbangan akan menyesuaikan tarif tiket serta frekuensi penerbangan. Hal ini pada akhirnya memengaruhi mobilitas wisata global.

Dengan demikian, konflik geopolitik tidak hanya menjadi isu keamanan internasional, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap peta mobilitas wisata dunia.

Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki dimensi ekonomi yang penting. Meningkatnya perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri menyebabkan potensi kebocoran devisa dalam jumlah besar.

Data menunjukkan bahwa jumlah perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mendekati 9 juta perjalanan per tahun. Jika rata-rata pengeluaran wisatawan internasional berkisar antara 1.000 hingga 1.200 dolar Amerika Serikat per perjalanan, maka potensi devisa yang keluar dari Indonesia dapat mencapai sekitar 8 hingga 10 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun, atau setara dengan sekitar Rp120 triliun hingga Rp160 triliun.

Angka ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia merupakan sumber devisa yang sangat besar bagi negara tujuan wisata.

Jika tidak diimbangi dengan strategi penguatan pariwisata nasional, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar wisata terbesar bagi negara lain, sementara nilai ekonomi dari mobilitas wisata tersebut justru dinikmati oleh negara tujuan.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran badan intelijen negara menjadi semakin penting. Persaingan pariwisata global tidak lagi sekadar persoalan promosi destinasi, tetapi telah berkembang menjadi arena persaingan ekonomi strategis.

Intelijen negara dapat berperan dalam menganalisis dampak konflik global terhadap mobilitas wisata dunia, memantau strategi negara lain dalam menarik wisatawan Indonesia, serta mengidentifikasi peluang pasar wisata baru bagi Indonesia.

Melalui pendekatan intelijen ekonomi, pemerintah dapat merumuskan kebijakan pariwisata yang lebih adaptif dan berbasis informasi strategis.

Konsep ini juga sejalan dengan gagasan ketahanan pariwisata yang menjadi fokus penelitian dalam disertasi Febby Dt. Bangso mengenai Ketahanan Pariwisata pada Masa Krisis: Studi Adaptasi dan Keberlanjutan di Provinsi Bali.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan pariwisata sangat dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi kebijakan pemerintah, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta diversifikasi pasar wisata.

Pengalaman Bali memperlihatkan bahwa sebuah destinasi wisata dapat bertahan menghadapi berbagai krisis global—mulai dari bencana alam, pandemi, hingga dinamika geopolitik internasional—melalui strategi adaptasi yang tepat.

Oleh karena itu, penguatan pariwisata domestik, diversifikasi pasar wisata mancanegara, pembangunan sistem tourism intelligence, serta keterlibatan badan intelijen negara dalam membaca dinamika global menjadi langkah strategis bagi Indonesia.

Dalam era persaingan geopolitik ekonomi yang semakin kompleks, pariwisata tidak lagi sekadar industri rekreasi. Ia telah menjadi bagian dari kekuatan ekonomi strategis suatu negara.

Jika mampu membaca dinamika ini dengan tepat, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar wisata regional, tetapi berpotensi berkembang sebagai kekuatan pariwisata dunia yang tangguh dan berkelanjutan. (*)

Exit mobile version